Senin, 05 Oktober 2026
Menu

Ketika AI Makin Pintar Bikin Internet Meredup, Bagaimana Eksistensi Portal?

Redaksi
Kemal H Simanjuntak Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK). | Dok Ist
Kemal H Simanjuntak Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK). | Dok Ist
Bagikan:

Kemal H Simanjuntak Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)

FORUM KEADILAN – Pernah merasa nggak kalau internet sekarang rasanya beda banget dibanding dulu? Kalau dulu kita googling cari sesuatu, kita bakal dikasih deretan link buat diklik dan dibaca langsung dari situs aslinya. Nah, sekarang tinggal tanya, si robot AI langsung kasih rangkuman jawabannya di tempat tanpa perlu repot buka website mana pun. Kedengarannya memang enak dan praktis banget, kan? Tapi tunggu dulu, justru di situlah masalah besarnya dimulai.

Hal inilah yang baru saja disentil dengan cukup keras oleh jurnalis penerima Nobel Perdamaian 2021, Maria Ressa. Masalahnya berada pada perusahaan-perusahaan teknologi raksasa yang memakai berita dan tulisan hasil liputan wartawan untuk melatih sistem AI mereka. Tapi, ketika pengguna menari informasi, AI hanya memberikan sari patinya saja tanpa mengarahkan orang buat mampir ke situs berita aslinya. Efek yang diberikan pun nggak main-main, kunjungan ke portal berita anjlok sampai 75 hingga 80 persen di seluruh dunia, dan sistem bisnis iklan yang selama ini jadi napas dapur redaksi langsung mati suri.

Kondisi seperti ini jelas tidak adil. Nilai perusahaan AI melejit miliaran dolar berkat rangkuman data itu, sementara wartawan yang capek-capek turun ke lapangan, melakukan verifikasi data, bahkan bertarung nyawa, malah tidak mendapatkan apa-apa. Jika media akhirnya terpaksa bikin langganan berbayar hanya dapat bertahan hidup, tebak siapa yang paling kena imbasnya? Ya, masyarakat kecil yang justru paling membutuhkan informasi valid tetapi tidak memiliki uang lebih untuk bayar langganan berita.

Masa depan internet kita menjadi taruhannya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa lebih dari separuh trafik internet hari ini bukan lagi manusia asli, melainkan bot atau mesin. Ruang internet yang benar-benar terbuka sekarang dan hanya sisa sekitar 25 persen, sisanya sudah dikurung rapat di dalam media sosial dan sistem AI raksasa. Bila internet semakin penuh dengan konten daur ulang robot (AI slop) dan media kredibel pada gulung tikar, lambat laun AI hanya akan makan dan mengolah sampah yang dibikin oleh mesin itu sendiri.

Pada akhirnya, ini bukan lagi sekedar mengenai teknologi yang semakin canggih, tetapi mengenai apa yang rela kita korbankan demi menjaga kebenaran. Mendukung media independen tersebut bukan Cuma urusan membela wartawan, tetapi cara kita untuk menyelamatkan fondasi demokrasi, kesehatan, hingga sains. Kalau kita semua hanya diam dan terima beres, siap-siap saja internet masa depan hanya akan diisi ilusi jawaban instan tanpa ada lagi fakta nyata di dalamnya. *