Jumat, 25 September 2026
Menu

BI Soroti Kerugian Serangan Siber di Indonesia Capai Rp110,93 T pada 2026

Redaksi
Gubernur BI Destry Damayanti. | YouTube Bank Indonesia
Gubernur BI Destry Damayanti. | YouTube Bank Indonesia
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Bank Indonesia (BI) menyoroti kerugian akibat serangan siber di Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar USD6,2 miliar atau senilai Rp110,93 triliun (asumsi kurs Rp17.892 per dolar AS) pada 2026.

Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa pesatnya adopsi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dan otomatisasi juga meningkatkan risiko serangan siber, penyalahgunaan data, penipuan (fraud), hingga penipuan daring (scam).

“Pesatnya adopsi AI dan otomatisasi yang sekarang ini terjadi itu juga meningkatkan risiko cyber, penyalahgunaan data, serta fraud dan juga scam,” ujar Destry dalam acara FEKDI x IFSE 2026 di JICC Senayan, Jakarta, Kamis, 24/9/2026.

“Pada tahun 2026 saja diperkirakan kerugian karena serangan cyber di Indonesia itu mencapai sekitar USD6,2 miliar. Kami ambil datanya ini dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet dan statistik di Indonesia,” tambahnya.

Menurutnya, peningkatan risiko itu membuat keamanan sistem pembayaran dan perlindungan konsumen menjadi hal yang perlu terus diperkuat seiring dengan perkembangan teknologi digital.

“Oleh karena itu Bank Indonesia bersama industri dan kementerian/lembaga (K/L) harus terus memperkuat sinergi kebijakan sistem pembayaran yang aman serta berorientasi pada perlindungan konsumen,” tuturnya.

Destry menegaskan BI mempunyai mandat untuk menciptakan dan mengembangkan sistem pembayaran yang aman, termasuk ekosistem yang mendukungnya.

“Kami tentunya mendapatkan mandat bagaimana kita menciptakan dan mengembangkan sistem pembayaran yang aman. Tentu menjadi tugas kami untuk menciptakan sistem pembayaran yang termasuk dengan ekosistemnya yang tentunya andal dan aman dan juga bisa dipercaya oleh pengguna,” tandasnya. *