Pengamat Menyayangkan Pernyataan Soal Londo Ireng, Harap Prabowo Beri Klarifikasi dan Minta Maaf
FORUM KEADILAN – Pengamat Politik dari Sosialis Demokratik Eza Markonah mengkritik Presiden Prabowo Subianto yang menyebut wartawan sebagai londo ireng. Menurutnya, ungkapan Prabowo tersebut membuat rakyat tidak senang, bahkan tak sejalan dengan kebebasan pers.
“Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut sebagian wartawan sebagai ‘londo ireng’ merupakan ucapan yang sangat disayangkan dan tidak sejalan dengan semangat demokrasi serta kebebasan pers,” ujar Eza Markonah kepada Forum Keadilan, Rabu, 12/8/2026.
Ia pun menekankan bahwa insan pers perlu menyampaikan keberatannya atas penyataan Prabowo tersebut. Menurut Eza, istilah tersebut merendahkan wartawan dan tak semestinya keluar dari mulut seorang Kepala Negara.
“Sebagai insan pers, kita perlu menyampaikan keberatan atas pernyataan tersebut. Istilah yang bernuansa merendahkan terhadap wartawan tidak semestinya keluar dari seorang Kepala Negara, mengingat pers memiliki peran penting sebagai pilar demokrasi dan mitra kritis pemerintah dalam menjalankan fungsi kontrol publik,” kata dia.
Eza menyebut bahwa memang penting memahami konteks di balik pernyataan tersebut dan juga yang melatarbelakanginya. Namun ia menilai, penggunaan diksi tersebut perlu dievaluasi karena berpotensi mencederai hubungan antara pemerintah dengan insan pers.
“Penting untuk memahami konteks di balik pernyataan tersebut, termasuk apa yang melatarbelakangi Presiden menyampaikan istilah itu. Namun, apa pun konteksnya, penggunaan diksi yang berpotensi merendahkan profesi wartawan tetap perlu dievaluasi karena dapat mencederai hubungan antara pemerintah dan insan pers,” ujar dia.
Ia pun berhadap agar Prabowo memberikan klarifikasi dan permintaan maaf atas pernyataannya tersebut. Sebab menurutnya, sikap terbuka seperti itu nantinya akan memperkuat kepercayaan publik.
“Saya berharap Presiden Prabowo dapat memberikan klarifikasi dan bila diperlukan menyampaikan permintaan maaf atas pernyataan tersebut. Sikap terbuka dari seorang pemimpin justru akan memperkuat kepercayaan publik,” tuturnya.
Terakhir, ia juga berharap agar para pembantu Presiden, khususnya tim komunikasi, harus memberikan masukan dalam penyusunan pidato maupun pernyataan publik. Hal ini dilakukan supaya semua pesan yang disampaikan Presiden mencerminkan nilai kepemimpinan yang humanis dan menghargai demokrasi.
“Ke depan, para pembantu dan tim komunikasi Presiden juga perlu memberikan masukan yang lebih matang dalam penyusunan pidato maupun pernyataan publik, agar setiap pesan yang disampaikan mencerminkan nilai kepemimpinan yang humanis, menghargai demokrasi, serta menjunjung tinggi kebebasan pers,” pungkasnya.
Diketahui, Presiden Prabowo Subianto melontarkan sindiran terhadap beberapa pihak, termasuk jurnalis, pengamat, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang dinilainya terus menyebar narasi pesimistis mengenai kondisi Indonesia.
Dalam pidatonya di acara Harlah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di JCC Senayan, pada Kamis, 23 Juli malam, Prabowo menyebut mereka sebagai kelompok yang seolah lebih berpihak kepada kepentingan asing daripada bangsa sendiri.
Prabowo pun menyebut “londo ireng” kepada pihak-pihak yang sering memberikan kritik dan mencari-cari kesalahan pemerintah.
“Kita negara demokrasi. Kita tidak anti kritik. Tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng, ya. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM,” jelas Prabowo.
Kepala Negara itu menilai, narasi Indonesia akan kolaps yang berulang kali dimunculkan oleh pihak-pihak itu sebagai upaya yang tidak nasionalis.
Prabowo secara khusus menyinggung transparansi dan integritas LSM yang selama ini sering melayangkan kritik kepada pemerintah. Ia mempertanyakan motif di balik kritik yang dinilainya bertujuan untuk menggoyahkan kepercayaan publik terhadap negara.
Prabowo menegaskan bahwa pemerintah sangat sadar akan adanya pihak yang mempunyai agenda terselubung.
“LSM harus kita tanya. Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrik lo siapa? Yang bayar handphone lo siapa? Cari kerjaan susah, kita tahu kan,” tegasnya.
Prabowo mengungkapkan rasa geramnya karena setiap bulan selalu muncul prediksi bahwa Indonesia akan mengalami keruntuhan. Tetapi kenyataannya, prediksi tersebut selalu meleset.
“Jadi saudara-saudara, kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan kolaps. Bulan April akan kolaps. Eh April lewat, enggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps. Bulan Mei lewat, enggak. Bulan Juni akan kolaps. Bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps,” jelasnya.
Prabowo menyayangkan adanya media massa yang dinilainya tidak objektif dalam memberitakan keberhasilan pemerintah.
Ia mencontohkan, ketika pemerintah sudah memperbaiki puluhan ribu sekolah yang rusak, media itu justru mencari sekolah yang belum tersentuh perbaikan untuk dijadikan sorotan utama.
“Ada juga media-media yang, ya kan, walaupun kita sudah perbaiki 27 ribu sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia taruh di halaman pertama. Dia kira kita enggak ngerti,” sambungnya.
Prabowo menganalogikan sikap para pengkritik ini seperti pendukung yang justru menjatuhkan mental tim kebanggaannya sendiri saat sedang berlaga di lapangan. Ia merasa heran dengan pihak-pihak yang tidak memberikan dukungan moral bagi kemajuan bangsa.
“Saudara-saudara, kalau kita cinta sama satu kesebelasan, umpamanya dia lagi bertanding di lapangan, kita kan sebagai suporter, ‘ayo, ayo, maju.’ Tapi jangan turunkan moral dong orang lagi bertanding di situ. Nanti kamu kalah. Ini suporter macam apa? Gendeng,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup diri terhadap kritik. Bagi Prabowo, kritik yang konstruktif adalah bagian dari proses demokrasi yang sehat. Tetapi, ia membedakan secara tegas antara kritik yang bersifat memperbaiki dengan caci maki atau fitnah yang bertujuan melemahkan kedaulatan bangsa.
“Kritik itu menyelamatkan. Tapi ada beda kritik dan caci maki. Kritik dengan fitnah itu beda. Itu benar enggak? Tapi enggak ada masalah. Tidak ada masalah. Kalau kita benar, kalau kita berada di jalan yang benar, kita terus akan kuat,” pungkasnya.*
Oleh: Francoiz Nathanael
