Pesta Babi di Tengah Kemiskinan, Siapa Yang Sesungguhnya Sedang Berpesta di Papua Tengah?
Tri Puspital, S.Sos, CPA
Aktivis Buruh Senior
FORUM KEADILAN – Papua Tengah adalah paradoks yang sulit dibantah, di atas tanah yang menyimpan salah satu cadangan mineral terbesar di dunia, kemiskinan masih menjadi wajah sehari-hari sebagian rakyat.
Di wilayah yang setiap tahun menjadi tujuan investasi bernilai triliunan rupiah, masih ada kampung yang berjuang mendapatkan akses pendidikan, layanan kesehatan, dan infrastruktur dasar.
Di sinilah pertanyaan itu menemukan relevansinya, siapa yang sesungguhnya sedang berpesta di Papua Tengah?
Dalam tradisi masyarakat Papua, pesta babi bukan sekadar acara makan bersama. Tetapi merupakan simbol distribusi kehormatan, solidaritas sosial, dan pembagian kesejahteraan kepada komunitas.
Semakin besar pesta, semakin besar pula kewajiban berbagi.
Filosofinya sederhana, tidak ada kemuliaan tanpa kebersamaan. Namun, ketika filosofi itu dipindahkan ke ruang publik dan tata kelola pemerintahan, muncul ironi yang sulit diabaikan.
Papua Tengah terus mencatat pertumbuhan investasi, peningkatan belanja pemerintah, dan eksploitasi sumber daya alam yang masif. Tetapi, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Data pembangunan boleh menunjukkan tren positif. Angka-angka makroekonomi boleh terlihat menjanjikan. Tetapi bagi rakyat di kampung-kampung, ukuran kemajuan jauh lebih sederhana.
Apakah anak mereka dapat bersekolah dengan layak? Apakah puskesmas memiliki tenaga kesehatan yang memadai? Apakah jalan yang dibangun benar-benar menghubungkan rakyat dengan peluang ekonomi?
Apakah masyarakat adat memperoleh manfaat yang setara dari kekayaan yang keluar dari tanah ulayat mereka?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak pernah terjawab, hanya ada laporan yang menampilkan serapan anggaran atau pidato pembangunan.
Pancasila sesungguhnya telah memberikan arah yang jelas. Sila Kelima tidak sekedar berbicara tentang akumulasi kekayaan tetapi juga mengenai distribusi keadilan. Tentang bagaimana hasil pembangunan harus dirasakan oleh seluruh rakyat, bukan hanya kelompok yang berada di sekitar pusat kekuasaan.
Karena itu, isu terbesar Papua Tengah hari ini bukan semata-mata pertumbuhan ekonomi. Tetapi, persoalan utamanya adalah pemerataan manfaat pembangunan.
Ketika investasi tumbuh tetapi pengangguran tetap tinggi, muncul pertanyaan tentang kualitas pembangunan. Kekayaan alam terus diekstraksi tetapi kemiskinan belum beranjak signifikan, timbul pertanyaan tentang keadilan distribusi.
Pada saat masyarakat adat masih berjuang mempertahankan hak-haknya, juga memunculkan pertanyaan tentang keberpihakan negara.
Dalam konteks inilah metafora “pesta babi” menjadi relevan. Jika pesta adat mengajarkan berbagi, maka pembangunan semestinya juga bekerja dengan prinsip yang sama.
Hasil kekayaan daerah harus kembali kepada rakyat dalam bentuk pendidikan yang lebih baik, pelayanan kesehatan yang berkualitas, lapangan kerja yang layak, perlindungan hak masyarakat adat, dan infrastruktur yang menjangkau seluruh wilayah.
Tanpa itu semua, pembangunan berisiko menjadi pesta yang hanya dinikmati oleh segelintir orang.
Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momentum evaluasi dan bukan sekadar seremoni tahunan yang dipenuhi slogan, melainkan kesempatan untuk menilai apakah arah pembangunan telah benar-benar sejalan dengan amanat konstitusi.
Sebab pada akhirnya, keberhasilan Papua Tengah tidak akan diukur dari besarnya investasi atau tingginya angka pertumbuhan ekonomi semata.
Keberhasilannya akan diukur dari seberapa banyak rakyat yang ikut menikmati hasil pembangunan tersebut. Selama masih ada kesenjangan yang lebar antara kekayaan alam dan kesejahteraan rakyat, pertanyaan itu akan terus bergema.
Di tengah kekayaan Papua Tengah, siapa yang sebenarnya sedang berpesta? *
