Selamat Jalan Bung Rocky & Syahganda, Keabadian Hanya Milik Tuhan Semata
Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra MBA
Praktisi Intelijen
FORUM KEADILAN – Untuk sebuah kesetiaan, cinta, kebersamaan dan persaudaraan, kadang manusia menuntut keabadian. Mereka lupa bahwa abadi itu milik Tuhan semata. Apa yang terjadi di dunia ini selalu datang dan pergi, timbul dan tenggelam, keluar dan masuk, termasuk tentang dinamika politik di negeri ini. Kadang kita seiring sejalan di posisi yang sama, kadang dalam waktu sekejap, kita sudah berada di tempat berbeda dan juga berbeda orientasi politiknya. Bahkan, dalam politik dihalalkan untuk melakukan akrobatik politik, karena kehidupan politik di negeri ini, layaknya bak pertunjukan sirkus. Ada yang saling melompat dari satu sisi ke sisi lain, ada yang bermain dengan binatang buas, dan ada pula yang memerankan sosok badut. Begitulah politik di negeri ini, berganti partai atau berganti loyalitas karena berbagai pertimbangan, ada tokoh yang piawai menjinakkan para oposisi galak dan ada yang memainkan komedi politik.
Potret politik terkini menampilkan sosok kritikus papan atas Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan, berlenggang masuk Istana Presiden untuk mengikuti pelantikan pejabat negara. Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), sedangkan Syahganda Nainggolan sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintahan Republik Indonesia (Bakom RI). Rasanya tidak ada yang salah ketika Presiden Prabowo Subianto menaruh kepercayaan kepada Rocky dan Syahganda lanaran kemampuan mereka untuk menempati posisi tersebut. Tapi mengapa kemudian netizen memborbardir Rocky dan Syahganda dengan berbagai tudingan kurang sedap. Sebaliknya, mengapa netizen sama sekali tidak mempersoalkan nama-nama lain yang ditunjuk pada posisi Wantimpres, sekalipun publik mengetahui kualitas mereka banyak yang tidak memadai.
Apa yang sesungguhnya memicu publik menuding Rocky dan Syahganda dengan pernyataan yang keras, bahkan tidak sedikit yang mengeluarkan kecaman bernada “membully”? Tampaknya bukan karena background Rocky yang kerap melontarkan kritik keras terhadap pemerintah atau sebagai sosok yang oleh netizen mendapat label “No Rocky No Party”. Untuk mencermati secara bijak “serangan publik” terhadap Rocky, mungkin dibutuhkan rujukan dengan pendekatan etika modern yang tuntutan akan nilai keselarasannya sangat tinggi. Dengan kata lain, etika modern menjunjung tinggi nilai Ethic of Authenticity. Ketika seseorang atau sebuah institusi (seperti korporasi atau pemerintah) mengatakan sesuatu tetapi melakukan hal yang berbeda, mereka dianggap tidak otentik. Di mata masyarakat modern, ketidakjujuran terhadap diri sendiri dan orang lain ini dianggap sebagai kegagalan moral yang serius, karena berpotensi merusak prinsip transparansi. Dalam etika modern, muncul fenomena virtue signaling—yaitu kondisi ketika seseorang atau organisasi mengekspresikan pandangan moral secara vokal (biasanya di media sosial) hanya untuk membangun citra baik, tanpa ada tindakan nyata yang mendukungnya. Etika modern memandang hal ini sebagai komodifikasi moral, di mana nilai-nilai etis hanya dijadikan alat pemasaran atau pemuas ego sesaat tanpa komitmen moral yang substansial.
Etika modern memandang keselarasan antara ucapan dan tindakan sebagai fondasi integritas. Di dunia yang makin transparan, ketidakselarasan bukan lagi sekadar cacat karakter pribadi, melainkan ancaman nyata bagi kredibilitas sosial dan profesionalisme seseorang. Etika kepemimpinan di Indonesia dinilai sedang menghadapi krisis ketidakselarasan yang cukup akut. Fenomena ini dikatakan sebagai “degradasi moral” atau “skandal etika” dalam penyelenggaraan negara. Ketidakselarasan antara narasi formal (seperti janji kampanye, komitmen anti-korupsi, dan nilai-nilai Pancasila) dengan realitas tindakan di lapangan menjadi indikator utamanya. Banyak analisis menunjukkan bahwa masalah kepemimpinan nasional bukan terletak pada kapasitas intelektual, melainkan pada krisis karakter. Pemimpin berpendidikan tinggi melimpah, namun mereka yang mampu mempraktikkan micro-integrity—menolak gratifikasi, bersikap transparan, dan berani konsisten demi kebaikan bersama (bonum commune)—masih sangat langka di level struktural.
Kemarahan publik terhadap Rocky dan Syahganda ternyata bukan karena mereka sebelumnya berada pada kolam oposisi, tetapi ketika keduanya menerima jabatan dan masuk dalam level struktural kekuasaan negara, publik memandang mereka telah menabrak rambu-rambu etika modern yang menjunjung tinggi nilai Ethic of Authenticity, atau kalau meminjam kosakata Gen Z yang berakar dari budaya internet adalah fake deep. Dunia memang tidak ajarkan keabadian, karena hal itu milik Tuhan semata. Bagi Rocky dan Syahganda, perjuangan menegakkan pemerintahan yang bersih tidak harus selalu menjadi oposisi, tetapi perlu masuk ke dalam struktur pemerintahan. Tetapi bagi publik, menjunjung tinggi etika modern dan berani konsisten demi kebaikan bersama (bonum commune) adalah harga mati.
Selamat jalan Bung Rocky dan Syahganda, jangan lupa kirimkan kabar tentang apa yang terjadi disana.*
