Ekonomi Membesar, Kedaulatan Menyempit: Perspektif GRC
Kemal H Simanjuntak Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)
FORUM KEADILAN – Pertumbuhan ekonomi selalu terdengar seperti kabar baik. Investasi masuk, pabrik berdiri, jalan tol memanjang, angka PDB naik. Namun dari kacamata tata kelola dan manajemen risiko, ada pertanyaan yang lebih menentukan yaitu ketika ekonomi membesar, apakah negara makin berdaulat, atau justru makin bergantung?
Mari diluruskan dulu bahwa modal asing bukan musuh, utang bukan dosa, teknologi dari luar bukan barang haram. Semuanya bahan bakar pembangunan. Masalahnya, bahan bakar yang tidak dikelola bisa membakar mesinnya sendiri.
Mengambil contoh uang panas. Modal portofolio datang karena imbal hasil menarik dan pergi secepat risiko berubah. Menyambutnya dengan tepuk tangan tanpa rem pengaman sama seperti membangun rumah di pasir pantai karena pemandangannya bagus. Ukuran keberhasilan bukan seberapa banyak uang masuk, melainkan seberapa lama bertahan dan seberapa produktif jejak yang ditinggalkan.
Utang pun begitu. Utang untuk industri, infrastruktur, dan lapangan kerja adalah investasi. Tetapi jika utang baru terus dibutuhkan hanya untuk menjaga pertumbuhan lama, itu bukan strategi, melainkan kecanduan. Dalam manajemen risiko, itulah lampu merah yang tidak boleh dibiarkan menyala sambil pura-pura menganggapnya lampu hias.
Lalu sekarang soal siapa yang menikmati hasilnya. Ketika pembangunan menaikkan harga tanah, saham, dan perusahaan, pemilik aset panen lebih besar, sementara pekerja bergantung pada upah yang naik pelan. Orang kaya bukan masalahnya. Masalahnya muncul ketika pintu kepemilikan aset, peningkatan keterampilan, dan akses pada hasil pertumbuhan tidak ikut melebar. Pertumbuhan yang hanya dinikmati segelintir orang rapuh, secara sosial maupun politik.
Maka berhentilah bertanya hanya soal berapa persen ekonomi tumbuh. Tanyakan juga tentang seberapa banyak kemampuan dalam negeri yang terbentuk? Apakah kita makin menguasai teknologi, atau sekadar jadi pengguna setia? Apakah riset dan rekayasa tumbuh? Apakah ekspor meninggalkan nilai tambah di dalam negeri, atau hanya mengirim bahan mentah dengan kemasan lebih rapi? Apakah tabungan dan kapasitas fiskal kita makin kokoh?
Di sinilah tata kelola berperan. Kedaulatan tidak lahir dari pidato, tetapi dari aturan main yang jelas, pengawasan yang berjalan, tanggung jawab yang bisa ditagih, dan batas toleransi risiko yang berani ditetapkan. Terlalu bergantung pada satu sumber modal, satu pemasok teknologi, atau satu pasar ekspor adalah risiko yang seharusnya diukur dan diantisipasi sebelum krisis datang, bukan dijelaskan setelahnya.
Negara berdaulat bukan negara yang tidak butuh dunia. Itu mustahil. Negara berdaulat adalah negara yang punya pilihan dan bisa memilih modal, memilih teknologi, menentukan kapan berutang, dan berani berkata tidak ketika tawaran luar tak lagi menguntungkan.
Karena itu, tujuan pembangunan bukan sekadar membuat ekonomi lebih besar, melainkan membuat kemampuan sendiri lebih kuat. Pertanyaan terpentingnya adalah siapa yang menguasai modal, teknologi, dan keahlian yang membuat ekonomi ini terus tumbuh?
Jangan sampai kita sibuk menghitung jauhnya perjalanan, tetapi lupa bertanya apakah setiap kilometer membuat kita makin sanggup berjalan dengan kaki sendiri. *
