Sabtu, 22 Agustus 2026
Menu

Kalimantan Barat Jadi Provinsi Karhutla Terbesar Sepanjang Januari-Juni 2026

Redaksi
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan. | Kementerian Perhutanan RI
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan. | Kementerian Perhutanan RI
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi provinsi dengan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbesar secara nasional sepanjang Januari-Juni 2026.

Kalbar mencatatkan jumlah titik panas (hotspot) tertinggi dibandingkan dua provinsi lain di Kalimantan pada 17-19 Agustus 2026.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan pada Senin, 17/8/2026, total luas karhutla secara nasional selama Januari-Juni 2026 mencapai 107.465,47 hektar.

Dari jumlah tersebut, Kalbar menempati posisi teratas dengan luas kebakaran mencapai 28.680,47 hektar.

Posisi ini ditempati oleh Riau seluas 15.477,95 hektar, disusul Nusa Tenggara Timur 10.538,30 hektar, Maluku 7.091,07 hektar, dan Papua Selatan 6.281,81 hektar.

Sementara itu, di Kalimantan Selatan (Kalsel), luar karhutla sepanjang Januari-Juni 2026 tercatat jauh lebih kecil, yaitu 383,07 hektar, dengan rincian 29,44 hektar adalah lahan gambut dan 353,63 hektar lahan mineral.

Pemantauan hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang hingga tinggi di provinsi ini juga mendeteksi 177 titik panas yang tersebar di berbagai wilayah. Walaupun demikian kondisi kualitas udara di Kalsel hingga pertengahan Juli 2026 masih tergolong terkendali.

Kemenhut menegaskan bahwa hotspot kategori high confidence menunjukkan tingkat keyakinan deteksi yang tinggi terhadap adnaya anomali panas di suatu wilayah.

Walaupun demikian, jumlah hotspot tidak selalu mencerminkan jumlah kejadian kebakaran secara riil karena satu kejadian kebakaran berpotensi terdeteksi menjadi beberapa hotspot sekaligus.

Oleh karena demikian, setiap data yang muncul tetap harus diverifikasi melalui pengecekan lapangan untuk dapat memastikan kondisi, lokasi, penyebab, dan luas area yang benar-benar terbakar.

Tingginya angka hotspot juga tidak otomatis menggambarkan tingkat kepekatan asap di suatu lokasi. Sebaran asap dipengaruhi oleh banyaknya faktor, mulai dari lokasi kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan udara, kondisi atmosfer, karakteristik lahan, hingga akumulasi asap dari berbagai wilayah sekaligus.

Sebaran asap dipengaruhi banyak faktor, mulai dari lokasi kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan udara, kondisi atmosfer, karakteristik lahan, hingga akumulasi asap dari berbagai wilayah sekaligus.

Data hotspot perlu dikombenasikan dengan data meteorologi, kualitas udara, citra sebaran asap, hingga laporan langsung dari lapangan. *