Menggigit Tangan Sendiri: Anatomi Pengkhianatan Elit di Tengah Krisis
Kemal H Simanjuntak
Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)
FORUM KEADILAN – Di balik megahnya cakrawala kota dan klaim-klaim “fundamental ekonomi yang kuat”, seringkali ada keropos yang tak terlihat.
Kita kerap terjebak pada narasi bahwa krisis nasional adalah badai yang datang tiba-tiba dari luar, sebuah nasib buruk yang menimpa negara.
Namun, sejarah menunjukkan kebenaran yang jauh lebih getir— kehancuran sebuah bangsa sering kali bukan disebabkan oleh “angin badai” eksternal, melainkan karena tiang-tiang negara telah digergaji dari dalam oleh mereka yang seharusnya menjaganya.
Melihat kembali pengalaman masa lalu, kita disadarkan bahwa keruntuhan sistemik adalah sebuah proses pelarian terencana. Ketika para elit—baik itu pengusaha yang menikmati konsesi negara maupun pemegang kebijakan—mulai mencium aroma ketidakstabilan, mereka tidak sedang berupaya memperbaiki kapal yang retak.
Sebaliknya, mereka justru sedang berebut sekoci paling depan.
Ada sebuah pola yang berulang dalam setiap krisis. Di saat narasi resmi pemerintah sedang sibuk meyakinkan publik bahwa kondisi ekonomi aman terkendali, para pemilik modal besar dan pembuat kebijakan sudah terlebih dahulu melakukan langkah mitigasi pribadi.
Mereka memindahkan kekayaan ke luar negeri, mengubah aset menjadi mata uang asing, dan menutup posisi investasi.
Ini bukan sekadar manajemen risiko, ini adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan publik. Ketika para pemain utama dalam sistem ekonomi mulai angkat kaki, mereka secara otomatis menciptakan self-fulfilling prophecy atau ramalan yang mewujudkannya sendiri.
Kepanikan yang mereka picu secara diam-diam inilah yang akhirnya meruntuhkan fondasi yang mereka bangun sendiri.
Ironi terbesarnya terletak pada beban krisis. Dalam ekonomi yang bersifat kroni, keuntungan selalu diprivatisasi oleh segelintir elit, namun kerugian selalu disosialisasikan kepada rakyat banyak.
Saat tiang-tiang itu akhirnya roboh, masyarakat kelas bawah dan menengah harus membayar harganya melalui inflasi yang mencekik, hilangnya lapangan kerja, dan ambruknya daya beli.
Sementara itu, mereka yang memegang linggis untuk mendobrak pintu keluar sudah lama melenggang pergi dengan selamat.
Krisis 1997 adalah sebuah pengingat abadi bahwa kekuatan sebuah negara tidak ditentukan oleh berapa banyak gedung pencakar langit yang dibangun, atau seberapa indah data statistik yang dipaparkan di televisi.
Kekuatan negara sesungguhnya terletak pada integritas institusi dan komitmen moral para aktor di dalamnya. Jika para penjaga rumah lebih sibuk mengumpulkan bekal untuk kabur daripada memperkuat fondasi bangunan, maka tinggal menunggu waktu sebelum struktur itu ambruk menimpa siapapun yang masih tertidur di dalamnya.
Pertanyaan kritis yang harus kita ajukan hari ini, di tengah riuhnya narasi pembangunan dan pertumbuhan, bukan hanya sekadar seberapa besar ekonomi kita tumbuh, melainkan seberapa kuat fondasi yang kita bangun?.
Apakah kita sedang memperkuat tiang-tiang bangsa ini dengan institusi yang inklusif dan adil, ataukah kita sedang membiarkan “tiang-tiang kardus” yang dipoles marmer kembali digergaji dari dalam?
Sejarah selalu memberikan peringatan melalui kesunyian. Pergerakan modal yang masif dan perubahan perilaku para elit biasanya terjadi jauh sebelum pengunjuk rasa pertama turun ke jalan atau sebelum nilai tukar benar-benar hancur.
Bagi mereka yang mau membaca, tanda-tanda itu selalu ada.
Sudah saatnya kita berhenti mempercayai narasi fundamental kuat tanpa mempertanyakan siapa yang memegang kendali atas fondasi tersebut.
Sebab pada akhirnya, krisis bukan tentang siapa yang salah, melainkan tentang apakah kita masih memiliki bangsa yang berdiri saat badai itu benar-benar menerjang.
Jangan sampai kita menjadi bangsa yang terus-menerus membangun rumah di atas tanah yang sedang digergaji oleh penghuninya sendiri. *
