Menjaga Ikon yang Kian Terpinggirkan: Kisah KOODJA Merawat Ondel-Ondel di Tengah Arus Zaman
FORUM KEADILAN – Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang terus berubah, sosok ondel-ondel masih kerap muncul di sudut-sudut jalan ibu kota. Namun bagi sebagian masyarakat, kehadiran boneka raksasa khas Betawi itu kini lebih sering diasosiasikan dengan pengamen jalanan ketimbang simbol budaya yang sarat makna.
Pandangan itulah yang menjadi kegelisahan Achmad Syaugie, atau yang akrab disapa Bang Yogie, Ketua Komunitas Ondel-Ondel DKI Jakarta (KOODJA). Baginya, ondel-ondel bukan sekadar properti hiburan yang bisa dibawa berkeliling demi mendapatkan uang receh. Ondel-ondel adalah ikon utama budaya Betawi yang harus dijaga martabat dan kelestariannya.
“Ondel-ondel itu ikon Betawi nomor satu. Kalau ikon ini tidak kita jaga, lalu siapa lagi?” ujar Bang Yogie saat ditemui Forum Keadilan di basecamp KOODJA, kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin, 1/6/2026.
Berawal dari Arisan Para Ketua Sanggar
KOODJA lahir bukan dari ruang rapat pemerintah atau program kebudayaan formal. Organisasi ini bermula dari kebiasaan sederhana para ketua sanggar ondel-ondel yang rutin berkumpul dalam sebuah arisan.
Pada 29 Agustus 2018, para pelaku seni ondel-ondel dari berbagai wilayah Jakarta membentuk sebuah perkumpulan bernama “Kongkow”. Tujuannya sederhana: mempererat silaturahmi, menjaga kekompakan, dan memperkuat rasa kekeluargaan antar-sanggar.
Seiring berjalannya waktu, perkumpulan tersebut mengalami berbagai dinamika internal. Saat itu Bang Yogie masih menjabat sebagai penasihat. Namun melalui mekanisme pemilihan ulang, ia akhirnya dipercaya menjadi ketua pada akhir 2018.
Di bawah kepemimpinannya, organisasi mulai berbenah dan memperluas jaringan kerja sama dengan berbagai pihak.
Kini KOODJA menjadi wadah bagi sekitar 20 sanggar ondel-ondel yang tersebar di wilayah DKI Jakarta.
Ondel-Ondel Bukan Sekadar Boneka Raksasa
Bagi masyarakat awam, ondel-ondel mungkin hanya dipahami sebagai boneka besar berwajah merah dan putih yang tampil dalam berbagai perayaan. Namun dalam pandangan Bang Yogie, makna ondel-ondel jauh melampaui bentuk fisiknya.
Ia menyebut ondel-ondel sebagai simbol identitas budaya Betawi yang telah diakui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai ikon daerah.
Oleh karena itu menurutnya, pelestarian ondel-ondel tidak boleh hanya dibebankan kepada para seniman dan pemilik sanggar.
“Masyarakat juga bisa ikut melestarikan budaya. Salah satunya dengan menyebarkan informasi yang benar tentang ondel-ondel melalui media sosial,” katanya.
Di era digital saat ini, ia melihat media sosial dapat menjadi sarana penting untuk mengenalkan sejarah, filosofi, dan praktik budaya ondel-ondel kepada generasi muda.
Krisis Regenerasi
Meski masih menjadi ikon budaya Jakarta, Bang Yogie mengakui minat generasi muda terhadap ondel-ondel terus menurun. Fenomena itu, menurutnya, tidak hanya terjadi pada kesenian ondel-ondel, tetapi juga berbagai kesenian Betawi lainnya seperti silat, tari tradisional, hingga gambang kromong.
“Anak-anak sekarang lebih nyaman dengan gadget. Kepedulian terhadap budaya sudah jauh berkurang,” ujarnya.
Ia bahkan mengaku hampir tidak pernah menerima permintaan dari anak muda yang ingin belajar menjadi pemain ondel-ondel, belajar menari di dalam kostum, membuat kembang kelapa, ataupun memainkan alat musik pengiringnya.
Bang Yogie mengatakan, kondisi tersebut berbeda dengan sanggar tari atau sanggar silat yang masih relatif memiliki regenerasi. Menurutnya, situasi ini menjadi alarm bahwa upaya pelestarian budaya membutuhkan pendekatan baru yang lebih mampu menarik minat generasi muda.
“Sampai saat ini belum ada yang menelepon ingin belajar ondel-ondel. Baik belajar ngibing, membuat kembang kelapa, maupun memainkan alat musiknya.” tukasnya.
Polemik Ondel-Ondel Ngamen
Dari berbagai tantangan yang dihadapi, satu persoalan yang paling sering menjadi sorotan adalah fenomena ondel-ondel ngamen.
Menurut Bang Yogie, maraknya ondel-ondel yang berkeliling menggunakan musik rekaman telah memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
“Tantangan terbesar sekarang adalah ondel-ondel dipandang sebelah mata akibat fenomena ondel-ondel ngamen,” katanya.
Namun, ia menegaskan bahwa persoalannya bukan pada aktivitas mengamen itu sendiri. Ia justru mengingatkan bahwa tradisi mengamen dengan ondel-ondel telah berlangsung sejak masa kolonial dan memiliki akar sejarah yang panjang dalam kebudayaan Betawi.
Yang menjadi persoalan adalah ketika praktik tersebut dilakukan tanpa mengikuti pakem kesenian ondel-ondel. Menurutnya, ondel-ondel yang tampil sendirian dengan iringan musik rekaman tidak dapat disamakan dengan tradisi ondel-ondel yang sesungguhnya.
“Kalau ngamen, ya ngamen yang benar. Ondel-ondelnya ada dua, sepasang. Alat musiknya lengkap, ada delapan, seperti gong, tehyan, gendang, dan kecrek, ditambah dua orang pendamping. Jadi, seluruh pemainnya sekitar dua belas orang,” tegasnya.
Model pertunjukan seperti itulah yang menurutnya masih merepresentasikan tradisi lama yang diwariskan turun-temurun.
Jangan Pukul Rata
Meski kerap mengkritik fenomena ondel-ondel ngamen yang menggunakan musik rekaman, Bang Yogie juga menyampaikan kritik kepada pemerintah. Menurutnya, kebijakan penertiban terhadap ondel-ondel selama ini kerap menyamaratakan seluruh kelompok yang tampil di jalan.
Ia menilai, pemerintah perlu membedakan antara ondel-ondel yang menggunakan musik rekaman dengan kelompok ondel-ondel yang masih mempertahankan pakem tradisional menggunakan sepasang ondel-ondel dan alat musik lengkap.
“Kalau yang dilarang ngamen itu yang menggunakan alat musik rekaman. Tapi kalau ondel-ondel sepasang dengan alat musik lengkap, jangan sekali-kali dilarang,” katanya.
Menurut Bang Yogie, praktik mengamen dengan format lengkap justru merupakan bagian dari tradisi lama yang telah hidup dalam kebudayaan Betawi sejak masa kolonial. Karena itu, penertiban yang dilakukan tanpa membedakan keduanya berpotensi merugikan kelompok-kelompok yang masih berupaya mempertahankan bentuk pertunjukan tradisional.
Ia mengaku pernah menyampaikan keberatannya secara langsung kepada sejumlah pejabat daerah setelah menerima laporan adanya penertiban terhadap kelompok ondel-ondel yang tampil dengan alat musik lengkap.
Menurutnya, penertiban tetap dapat dilakukan, namun harus dilakukan secara proporsional dan menghormati nilai budaya yang terkandung dalam kesenian tersebut.
“Jangan disamaratakan. Kalau memang mau menindak, tindak yang menggunakan alat musik rekaman. Jangan yang masih mempertahankan pakem dan tradisinya,” ujarnya.
Membangun Kemitraan dengan Pemerintah
Selain melakukan pembinaan terhadap para sanggar, KOODJA juga aktif membangun hubungan dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Perjalanan itu tidak selalu mulus.
Pada awalnya, proposal yang diajukan organisasi sempat ditolak karena menggunakan nama Komunitas Ondel-Ondel se-Jabodetabek.
Pemerintah menilai, lingkup organisasi tersebut terlalu luas untuk dikaitkan dengan anggaran daerah DKI Jakarta.
Masukan tersebut kemudian menjadi titik balik. Nama organisasi diubah menjadi Komunitas Ondel-Ondel DKI Jakarta atau KOODJA. Setelah itu, komunikasi dengan pemerintah mulai berjalan lebih baik.
Bang Yogie kemudian melakukan audiensi dengan Dinas Kebudayaan dan memperkenalkan para ketua sanggar yang tergabung dalam organisasi tersebut.
Hasilnya mulai terlihat pada 2020 ketika KOODJA memperoleh berbagai kesempatan tampil dalam kegiatan yang diselenggarakan pemerintah daerah.
Menurutnya, hingga kini hubungan dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih berjalan baik meskipun jumlah kegiatan yang diterima para sanggar mengalami penurunan akibat kebijakan efisiensi anggaran.
Menjaga Warisan Bersama
Di akhir perbincangan, Bang Yogie menyampaikan pesan sederhana. Ia berharap masyarakat Jakarta tidak memandang pelestarian budaya sebagai urusan para seniman semata.
Baginya, menjaga ondel-ondel bisa dimulai dari langkah-langkah kecil: mengenal sejarahnya, menyebarkan informasi yang benar, hingga memberikan apresiasi kepada kelompok-kelompok yang masih mempertahankan pertunjukan ondel-ondel sesuai tradisi.
“Ondel-ondel adalah ikon Betawi. Karena itu kita semua punya tanggung jawab untuk menjaganya,” katanya.
Di tengah Jakarta yang terus bergerak menuju modernitas, pesan itu terdengar seperti pengingat bahwa identitas sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung pencakar langit dan jalan tol baru, tetapi juga oleh ingatan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dan bagi Bang Yogie serta para anggota KOODJA, menjaga ondel-ondel berarti menjaga sebagian dari wajah Jakarta itu sendiri.*
Laporan oleh: Muhammad Reza
