Minggu, 01 Maret 2026
Menu

Selamat Ginting Ungkap Dua Tujuan Strategis dari Respons Iran Terhadap Serangan Israel-AS

Redaksi
Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS) Dr. Selamat Ginting dalam Podcast Madilog Forum Keadilan TV | YouTube Forum Keadilan TV
Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS) Dr. Selamat Ginting dalam Podcast Madilog Forum Keadilan TV | YouTube Forum Keadilan TV
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS) Dr. Selamat Ginting membeberkan arti dari respons Teheran terhadap serangan yang dilakukan oleh Israel-Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran.

Diketahui, serangan Israel-AS tersebut terjadi pada Sabtu, 28/2/2026 siang waktu Indonesia.

Menurut Ginting, jika serangan awal Israel-AS disebut sebagai aksi pre-emptive untuk melumpuhkan infrastruktur militer dan nuklir Iran, maka respons Teheran adalah pesan yang jauh lebih keras, yakni tidak ada lagi perang bayangan. Inilah konfrontasi langsung antarnegara.

“Pertanyaannya bukan lagi siapa memulai, melainkan seberapa jauh spiral balas-membalas ini akan bergerak?” ujar Ginting dalam keterangannya, Minggu, 1/3.

Ginting mengatakan, Iran tidak hanya membalas ke wilayah Israel, tetapi juga menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Teluk seperti Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Ia menilai, pilihan target ini tidak acak.

Ia kemudian menjelaskan bahwa ada dua tujuan strategis dari respons Teheran terhadap serangan tersebut.

Pertama, hukuman langsung (punitive retaliation). Iran ingin menunjukkan bahwa serangan terhadap Teheran tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi. Menurutnya, dengan menembakkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS, Iran berusaha memulihkan kredibilitas militernya di hadapan publik domestik dan sekutu regional.

“Kedua, membangun kembali daya tangkal (deterrence). Selama ini konflik Iran-Israel berlangsung dalam bentuk perang proksi dan operasi rahasia. Serangan langsung Israel–AS ke wilayah Iran meruntuhkan ‘aturan tak tertulis’ tersebut,” jelasnya.

Apabila Iran tidak membalas secara signifikan, kata Ginting, maka ia akan dipersepsikan lemah. Hal itu berbahaya bagi rezim maupun posisi geopolitiknya.

Dilema Kredibilitas

Ginting juga memandang bahwa bagi Israel, serangan balasan Iran bukan hanya soal kerusakan fisik. Sistem pertahanan udara seperti Iron Dome dan sistem berlapis lainnya memang mampu mengintersepsi banyak proyektil. Pesan strategisnya pun jelas, yaitu Israel kini menghadapi ancaman rudal langsung dari negara besar, bukan lagi sekadar kelompok non-negara.

Dalam jangka pendek, Israel mungkin tetap unggul secara teknologi dan intelijen. Namun dalam jangka menengah, perang terbuka dengan Iran akan memaksa Israel menghadapi kemungkinan serangan simultan dari berbagai arah. Termasuk potensi keterlibatan aktor-aktor pro-Iran di kawasan.

Di samping itu, Ginting menilai bahwa Serangan ke pangkalan AS di Teluk menempatkan Washington pada posisi sulit. Sebab, apabila serangan balasannya lebih keras, maka ini bisa menjadi perang regional.

“Jika membalas secara lebih keras, eskalasi bisa berubah menjadi perang regional. Jika tidak, kredibilitasnya sebagai pelindung sekutu akan dipertanyakan,” ungkap Ginting.

“Di sinilah dilema klasik kebijakan luar negeri Amerika muncul, antara menjaga stabilitas global atau terjebak dalam perang baru di Timur Tengah,” sambung dia.

Ia memandang bahwa keterlibatan militer langsung terhadap Iran berisiko memicu konflik yang jauh lebih luas, termasuk gangguan jalur energi global.

Ancaman Regional

Ginting juga mengungkapkan bahwa saat ini, negara-negara Teluk berada dalam posisi paling rentan. Mereka menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, tetapi juga bertetangga secara geografis dan ekonomi dengan Iran. Serangan rudal yang mengguncang kota-kota di Teluk, menurutnya, menunjukkan bahwa konflik ini dapat dengan cepat melampaui batas bilateral dan berubah menjadi ancaman regional.

“Dampaknya tidak hanya keamanan, tetapi juga ekonomi. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz berpotensi mengganggu distribusi energi global. Kenaikan harga minyak dan volatilitas pasar adalah konsekuensi langsung yang sudah mulai terasa,” jelasnya.

Saat ini, kata Ginting, semua pihak masih tampak berhitung. Walaupun keras, serangan Iran masih berada dalam pola terukur—menunjukkan kemampuan tanpa langsung melumpuhkan lawan secara total. Israel dan AS pun tampaknya berhati-hati untuk tidak melampaui titik yang akan memicu mobilisasi penuh.

Namun, risiko salah hitung (miscalculation) sangat tinggi. Ginting mengingatkan bahwa satu serangan yang menimbulkan korban besar di pihak militer AS atau sipil Israel bisa memicu respons yang tak lagi terkendali.

Ginting melihat, konflik ini menunjukkan satu hal, yakni arsitektur keamanan Timur Tengah semakin rapuh. Ketika jalur diplomasi macet dan kepercayaan runtuh, bahasa yang dipakai adalah rudal.

Ironisnya, semua pihak memahami bahwa perang terbuka akan membawa kerugian besar. Namun, masing-masing juga merasa tidak bisa mundur tanpa kehilangan muka dan posisi tawar.

Ia pun menegaskan, dunia kini menyaksikan bukan sekadar balas-membalas serangan, melainkan ujian atas apakah rasionalitas geopolitik masih bisa mengalahkan dorongan eskalasi.

“Jika tidak, Timur Tengah akan memasuki fase paling berbahaya sejak konflik-konflik besar sebelumnya—dan dampaknya tidak akan berhenti di kawasan, tetapi mengguncang tatanan global,” tutupnya.*

Laporan oleh: Puspita Candra Dewi