Sabtu, 20 Juni 2026
Menu

MoU Damai AS-Iran, Mojtaba: Trump Putus Asa Gunakan Segala Macam Pengaruh untuk Mewujudkannya

Redaksi
Mojtaba Khamenei Anak mendiang Ayatollah Ali Khamenei. | Dok Getty Image
Mojtaba Khamenei Anak mendiang Ayatollah Ali Khamenei. | Dok Getty Image
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei buka suara mengenai nota kesepahaman (MoU) yang baru saja diteken Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Dalam pernyataan di media sosial X pada Kamis. 18/6/2026, Mojtaba menjelaskan bahwa MoU dibuat karena keputusasaan Presiden AS Donald Trump. Menurutnya, MoU akhirnya diteken karena kepedulian dan niat baik para pejabat Iran, terutama Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

“Seperti yang telah Anda ketahui, sebuah nota kesepahaman telah ditandatangani antara Presiden Iran dan Amerika. Dalam proses mencapai tahap ini, para pejabat yang bertanggung jawab, dengan kepedulian dan niat baik yang tulus, telah melakukan upaya yang ekstensif dan tentu saja, Presiden Amerika-lah yang, karena putus asa, menggunakan segala macam pengaruh untuk mewujudkannya,” jelasnya.

Mojtaba mengakui bahwa dirinya sebetulnya tidak setuju dengan isi nota kesepahaman. Tetapi, komitmen yang disampaikan Pezeshkian pada akhirnya membuatnya luluh karena mengedepankan perlindungan terhadap hak-hak bangsa Iran dan Front Perlawanan.

“Pada prinsipnya, saya memiliki pandangan yang berbeda; namun, berdasarkan komitmen yang diberikan oleh Presiden yang terhormat, sebagai kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, kepada saya atas nama dirinya sendiri dan atas nama anggota lainnya mengenai perlindungan hak-hak bangsa Iran dan Front Perlawanan, dan penerimaannya yang jelas atas tanggung jawab tersebut, saya memberikan izin saya,” tambahnya.

“Beliau juga secara eksplisit menyatakan bahwa jika pihak Amerika berupaya mengajukan tuntutan yang berlebihan, mereka tidak akan tunduk pada tuntutan tersebut,” sambungnya.

Mojtaba mengatakan bahwa rakyat Iran saat ini dapat menunggu hingga semua janji AS diwujudkan.

Ia menegaskan negosiasi lanjutan yang akan dilakukan pasca penandatanganan MoU bukan berarti Iran menerima posisi AS.

“Kami berhadap doa-doa mulia dari para pemimpin kita akan membawa segala macam kemenangan dan kejayaan bagi bangsa Iran yang terhormat,” pungkasnya.

AS-Iran meneken nota kesepahaman pada Rabu, 17/6/2026, yang menjadi cikal bakal perjanjian damai kedua negara.

MoU tersebut diteken Trump and Pezeshkian secara jarak jauh dari Prancis dan Iran.

MoU AS-Iran berisikan 14 poin kesepakatan, salah satunya komitmen untuk menghentikan pertempuran di semua front, termasuk di Lebanon. AS-Iran juga sepakat untuk membuka kembali Selat Hormuz yang ditutup Teheran setelah diserang pada 28 Februari.

AS juga setuju untuk mencabut blokade angkatan lautnya terhadap Iran, mencabut sanksi terhadap Iran, hingga mencairkan dana Iran yang selama ini dibekukan.

Selain itu, AS sepakat memberi Iran kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama perang.

Usai MoU diteken, AS dan Iran walau mengadakan perundingan selama 60 hari untuk merumuskan kesepakatan final. Kesepakatan akhir ini salah satunya berfokus pada program nuklir Iran dan nasib uranium Iran yang sudah diperkaya (enriched uranium). *