Kamis, 20 Agustus 2026
Menu

Kepala BGN Sudaryono Akui Siswa-siswi di Berastagi Trauma Akibat Keracunan MBG

Redaksi
Kepala BGN Sudaryono | Dok BGN RI
Kepala BGN Sudaryono | Dok BGN RI
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, mengakui adanya trauma dari siswa-siswi SMAN 1 di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, karena kasus keracunan yang menimpa mereka.

Ia mengatakan bahwa pihak yang mengalami trauma juga berasal dari keluarga siswa. Oleh karena itu, Sudaryono memastikan perbaikan tata kelola MBG akan terus dilakukan agar kasus serupa tidak terjadi lagi ke depannya.

“Saya tahu, saya paham yang trauma bukan hanya siswa siswinya, tapi juga ada keluarga traumatis dan saya memahami itu dan kita akan terus perbaiki. Kejadian ini tidak boleh terulang kembali,” ujar Sudaryono di kantor Kementerian PKP, Jakarta Selatan, Rabu, 19/8/2026.

Diketahui, saat ini BGN tengah fokus dalam pemberian pengobatan terhadap siswa-siswi yang mengalami keracunan MBG di SMAN 1 Berastagi.

Setelah itu, mereka pun baru akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Kementerian Kesehatan untuk penanganan pasca-pengobatan.

Menurutnya, kasus keracunan MBG di SMAN 1 Berastagi akibat kelalaian Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).

SPPG disebut lalai dalam pengolahan dan penyimpanan bahan pangan yang disajikan sebagai lauk, yaitu ikan.

Pengelola tidak memasukkan ikan ke dalam freezer, sedangkan bahan pangan itu seharusnya disimpan pada fasilitas pendingin tersebut.

“Dapurnya kami tutup untuk diinvestigasi. Kemudian kepala SPPG-nya kami copot. Karena ini kelihatan fatal, kami mempertimbangkan untuk kami lakukan pemecatan status PPPK-nya,” tegasnya.

Sudaryono pun berkoordinasi dengan kepolisian dalam investigasi kasus keracunan ini.

Ia menyerahkan kepada pihak kepolisian mengenai apakah ada unsur pidana atau tidak di kasus keracunan. Kalau memang ada, ia mengatakan bahwa BGN akan sepenuhnya terbuka.

Sudaryono pun mengingatkan kepada penerima MBG agar turut mengikuti standar operasional prosedur (SOP) yang ada, antara lain dengan tidak membawa makanannya pulang. Menurutnya, dari sejumlah kejadian keracunan MBG, ada yang makanannya dibawa pulang.

Ia mengatakan bahwa MBG jangan dibawa pulang karena khawatir akan kualitasnya. Sudaryono pernah menemukan ada MBG yang dibagikan pukul 10 pagi dan baru dimakan saat malam hari.

“Sisa atau barangkali ada yang ini dibawa pulang, dibagi ke beberapa anggota keluarga, dimakan jam 10 malam di hari itu. Itu kan berarti kan sudah lewat lama. Mungkin dilihatnya masih tampak baik gitu, tapi ternyata bakterinya sudah berkembang,” jelasnya. *