Rabu, 07 Oktober 2026
Menu

Di Balik Derasnya Modal Asing ke Pasar Keuangan Indonesia

Redaksi
Ilustrasi Pasar Keuangan dan Investasi | Ist
Ilustrasi Pasar Keuangan dan Investasi | Ist
Bagikan:

Dr Eko Setiobudi, SE, ME

Dosen STIES Mitra Karya Bekasi

 

FORUM KEADILAN – Bank Indonesia menyampaikan bahwa pada kuartal III/2026 hingga 28 September terjadi aliran modal asing bersih sebesar sekitar Rp1,47 triliun ke pasar keuangan domestik. Dalam periode tersebut, investor asing mencatat net inflow Rp20,51 triliun ke Surat Berharga Negara (SBN). Sebaliknya, terjadi outflow Rp13,51 triliun dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan outflow Rp5,53 triliun dari pasar saham.

Jika ketiga komponen tersebut dijumlahkan, hasil akhirnya memang sekitar Rp1,47 triliun. Dengan kata lain, di kuartal III/2026 investor asing tetap mencatat net inflow ke pasar keuangan Indonesia, tetapi preferensinya lebih kuat pada surat utang pemerintah dibandingkan saham.

Sementara data Agustus 2026, inflow asing ke SBN mencapai Rp15,35 triliun dan ke saham Rp1,32 triliun. Tetapi memasuki September hingga 28 September, terjadi outflow Rp1,63 triliun dari SBN dan Rp7,07 triliun dari saham. SRBI juga mengalami outflow Rp15,02 triliun pada periode tersebut. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan keluar dari SRBI dan saham sebagian besar diimbangi oleh meningkatnya preferensi terhadap SBN.

Selama ini masuknya modal asing sering dibaca sebagai faktor meningkatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian suatu negara termasuk di Indonesia. Meskipun harus ditambah dengan mencermati pola investasinya. Saat seorang investor membeli saham, pada dasarnya ia mengambil risiko terhadap prospek perusahaan dan pertumbuhan laba di masa depan. Sementara investor yang membeli SBN memiliki pertimbangan berbeda. Mereka melihat kombinasi yield, risiko nilai tukar, risiko kredit negara, likuiditas, dan peluang keuntungan relatif dan membandingkannya dengan negara lain.

Oleh karena itu, ketika asing membeli SBN tetapi keluar dari saham, kita tidak bisa begitu saja menyimpulkan bahwa investor asing sedang memberikan penilaian yang sama terhadap seluruh perekonomian Indonesia. Simak saja perbedaan yield SBN Indonesia dan AS. Pada akhir September, yield SBN Indonesia tenor 10 tahun berada sekitar 7,09 persen, sedangkan Treasury AS 10 tahun berada di atas 5 persen. Selisih yield tersebut membuat aset rupiah tetap menarik bagi investor global. Namun yield yang tinggi bukan berarti uang gratis. Yield tinggi juga linier dengan risiko yang juga lebih tinggi.

Di saat yang sama tekanan dan ketidakpastian global masih menjadi variabel utama. Data BI menyebutkan bahwa pada September 2026 kebijakan moneter global semakin ketat. Federal Funds Rate AS berada di kisaran 3,75–4,00 persen, sementara kenaikan yield US Treasury dan ketidakpastian global menahan preferensi investor terhadap emerging markets. Sementara Reuters melaporkan bahwa yield Treasury AS 10 tahun sempat mencapai sekitar 5,27%, sementara rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS pada 29 September di tengah kenaikan yield AS dan harga minyak. Di mana para investor membandingkan return dan risiko Indonesia dengan obligasi AS, aset emerging markets lain, Jepang, China, India dan berbagai instrumen global lainnya.

Gambaran tersebut terlihat dalam data yang lebih luas. Di mana BI juga mencatat investasi portofolio asing pada kuartal III/2026 hingga 21 September masih mengalami net inflow sekitar US$0,4 miliar, terutama ditopang penerbitan global bond pemerintah dan inflow ke SBN. Dan hingga tanggal 28 September 2026, BI mencatat secara kumulatif year-to-date aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia sekitar Rp131 triliun.

Atas dasar itu, respons kebijakan BI bukan hanya bagaimana membuat investor datang, tetapi bagaimana membuat mereka bersedia bertahan. Karena itu BI turut memperkuat insentif lindung nilai melalui transaksi swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Untuk swap, insentif pengurangan premi ditingkatkan menjadi 15 persen untuk tenor tiga bulan, 20 persen untuk enam bulan dan 25 persen untuk 12 bulan. Untuk DNDF, insentifnya menjadi 25 persen untuk tenor enam bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan.

Dalam konteks ini BI sedang berupaya membuat agar aset rupiah menjadi lebih menarik. Semakin murah biaya melakukan hedging, semakin kecil biaya yang harus ditanggung investor asing untuk melindungi investasinya dari risiko rupiah. Dengan demikian, return bersih investasi dalam aset rupiah menjadi lebih menarik. Ini menunjukkan bahwa persaingan menarik modal asing sekarang bukan hanya soal suku bunga.

Namun, terlepas dari kondisi di pasar keuangan tersebut, BI tetap perlu memastikan bahwa likuiditas yang masuk melalui pasar keuangan dapat memberikan dampak terhadap sektor riil. Hal ini jauh lebih penting karena menyangkut perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

Pembelian SBN oleh para investor asing baik melalui penerbitan maupun transaksi di pasar sekunder, dampaknya berbeda terhadap perekonomian, jika dibandingkan dengan investasi langsung untuk membangun pabrik, membeli mesin, membuka fasilitas produksi atau menciptakan lapangan kerja baru.

Portfolio investment memang penting. Namun karena sifatnya labih likuid, sehingga mudah masuk dan keluar dengan cepat. Foreign direct investment (FDI) jauh lebih penting karena lebih berorientasi jangka panjang dan terkait dengan aktivitas produksi di Indonesia. Dan investasi domestik yang dibiayai oleh sistem keuangan dapat berperan menjadi penghubung antara kebijakan moneter, likuiditas perbankan dan sektor riil. Dengan demikian ketiganya sama-sama penting, tetapi mempunyai dampak ekonomi yang berbeda. *