Selasa, 02 Juni 2026
Menu

Dino Patti Djalal Kritik Kunker Prabowo, Teddy: Jangan Mengaburkan Fakta dari Mereka yang Sedang Bekerja

Redaksi
Sekretaris Kabinet Letkol TNI Teddy Indra Wijaya. | Instagram @sekretariat.kabinet
Sekretaris Kabinet Letkol TNI Teddy Indra Wijaya. | Instagram @sekretariat.kabinet
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Sekretaris Kabinet Letkol TNI Teddy Indra Wijaya buka suara terkait kritik dan masukan dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Dino Patti Djalal, yang menyoroti tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto sejak memimpin Indonesia.

Kunjungan Prabowo ke Prancis beberapa hari lalu dinilai mendadak, dikarenakan Kepala Negara itu baru saja ke Prancis pada April dan Januari lalu.

“Bicara diplomasi berarti bicara hasil. Manfaat nyata bagi bangsa,” demikian keterangan gambar pada unggahan rekaman video Teddy di akun media sosial Instagram milik Sekretariat Presiden, Senin, 1/6/2026.

Teddy menegaskan kritik dan masukan tersebut penting. Selain itu, ruang untuk kritik dan masukan selalu terbuka.

“Tetapi jangan mengaburkan fakta dari mereka yang sedang bekerja. Mereka yang tengah berjuang bersama membawa kepentingan bangsa di panggung dunia,” tulis Teddy.

Unggahan di akun Sekretariat Presiden tersebut ditandai inisial Teddy, TIW, yang berarti tulisan dari dirinya.

Dalam rekaman tersebut, Teddy menjelaskan setidaknya beberapa hal, termasuk menyinggung Dino yang merupakan seorang diplomat senior  yang pernah tiga bulan menjadi Wakil Menteri Luar Negeri RI.

“Karena saya di-mention oleh Pak Dubes Dino, saya mau meluruskan beberapa hal. Sebelumnya, terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur,” ujar Teddy membuka pernyataan dalam rekaman video itu.

“Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi wakil menteri luar negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan,” lanjutnya.

Dalam video tersebut, Teddy juga menyertakan beberapa insert foto saat Dino berkunjung ke kantornya.

Sebagai informasi, setidaknya terdapat empat poin respons kritik dan sejumlah hasil kongkret yang disebut Teddy didapat dari aksi diplomasi Prabowo dalam 11,5 tahun terakhir.

Empat poin tersebut adalah soal biaya perjalan keluar negeri, jumlah rombongan Presiden keluar negeri, penjadwalan, dan protokoler hingga frekuensi kunjungan keluar negeri.

“Jadi yang pertama masalah biaya bila keluar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali, jadi  segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara. itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” ujar Teddy.

Teddy menekankan bahwa jumlah orang dalam rombongan kunjungan luar negeri Prabowo sudah berkurang besar-besaran, hampir 50 persen dari periode pemerintahan sebelumnya.

“Nah, kalau dulu itu itu sekali keluar negeri bisa lebih dari dari 120 orang–zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Pak Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal,” tegasnya.

Ia kembali menegaskan bahwa Prabowo menjadi Presiden ketika kondisi dunia sedang dinamis hari per hari, dan dipenuhi konflik global.

Oleh karena itu, Prabowo, lanjutnya, perlu untuk membangun dan menjalin hubungan dan para pemimpin dunia.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik. Lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan. dan begitu pula sebaliknya,” tuturnya.

“Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin, baik secara langsung, diliput media ataupun tertutup,” imbuhnya.

Teddy menekankan tudingan yang mengatakan bahwa kunjugan luar negeri Prabowo hanya demi gagah-gagahan atau seremonial tersebut adalah tudingan yang ‘salah besar’.

Ia menyebut aksi diplomasi yang dipimpin Prabowo selama 1,5 tahun terakhir sudah membuahkan hasil kongkret.

Dari mulai kelanjutan kerja sama dalam BRICS yang membuat kondisi BBM dan stok pangan tetap aman di tengah konflik global usai Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran, lalu tarif 0 persen dari Uni Eropa yang baru terwujud di era kepresidenan Prabowo pada 2025 lalu, dan jumlah investasi yang masuk.

“Total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun ini adalah sekitar Rp2.430 triliun, itu data dari BKPM,” ucapnya.

“Kemudian, contoh konkret lagi ini, bulan lalu Presiden Prabowo ke Jepang dan kKorea, kembali langsung ada investasi sekitar Rp575 triliun,” tambahnya.

Teddy juga menyinggung soal kekuatan tempura tau alutsista Indonesia saat ini, penyelenggaraan haji hingga terwujudnya perkampungan haji RI di Tanah Suci, dan peran aktif untuk membantu Palestina.

“Itu adalah hasil kongret nyata 1,5 tahun terakhir. Dan, semua itu adalah hsail diplomasi yang dilakukan Presiden Prabowo lewat berbagai cara baik dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, menurut Dino pola perjalanan luar negeri Prabowo itu memunculkan perhatian publik sehingga ia menyampaikan sejumlah masukan, mulai dari pengurangan lawatan hingga pemanfaatan diplomasi virtual.

Ia menyampaikan pandangan itu dalam unggahan video di fitur reels Instagram yang ditujukan kepada Prabowo dan mengaku merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk menyampaikan pandangannya mengenai politik luar negeri Indonesia.

“Bapak Presiden telah menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada saya yang berarti Bapak mempercayai kredibilitas dan pandangan saya mengenai politik luar negeri. Karena itu, saya juga merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan pesan apa adanya,” jelas Dino dalam video tersebut, Sabtu, 30/5/2026.

Dino mengimbau Prabowo agar secara signifikan mengurangi frekuensi kunjungan luar negeri dan tidak menganggap remeh suara publik terkait hal tersebut.

“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan keluar negeri. Semenjak menjabat menjadi presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran,” katanya.

Dino mengungkapkan sulit membayangkan Prabowo terus melakukan perjalanan luar negeri dengan intensitas setinggi sekarang selama 19 bulan ke depan.

Ia juga turut menyoroti besaranya biaya yang harus dikeluarkan negara dalam setiap kunjungan kepala negaara ke luar negeri. Menurutnya, biaya tersebut mencakup tim pendahulu, pesawat, hotel, logistik, konsumsi, protokol, pengamanan hingga uang harian delegasi.

“Satu perjalanan keluar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar,” tuturnya.

Dino pun menyarankan agar Prabowo dapat mengandalkan video call, telepon, atau pertemuan virtual untuk menjaga komunikasi dengan para pemimpin dunia.

Menurutnya, inti pembahasan dalam kunjungan bilateral umumnya hanya berlangsung satu hingga dua jam, sedangkan sebagian besar agenda lainnya bersifat seremonial. *