Kamis, 22 Oktober 2026
Menu

Membangun Diaspora Santri untuk Indonesia Emas: Refleksi Hari Santri Nasional 2026

Redaksi
Foto Santri | Dok Kemenag Sulteng
Foto Santri | Dok Kemenag Sulteng
Bagikan:

Dr. Eko Setiobudi, SE, ME

Ketua Tanfidziyah Ranting NU Limusnunggal, Cileungsi, Kab. Bogor

 

FORUM KEADILAN – Hari Santri 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Tema ini semestinya tidak berhenti pada peringatan sejarah atau seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum untuk memikirkan kembali ke mana arah perjalanan santri Indonesia di tengah perubahan ekonomi, teknologi, geopolitik, dan kehidupan sosial yang semakin kompleks.

Skala ekosistem pesantren menunjukkan betapa besar potensi tersebut. Indonesia memiliki lebih dari 42 ribu pesantren. RMI PBNU menyebut sekitar 28 ribu di antaranya berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Dengan demikian, pesantren NU merupakan salah satu basis pendidikan keagamaan dan sosial terbesar di Indonesia.

Untuk jumlah santri, Kementerian Agama pada Oktober 2026 mencatat 4.634.406 santri telah terverifikasi secara by name by address (BNBA). Namun, Kemenag menegaskan angka tersebut belum merupakan jumlah final karena proses pendataan masih berlangsung. Sebelumnya, data Kemenag Oktober 2025 mencatat 42.391 pesantren dengan 6.267.741 santri. Perbedaan angka tersebut harus dibaca sebagai konsekuensi pembenahan metode pendataan, bukan sebagai perubahan drastis populasi santri.

Dalam konteks NU, RMI PBNU pada 2026 menyebut sekitar 28 ribu pesantren mendeklarasikan diri sebagai pesantren NU. Sementara data RMI pada periode sebelumnya pernah menyebut sekitar 23 ribu pesantren NU dengan hampir empat juta santri. Karena sistem pendataan terus diperbarui, angka tersebut lebih tepat digunakan sebagai gambaran skala daripada angka definitif santri NU saat ini.

Besarnya ekosistem tersebut membawa konsekuensi strategis. Hari Santri adalah pengejawantahan komitmen keagamaan dalam bingkai Aswaja an-Nahdliyah dan kebangsaan. Bagi jam’iyah NU, santri tidak hanya mewarisi tradisi keilmuan Islam, tetapi juga tradisi kebangsaan, toleransi, musyawarah, keseimbangan, dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, membicarakan masa depan santri pada akhirnya juga membicarakan masa depan bangsa.

Di sinilah gagasan diaspora santri menjadi penting. Dalam literatur diaspora, William Safran antara lain menekankan adanya identitas kolektif, ingatan terhadap asal-usul, hubungan dengan komunitas asal, serta komitmen untuk menjaga dan memajukan komunitas tersebut. Perkembangan teori diaspora kemudian memperluas konsep ini dari sekadar komunitas yang tercerabut dari tanah asal menjadi jaringan manusia yang tetap mempertahankan identitas sekaligus berinteraksi secara aktif dengan lingkungan baru.

Konsep tersebut dapat dikembangkan untuk membaca masa depan santri. Diaspora santri bukan berarti meninggalkan pesantren, melainkan membawa nilai pesantren ke berbagai ruang kehidupan. Santri dapat berada di Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur, Melbourne, Tokyo, London, Washington, Riyadh, atau kota-kota lain tanpa kehilangan akar identitasnya.

Santri perlu hadir dalam pendidikan, kebudayaan, sains, teknologi, ekonomi, bisnis, pemerintahan, diplomasi, pertahanan, dan keamanan. Dunia membutuhkan ilmuwan yang berintegritas, teknolog yang memiliki etika, pengusaha yang amanah, birokrat yang bertanggung jawab, diplomat yang memahami keberagaman, serta profesional yang memiliki orientasi kemanusiaan. Tidak ada alasan mengapa lulusan pesantren tidak dapat mengisi ruang-ruang tersebut.

Bahkan perkembangan teknologi menunjukkan bahwa medan pengabdian semakin luas. Artificial intelligence, keamanan siber, ekonomi digital, bioteknologi, semikonduktor, energi terbarukan, dan teknologi pertahanan akan menentukan daya saing bangsa. Karena itu, santri masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan memahami teks keagamaan. Mereka juga membutuhkan literasi sains, teknologi, bahasa asing, ekonomi, data, dan kemampuan berpikir kritis.

Kementerian Agama sendiri menempatkan ilmu yang mendalam, karakter yang kuat, tradisi yang berakar, serta kemampuan menghadapi masa depan sebagai bagian penting dari arah Hari Santri 2026. Bahkan rangkaian Hari Santri tahun ini secara eksplisit memasukkan agenda yang berkaitan dengan aspirasi pendidikan, lingkungan, kesejahteraan, dan kemandirian pesantren.

Karena itu, pesantren membutuhkan roadmap masa depan santri. Pesantren perlu mulai memetakan kompetensi yang akan dibutuhkan Indonesia dalam 10, 20, bahkan 30 tahun mendatang. Kurikulum pesantren harus memungkinkan lahirnya santri yang memiliki kedalaman agama sekaligus kompetensi profesional. Jejaring alumni juga perlu dikembangkan bukan hanya sebagai forum silaturahmi, tetapi sebagai jaringan diaspora santri yang menghubungkan pesantren dengan dunia profesi, industri, universitas, pemerintah, dan komunitas internasional.

Dengan demikian, tugas pesantren bukan hanya mencetak para dai. Dai tetap penting, tetapi pengabdian santri tidak boleh dibatasi pada profesi dakwah. Pesantren harus menyiapkan generasi yang siap mengabdi kepada bangsa dan negara di mana pun mereka berada.

Kita membutuhkan santri yang menjadi guru, dosen, ekonom, dokter, insinyur, ilmuwan, teknolog, pengusaha, diplomat, birokrat, prajurit, aparat keamanan, peneliti, dan pemimpin dunia usaha—dengan tetap membawa nilai keislaman dan kebangsaan yang diperoleh dari pesantren. Jika generasi santri terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan, maka generasi santri hari ini menghadapi tantangan yang berbeda: memperkuat daya saing Indonesia dalam dunia yang semakin terhubung dan kompetitif.

Maka, Hari Santri 2026 seharusnya bukan hanya momentum untuk mengenang perjuangan santri masa lalu. Ia harus menjadi titik awal untuk membangun diaspora santri masa depan: berakar kuat di pesantren, teguh dalam Aswaja an-Nahdliyah, setia kepada Indonesia, tetapi mampu hadir dan memberi manfaat di berbagai ruang strategis bangsa dan dunia. Dari pesantren ke dunia, santri bukan kehilangan akar. Santri justru membawa akar itu untuk menumbuhkan kemanfaatan di tempat yang lebih luas. *