Kamis, 22 Oktober 2026
Menu

Prabowo Soal Status Pasar Saham Indonesia Jadi Standalone: Tidak Takut

Redaksi
Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna (SKP) Dua Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri di halaman tengah Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Rabu, 21 Oktober 2026. | Dok Sekretariat Prsiden RI
Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna (SKP) Dua Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri di halaman tengah Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Rabu, 21 Oktober 2026. | Dok Sekretariat Prsiden RI
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Presiden Prabowo Subianto buka suara terhadap pernyataan lembaga indeks global, MSCI menyatakan bahwa status bursa saham Indonesia berpotensi turun kelas dari emerging market ke standalone.

Prabowo menegaskan bahwa MSCI hanya ingin menggertak para investor pasar modal. Karena, menurutnya, para pelaku pasar baik regulator hingga emiten-emiten di Bursa Efek Indonesia sudah bekerja dengan baik.

“Kita terus dihadang. Ada apa itu, macam-macamlah, MSCI, macam-macam,” kata Prabowo dalam taklimatnya di sidang kabinet 2 tahun pemerintahan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 21/10/2026.

Prabowo mengatakan bahwa Indonesia tidak takut terhadap pengumuman MSCI dan menilai Indonesia bukan bangsa yang gampang menyerah.

“Saudara-saudara sekalian, kita tidak takut. Kita punya kekuatan, kita punya keberanian, dan kita rela berkorban, dan kita tidak mengenal menyerah,” tegasnya.

Dilansir Reuters, aksi jual investor asing yang secara langsung mengakibatkan arus keluar dana (capital outflow) sudah terjadi sejak Jumat, 16/10/2026, sesaat usai MSCI mengusulkan penurunan status pasar modal Indonesia. Pada hari itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok hingga 11,6 persen.

Perdagangan pada Senin, 19/10/2026, IHSG kembali melemah dan ditutup turun hingga 3,6 persen. Penurunan gabungan dari dua hari perdagangan ini dinilai lebih curam daripada penurunan mana pun selama krisis keuangan Asia 1998. Bahkan indeks saham Garuda itu juga tercatat mencapai titik terendah enam tahun selama sesi tersebut.

Di sisi lain, dalam laporan Reuters lainnya, sejumlah bank lain memperkirakan langkah penurunan klasifikasi Indonesia oleh MSCI ini dapat memicu arus keluar pasif sebesar USD3-6 miliar atau Rp54-108 triliun.

Sementara itu, bank Raksasa seperti JPMorgan memperkirakan angka passive outflow sebesar USD4,8 miliar atau Rp86,4 triliun, dan UBS memperingatkan bahwa investor aktif dapat menarik dana tambahan sebesar USD15 miliar atau Rp270 triliun.  *