Kamis, 15 Oktober 2026
Menu

Pengamat Nilai Dukungan Dini Golkar ke Prabowo pada Pilpres 2029 Perkuat Posisi Tawar di Kabinet

Redaksi
Partai Golkar | Dok. Partai Golkar
Partai Golkar | Dok. Partai Golkar
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Dukungan Partai Golkar kepada Presiden Prabowo Subianto untuk kembali maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 dinilai tidak sekadar menunjukkan loyalitas politik, tetapi juga menjadi strategi untuk memperkuat posisi tawar partai di pemerintahan.

Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign Nasaruddin Sili Luli menilai, dukungan dini Partai Golkar kepada Prabowo Subianto untuk Pilpres 2029 tidak hanya menunjukkan loyalitas politik, tetapi juga berkaitan dengan strategi partai dalam menjaga posisi di pemerintahan.

“Dukungan dini Golkar kepada Prabowo ini menarik. Di satu sisi, Golkar tampak menunjukkan loyalitas kepada Prabowo. Namun, di sisi lain, langkah ini juga berkaitan dengan bagaimana Golkar mengamankan posisi tawarnya di kabinet,” kata Nasaruddin kepada Forum Keadilan, Kamis, 15/10/2026.

Menurut dia, keputusan Golkar menyatakan dukungan lebih awal membuat ruang negosiasi partai tersebut berbeda dibandingkan partai lain yang masih menimbang arah dukungan politiknya.

“Ketika Golkar sudah menyatakan dukungan sejak awal, ruang tawarnya tentu memiliki dinamika tersendiri. Partai yang sudah memberikan dukungan di muka tidak lagi memiliki keleluasaan yang sama dengan partai yang masih menyimpan pilihan politiknya,” ujarnya.

Nasaruddin juga menilai, keputusan tersebut berpengaruh terhadap dinamika internal Golkar, terutama dalam menjaga posisi Ketua Umum Bahlil Lahadalia menjelang Pilpres 2029.

“Ketika calon presiden sudah diputuskan dan ketua umum tidak memosisikan dirinya sebagai alternatif calon, ruang bagi faksi-faksi internal untuk menawarkan poros lain menjadi semakin sempit. Persaingan di internal Golkar pada akhirnya bisa bergeser pada persoalan perolehan kursi di DPR dan keberlanjutan kepemimpinan partai,” kata dia.

Dia menambahkan, Golkar masih memiliki ruang untuk memperjuangkan posisi calon wakil presiden yang akan mendampingi Prabowo.

“Posisi calon wakil presiden menjadi ruang yang masih terbuka. Golkar bisa saja sudah mengunci dukungan kepada Prabowo, tetapi belum tentu mengunci sikap mengenai siapa yang harus mendampinginya. Di situlah salah satu ruang tawar politik masih bisa dimainkan,” tuturnya.

Menurut Nasaruddin, tantangan berikutnya bagi Bahlil adalah membuktikan bahwa strategi politik tersebut berbanding lurus dengan peningkatan perolehan kursi Golkar pada Pemilu 2029.

“Kalau perolehan kursi Golkar tidak meningkat secara signifikan, tentu akan muncul evaluasi terhadap kepemimpinan partai. Dalam politik internal Golkar, capaian elektoral dapat menjadi faktor penting yang menentukan kuat atau tidaknya posisi seorang ketua umum,” ujarnya.

Dukungan tersebut disampaikan secara terbuka oleh Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia saat ditemui wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 9/10.

“Standing position Golkar kan jelas bahwa kami menghadapi Pilpres tahun 2029, kami sudah punya calon namanya Pak Prabowo, ya,” kata Doli, Sabtu, 10/10.

Meski telah menetapkan Prabowo sebagai calon presiden yang akan didukung, Doli mengatakan Golkar belum menentukan sosok calon wakil presiden yang akan mendampinginya.

Menurut dia, pembahasan mengenai calon wakil presiden biasanya dilakukan mendekati masa pendaftaran pasangan calon.*

Laporan oleh: Muhammad Reza