Kamis, 25 Juni 2026
Menu

Legislator Nilai Pelatihan Militer Penting bagi Manajer KDMP

Redaksi
Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal Marzuki di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 25/6/2026 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal Marzuki di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 25/6/2026 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal Marzuki mengungkapkan bahwa pelatihan militer bagi pegawai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), khususnya yang menjabat sebagai manajer, lantaran memiliki urgensi yang kuat dalam mendukung sistem pertahanan negara.

Menurutnya, pelatihan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan disiplin dan kapasitas sumber daya manusia, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun komponen cadangan pertahanan nasional.

“Secara prinsip urgensinya memang sangat kuat. Bagaimana supaya mereka, termasuk pengelola Koperasi Merah Putih dan berbagai program strategis lainnya, dapat menjadi ujung tombak dalam perspektif pertahanan,” katanya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 25/6/2026.

Ia menjelaskan, para pengelola KDMP, peserta program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), hingga pengelola desa nelayan dapat dipersiapkan sebagai bagian dari komponen cadangan yang mendukung Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata).

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari konsep pertahanan rakyat semesta yang saat ini terus disusun dan diperkuat. Dengan begitu, masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk berpartisipasi dalam upaya pertahanan negara.

“Karena saat ini juga sedang dilakukan rekrutmen besar-besaran SPPI, maka mereka bisa menjadi salah satu komponen cadangan, termasuk ASN dan berbagai kelembagaan lainnya,” ujarnya.

Syamsu menilai, setiap komunitas di Indonesia idealnya memiliki anggota yang memahami peran dan sikap sebagai bagian dari sistem pertahanan nasional. Hal tersebut dinilai penting untuk memperkuat kesiapsiagaan bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat kesenjangan kemampuan antara personel profesional dengan para peserta yang direkrut melalui program-program tersebut.

“Nah, mungkin karena gap yang masih terlalu lebar antara profesional dengan kemampuan teman-teman di SPPI ini sehingga ada kekagetan, baik fisik maupun mental yang kurang maksimal,” katanya.

Karena itu, Syamsu Rizal menegaskan, ke depan, proses rekrutmen perlu memperhatikan kesiapan fisik dan psikologis calon peserta.

“Ini menjadi catatan ke depan sehingga dalam proses rekrutmen salah satunya mereka sudah memiliki kemampuan fisik dan psikis untuk menerima pembinaan, sehingga ada percepatan kemampuan terutama di bidang pertahanan,” pungkasnya.*

Laporan oleh: Novia Suhari