Sabtu, 13 Juni 2026
Menu

Said Didu Nilai Prabowo Mulai Realistis soal MBG, Minta Evaluasi Total dan Berantas Korupsi BGN

Redaksi
Presiden Prabowo Subianto memeriksa kotak Makan Bergizi Gratis (MBG) | Dok. Kemensetneg
Presiden Prabowo Subianto memeriksa kotak Makan Bergizi Gratis (MBG) | Dok. Kemensetneg
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Pengamat kebijakan publik Said Didu menilai, Presiden Prabowo Subianto mulai bersikap lebih realistis dalam menyikapi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Menurutnya, langkah pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi sinyal bahwa Presiden mulai melakukan koreksi terhadap program yang selama ini menuai berbagai kritik.

“Prabowo saat ini lebih realistis dan mencoba meninggalkan egonya, demi bangsa dan negara dengan melakukan koreksi total terhadap pelaksanaan program MBG,” ujar Said dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu, 10/6/2026.

Ia mengaku telah memperoleh informasi mengenai pergantian Kepala BGN dan Wakil Kepala BGN beberapa jam sebelum keputusan tersebut diumumkan kepada publik.

“Saya berkomunikasi ke dalam itu beberapa jam sebelum Kepala BGN dan Wakil Kepala BGN diberhentikan. Dari dalam menyatakan bahwa ini sudah akan diberhentikan. Saya bilang bagus,” ungkapnya.

Menurut Said, Prabowo merasa sangat kecewa karena orang-orang yang selama ini dipercaya justru diduga mengkhianati kepercayaan tersebut.

“Saya dapat informasi bahwa Pak Prabowo betul-betul merasa sakit hati karena dihianati oleh orang yang dia percaya,” katanya.

Karena itu ia menilai, Presiden perlu mengevaluasi cara memilih pembantu-pembantunya di pemerintahan.

“Pak Prabowo harus semakin menyadari bahwa jangan terlalu percaya pengamanan dirinya adalah berpegang kepada orang dalam. Faktanya, orang dalam yang dipercaya itulah yang menjadi pengkhianat pertama,” ujarnya.

Selain loyalitas, kata Said, kualitas dan integritas juga harus menjadi pertimbangan utama dalam penunjukan pejabat.

“Mengangkat orang itu bukan hanya faktor loyalitas. Karena loyalitas saja ternyata tidak cukup. Kualitas tidak mencukupi dan integritas juga tidak mencukupi,” tegasnya.

Said juga melihat adanya perubahan sikap Presiden yang mulai membuka diri terhadap kritik publik. Menurutnya, sebelumnya Prabowo cenderung mempertahankan pelaksanaan MBG tanpa banyak evaluasi, namun kini mulai menunjukkan sikap yang lebih realistis.

“Prabowo akhirnya mencoba menjadi realistis, mendengarkan dan membuka telinga terhadap kritikan masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap, momentum tersebut menjadi awal dari pembenahan menyeluruh terhadap pemerintahan, terutama dalam penempatan orang-orang profesional.

“Saya berharap bahwa dampak daripada MBG ini membuat Pak Prabowo melakukan koreksi total terhadap pemerintahnya dan kembali normal, bahwa orang-orang profesional dan orang-orang yang punya integritas harus menjadi perhatian,” kata Said.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengusulkan agar pelaksanaan MBG lebih tepat sasaran sehingga anggaran negara dapat dihemat.

“Kalau penerimanya hanya yang membutuhkan, kemungkinan sisa anggaran MBG itu bisa dikurangi. Kalau sekarang sekitar Rp350 triliun, menurut saya dikurangi Rp200 triliun pun masih aman,” ujarnya.

Lebih jauh, Said mendesak agar dugaan korupsi di lingkungan BGN diusut hingga ke akar-akarnya. Menurutnya, praktik tersebut tidak hanya terjadi di tingkat pusat, tetapi juga melibatkan proses penunjukan dapur di berbagai daerah.

“Korupsi BGN ini sangat sistematis dari pusat sampai ke desa. Hampir semua pemilik dapur yang saya temui bukan lewat persaingan yang sehat, tetapi lewat backing partai politik atau tokoh-tokoh tertentu untuk mendapatkan dapur,” ungkapnya.

Ia meminta Presiden tidak membatasi pemberantasan dugaan korupsi hanya pada pejabat tingkat atas, tetapi juga mengaudit seluruh proses penunjukan pengelola dapur, termasuk yayasan-yayasan yang memperoleh jumlah titik pengelolaan dalam skala besar.

Menurut Said, evaluasi menyeluruh tersebut penting agar program MBG tetap dapat berjalan dengan tata kelola yang lebih transparan, profesional, dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.*

Laporan oleh: Muhammad Reza