Sabtu, 30 Mei 2026
Menu

Sentil Komentar PDI Perjuangan soal Rencana Jokowi Keliling Indonesia, PSI: Gak Ada Kerjaan Lain

Redaksi
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan arahan di Rakernas PSI, Sabtu, 31/1/2026. | YouTube Partai Solidaritas Indonesia
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan arahan di Rakernas PSI, Sabtu, 31/1/2026. | YouTube Partai Solidaritas Indonesia
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus, menanggapi komentar kader PDI Perjuangan Guntur Romli, yang menyinggung rencana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) untuk keliling Indonesia tidak akan mampu membawa PSI masuk parlemen pada pemilu mendatang.

Bestari menilai, komentar tersebut justru menunjukkan kekhawatiran dari pihak PDI Perjuangan terhadap kedekatan Jokowi dengan PSI.

“Ya dia ngapain khawatir, kan? Justru aneh kalau dia khawatir. Ngapain mesti khawatir. Pak Jokowi itu hanya mantan presidennya atau Presiden ke-7 yang dulu ketika beliau menjabat itu sering blusukan,” katanya kepada wartawan, Jumat, 29/5/2026.

Menurutnya, selama menjabat presiden, Jokowi dikenal dekat dengan masyarakat melalui kegiatan blusukan sehingga menimbulkan kerinduan publik terhadap sosoknya.

“Sehingga ada kerinduan dari kelompok-kelompok masyarakat atau masyarakat secara pribadi yang pernah merasakan kebijakan beliau yang diterapkan di lapangan ketika beliau datang juga menyapa, itu ada kerinduannya beliau datang,” ujarnya.

Bestari juga mempertanyakan alasan PDI Perjuangan ikut menanggapi agenda Jokowi tersebut.

“Nah, saya juga nggak ngerti kenapa mesti ditanggapi oleh PDIP, nggak punya kerjaan lain apa dia itu? Guntur Romli itu,” ucapnya heran.

Ia mengaku sebenarnya, terkait pernyataan Jokowi tidak akan mampu mendongkrak PSI ke parlemen, Bestari mengatakan hal itu merupakan pandangan pribadi yang sah-sah saja.

“Ya, saya kira itu kan pandangan dia seperti itu ya bagus-bagus saja, semoga selalu akan seperti itu pandangannya,” ucapnya.

Namun ia menilai, pandangan tersebut seharusnya dilihat lebih komprehensif. Bestari bahkan menyebut, sejak Jokowi tidak lagi berada di PDI Perjuangan, penilaian kader partai berlambang banteng itu terhadap Jokowi menjadi negatif semua.

“Padahal seharusnya dia melihatnya lebih komprehensif, tapi nggak tahu ya semenjak kenikmatan-kenikmatan buat partainya itu dicabut oleh Pak Jokowi kan selalu miring saja pendapatnya,” katanya.

Ia mengatakan, PSI justru merasa diuntungkan dengan posisi Jokowi yang kini tidak lagi bersama PDI Perjuangan. Menurutnya, kunjungan Jokowi ke berbagai daerah nantinya bisa menjadi momentum untuk mempertegas dukungannya terhadap PSI.

“Dan mudah-mudahan menjadi kesempatan juga pada saat mengunjungi seluruh Indonesia nanti, Pak Jokowi menyatakan bahwa sekarang sudah bersama PSI,” sambungnya.

Bestari menilai, dukungan penuh Jokowi kepada PSI akan berdampak pada perpindahan suara pemilih setianya, karena sudah mengetahui perpindahan langkah politik Jokowi melalui agenda keliling Indonesia ini.

“Hari ini jadi pemakluman publik, ‘Oh, beliau (Jokowi) sudah di PSI bersama PSI. Kita jangan lagi milih partai yang itu (PDIP) lagi’ kan begitu,” katanya.

Ia mengklaim, setelah Jokowi menyatakan akan mendukung penuh PSI, banyak pendukung Jokowi diyakini akan ikut berpindah mendukung partai tersebut. Menurutnya, perpindahan dukungan itu wajar terjadi karena Jokowi masih memiliki basis pendukung yang kuat di masyarakat.

“Wajarlah kan namanya Pak Jokowi dicintai rakyat, kemudian pindah ya silent voters-nya Pak Jokowi, pendukung Pak Jokowi juga akan ikut pindah tentu ke mana Ke PSI sehingga ada kekhawatiran-kekhawatiran mungkin ya kita maklumilah,” tandasnya.*

Laporan oleh: Novia Suhari