Jumat, 29 Mei 2026
Menu

Perjalanan Presiden Prabowo ke Luar Negeri Disebut Pemborosan, Gerindra: Cara Pandang Parsial

Redaksi
Presiden Prabowo Subianto saat tiba di Paris, Prancis, Selasa, 26/5/2026 | Instagram @presidenrepublikindonesia
Presiden Prabowo Subianto saat tiba di Paris, Prancis, Selasa, 26/5/2026 | Instagram @presidenrepublikindonesia
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso menilai, sorotan terhadap perjalanan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri dianggap sebagai bentuk pemborosan anggaran merupakan cara pandang parsial dari pihak tertentu.

Menurutnya, kunjungan Presiden Prabowo ke sejumlah negara merupakan strategi diplomasi untuk memperkuat hubungan Indonesia dengan negara sahabat sekaligus memperjuangkan kepentingan nasional di tengah dinamika global.

“Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat, 29/5/2026.

Sugiat menjelaskan, paradigma politik luar negeri bebas-aktif Presiden Prabowo adalah diplomasi ofensif, yakni strategi hubungan luar negeri yang proaktif dalam memperjuangkan kepentingan nasional.

Menurutnya, diplomasi ofensif dijalankan untuk merespons sekaligus mengantisipasi berbagai krisis global. Dalam praktiknya, Presiden Prabowo mengambil inisiatif untuk menetapkan agenda, membangun aliansi, serta memberikan tekanan strategis agar proses negosiasi berjalan sesuai kepentingan Indonesia.

“Prabowo melangkah lebih awal sebelum didikte oleh negara lain. Dia mengambil posisi tegas dalam menyatakan kedaulatan, posisi politik, dan membela warga negaranya dengan terukur,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI itu mengungkapkan, pada akhir Mei 2026, Presiden Prabowo melakukan kunjungan ke tiga negara Eropa, yakni Prancis, Austria, dan Hungaria. Ketiga negara tersebut dinilai memiliki posisi strategis bagi kepentingan Indonesia.

Sebab, kata Sugiat, Prancis memiliki kekuatan militer dan teknologi terbesar di Eropa Barat yang tidak mudah memberikan akses sistem persenjataan canggih tanpa adanya kedekatan politik yang dibangun secara bertahap.

“Kedekatan politik yang dibangun bertahap melalui kunjungan berulang adalah syarat mutlak dalam bekerja sama dengan Macron,” sambungnya.

Sementara, Austria disebut sebagai gerbang industri manufaktur presisi Eropa Tengah dengan sektor unggulan seperti mesin, otomotif, pengolahan logam, bahan kimia, hingga makanan dan minuman.

Adapun Hungaria dinilai menjadi pusat agresif pembangunan gigafactory baterai kendaraan listrik di Uni Eropa, tempat sejumlah perusahaan besar seperti Samsung SDI dan CATL beroperasi. Ia menilai, masuk ke Hungaria berarti mengunci posisi Indonesia dalam rantai pasok baterai masa depan Eropa melalui jalur yang paling terbuka.

“Pak Prabowo datang ke sana bukan sebagai peminta-minta bantuan, tetapi sebagai pemilik komoditas strategis yang menentukan masa depan industri otomotif dunia,” ucapnya.

Sugiat mengatakan, dunia saat ini tengah memasuki era transisi menuju kendaraan listrik. Namun, Indonesia dinilai memiliki waktu terbatas sebelum teknologi baterai mulai beralih ke material non-nikel.

Oleh karena itu, ia menyebut, Presiden Prabowo bergerak cepat melakukan kunjungan maraton Paris-Wina-Budapest untuk mengunci investasi hilirisasi sebelum momentum tersebut hilang.

Selain sektor ekonomi, Sugiat menilai, penguatan diplomasi pertahanan juga menjadi alasan penting di balik kunjungan tersebut. Dia menyebut, kunjungan berulang ke Paris merupakan langkah membangun tingkat kepercayaan tinggi dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron agar Indonesia memperoleh akses teknologi militer strategis.

Oleh sebab itu, dia menilai, mengukur perjalanan Presiden hanya dari ongkos tiket pesawat merupakan cara berpikir yang tidak sebanding dengan manfaat strategis yang diperoleh Indonesia.

Menurutnya, nilai transfer teknologi pertahanan, pengamanan kedaulatan di Laut Natuna Utara, serta penguatan posisi tawar Indonesia sebagai kekuatan regional jauh lebih besar dibanding biaya operasional perjalanan luar negeri.

“Kunjungan ke Prancis ini bukti nyata politik Bebas-Aktif berwibawa. Indonesia tidak mengekor ke Amerika, tidak tunduk ke Cina, dan tidak takut pada tekanan NATO saat berhubungan dengan Rusia demi mengamankan pasokan minyak dan LPG murah untuk rakyat,” tandasnya.*

Laporan oleh: Novia Suhari