Jumat, 15 Mei 2026
Menu

Ultimatum Prabowo ke Bos BUMN Terdahulu: Siap-Siap Dipanggil Kejaksaan!

Redaksi
Presiden Prabowo Subianto di acara Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin, 2/2/2026 | YouTube Sekretariat Presiden
Presiden Prabowo Subianto di acara Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin, 2/2/2026 | YouTube Sekretariat Presiden
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Presiden Prabowo Subianto mengultimatum mantan para pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia menyebut bahwa para bos BUMN tersebut harus siap-siap ketika dipanggil Kejaksaan Agung (Kejagung).

Hal itu ia sampaikan saat memberikan arahan pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di SICC, Bogor, Senin, 2/2/2026.

Mulanya, ia mengatakan bahwa dirinya telah membentuk dana Sovereign Wealth Funds (SWF) yang mengelola aset sebanyak 1.040 perusahaan dengan nilai mencapai US$1 triliun.

“Kita telah bentuk dana Sovereign Wealth Funds. Saya talah menghimpun semua dalam satu pengelolaan yang nilainya US$ 1 triliun, lengkapnya US$1.040 miliar. Tadinya terpecah-pecah dalam 1.040 perusahaan, bayangkan enggak siapa yang bisa manage 1.000 perusahaan?” kata Prabowo.

Menurutnya, hal tersebut merupakan rekayasa dari para bos-bos BUMN yang menjabat di masa lalu. Ia lantas mengingatkan kepada mereka agar bersiap dipanggil Kejaksaan.

“Ini akal-akalan pimpinan-pimpinan BUMN terdahulu, harus tanggung jawab. Siap-siap kau dipanggil Kejaksaan,” ucapnya.

Kepala Negara itu mengatakan bahwa mereka hanya bisa mengejek dirinya yang hanya bisa bicara di atas podium.

“Karena mereka ngejek Prabowo cuma bisa ngomong di podium. Oh ya? Tunggu aja di pengadilan saya hanya takut dengan rakyat Indonesia dan Tuhan yang Maha Besar,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Prabowo juga mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap koruptor yang tertangkap aparat.

“Saya paling kasian kalau ada tokoh kawan yang diborgol pake baju apa itu? Baju orange ya? Pake warna orange kasian anak istrinya,” katanya.*

Laporan oleh: Syahrul Baihaqi