BNN Sebut Indonesia Darurat Narkoba: Mari Kita Lawan

BNN saat rapat dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 10/6/2024 | ist
BNN saat rapat dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 10/6/2024 | ist

FORUM KEADILAN – Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan Indonesia mengalami darurat narkoba. Korban maraknya narkoba menyasar hampir semua lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga para buruh perkebunan.

Hal itu disampaikan oleh Kepala BNN Komjen Pol Marthinus Hukom saat rapat kerja bersama Komisi III DPR RI di Gedung Kompleks Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 10/6/2024.

Bacaan Lainnya

“Kami setuju sekali Indonesia saat ini mengalami atau berhadapan dengan darurat narkoba,” Marthinus.

Marthinus mengungkapkan, terdapat tren baru dalam peredaran narkoba di Indonesia, salah satunya dengan menyasar masyarakat yang memiliki penghasilan atau mereka yang sudah bekerja.

“Kalau kita melihat tren dari penggunaan narkoba sekarang bukan saja anak-anak yang terkena dampak itu hari ini, tapi kami melihat bahwa pengguna narkoba ini selalu menyasar orang-orang yang memiliki penghasilan, yang punya pendapatan,” ujarnya.

Para pengedar narkoba, kata Marthinus, membuat propaganda-propaganda dalam menyasar masyarakat yang berpenghasilan. Semakin besar penghasilannya, propaganda semakin gencar dilakukan demi memperluas perdagangannya.

“Karena menurut kami narkoba atau bandar narkoba ini menggunakan sistem pasar, semakin terbuka pasar semakin dia mendapatkan keuntungan termasuk pasarnya yang mana yang dia pilih adalah orang-orang yang punya penghasilan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Marthinus mengungkapkan, para pekerja perkebunan dan tambang menjadi salah satu target dari para pengedar narkoba. Menurut dia, hampir semua pekerja di dua sektor tersebut mengonsumsi narkoba.

Sebab, lanjut Marthinus, para pengedar terus melancarkan propaganda kepada mereka bahwa semakin mengonsumsi narkoba, produktivitas kerjanya semakin meningkat.

“Menurut informasi yang kami dapat dari ini Polda Sumatera Utara masukkan dari beberapa pemilik perkebunan bahwa ada kebocoran kurang lebih 30 sampai 40 persen hasil perkebunan karena para petaninya para pekerjanya itu kemudian ditawari atau diberikan narkoba,” tuturnya.

“Sebagian dari para bandar ini mereka mempropaganda bahwa dengan menggunakan narkoba produktivitasnya meningkat nah ini juga kami temukan juga di setelah kami dengan Bupati Kota beraudiensi Waringin Timur,” imbuhnya.

Dengan demikian, Marthinus menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan pencegahan atas peredaran narkoba dan juga kepada para pengguna narkoba.

Adapun cara yang dilakukan, menurut Marthinus, dengan membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat untuk melawan narkoba.

“Membangun kesadaran kolektif, hayo ‘Mari Kita Lawan’ istilah saya itu adalah lawan Pak, lawan mereka bahkan pesan-pesan kami jelas Pak, sampai kepada bandar-bandar,” terangnya.

Menurut Marthinus, produsen terbesar narkoba saat ini berasal dari Myanmar dengan dilindungi oleh para militan yang bersenjata, bahkan lebih banyak dibanding senjata militer. Hal itulah, lanjut dia, yang menjadi salah kendala dalam pemberantasan narkoba lantaran tidak dapat dijangkau.*

Laporan M. Hafid