Pengakuan Agus Rahardjo, Saut Situmorang Minta Negara Ungkap Kebenarannya

Eks Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2015-2019 Saut Situmorang diperiksa sebagai saksi kasus dugaan pemerasan Syahrul Yasin Limpo di Polda Metro Jaya, Selasa, 17/10/2023 | Charlie Adolf Lumban Tobing/Forum Keadilan
Eks Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2015-2019 Saut Situmorang diperiksa sebagai saksi kasus dugaan pemerasan Syahrul Yasin Limpo di Polda Metro Jaya, Selasa, 17/10/2023 | Charlie Adolf Lumban Tobing/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2015-2019 Saut Situmorang menilai, keberanian Agus Rahardjo untuk mengungkap adanya dugaan intervensi Presiden Joko Widodo (Jokowi) di kasus e-KTP patut diapresiasi.

Menurutnya, apa yang disampaikan Agus merupakan kasus penting yang harus dicari tahu kebenarannya.

Bacaan Lainnya

“Untuk menyelesaikan ini harus di dalami, entah DPR, penegak hukum atau politisi. Negeri ini bukan ditentukan oleh satu orang, tapi milik banyak orang,” ujarnya kepada Forum Keadilan, Senin 4/12/2023.

Saut sendiri mengaku pernah mendengar persoalan tersebut dari Agus di tahun 2019 Namun, ia tidak tahu kapan persisnya Agus menceritakan hal tersebut ke pimpinan KPK lainnya.

Saut juga tidak tahu soal alasan kenapa Agus baru mengungkapkannya di masa Pilpres 2024.

“Kalau tanya itu bisa debatable. Yang paling penting ialah kita ingin negeri ini baik dan setiap orang harus bertanggung jawab sesuai dengan perbuatannya,” terangnya.

Selama menjabat sebagai Komisioner KPK, Saut menyebut, tidak pernah ada upaya intervensi ke KPK. Menurutnya, terdapat aturan hukum yang mengatur jika terdapat adanya dugaan intervensi kepada pimpinan KPK.

“Itu kan sudah jelas. Hukum pidana mengatur itu dan UU KPK juga mengatur,” tuturnya.

Jika benar intervensi terjadi, kata dia, itu sama saja dengan obstruction of justice atau menghalang-halangi penyidikan. Dirinya sangat menyayangkan jika pengakuan tersebut benar adanya.

“Ketika Komisi III ingin memanggil Pak Agus, sebaiknya itu dipanggil, ditanya lagi. Biar jelas, kira-kira ada tidak pertemuan itu,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua KPK Agus Rahardjo periode 2015-2019 mengaku diminta oleh Presiden Jokowi untuk menghentikan penanganan kasus korupsi pengadaan e-KTP yang menjerat Setya Novanto (Setnov).

Agus bercerita, kala itu, ia dipanggil secara pribadi oleh Jokowi. Agus mengaku heran karena biasanya Jokowi memanggil semua pimpinan KPK dalam situasi serupa.

“Presiden pada waktu itu ditemani oleh Pak Pratikno (Menteri Sekretariat Negara). Jadi, saya heran ‘biasanya manggil (pimpinan KPK) berlima ini kok sendirian’, dan dipanggilnya juga bukan lewat ruang wartawan tapi lewat masjid kecil,” ungkap Agus dalam program Rosi, Jumat, 1/12.

Agus mengaku melihat Jokowi sudah dalam keadaan marah, dan sesaat kemudian meneriakkan kata ‘hentikan’.

Namun, Presiden Jokowi sendiri menepis adanya dugaan intervensi itu. Kata Jokowi, ia telah meminta Kementerian Sekretariat Negara untuk mengecek jadwal pertemuan yang dimaksud Agus, tetapi tidak ada.

“Yang kedua buktinya proses hukum berjalan. Yang ketiga Pak Setya Novanto sudah dihukum divonis dihukum berat 15 tahun,” ujar Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin, 4/12.

Jokowi juga mempertanyakan, untuk apa hal seperti itu diramaikan.

“Terus untuk apa diramaikan itu? Kepentingan apa diramaikan itu? Untuk kepentingan apa?” katanya.*

Laporan Syahrul Baihaqi