Sabtu, 13 Juni 2026
Menu

Bank Dunia Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Melambat Jadi 5 Persen

Redaksi
Bank Dunia (World Bank). | Dok Ist
Bank Dunia (World Bank). | Dok Ist
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Bank Dunia (World Bank) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat pada 2026, yaitu sebesar 5 persen.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan turun menjadi 5 persen pada 2026 seiring dengan kenaikan harga minyak, tinggi imbal hasil obligasi global, meningkatnya sentimen risiko, hingga melemahnya permintaan dari mitra dagang yang menekan ekspor dan investasi asing.

Konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, belanja pemerintah yang berlanjut, hingga investasi domestik yang masih berjalan diperkirakan menjadi bantalan dalam jangka pendek.

“Namun, ketergantungan pada konsumsi pemerintah mengandung risiko mengingat ruang fiskal yang terbatas dan meningkatnya biaya subsidi di bawah aturan fiskal yang berlaku,” tulis Laporan Bank Dunia bertajuk Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026.

Konsumsi rumah tangga diproyeksikan tumbuh sekitar 5 persen, didukung momentum belanja rumah tangga dan kebijakan fiskal yang terarah. Konsumsi pemerintah diperkirakan meningkat lebih kuat, yaitu sebesar 8,7 persen, seiring pelaksanaan program-program prioritas.

Pertumbuhan investasi diproyeksikan melambat menjadi 4,9 persen, sedangkan pertumbuhan ekspor diperkirakan meningkat lebih kuat, yaitu sebesar 8,7 persen, seiring dengan pelaksanaan program-program prioritas.

Pertumbuhan investasi diproyeksikan melambat menjadi 4,9 persen, sedangkan pertumbuhan ekspor diperkirakan turun menjadi 5 persen.

Skenario dasar Bank Dunia mengasumsikan konflik di Timur Tengah tetap terkendali namun berlanjut sepanjang 2026.

Dalam kondisi itu, gangguan pasar minyak dan hambatan pengiriman membuat harga minyak Brent bertahan tinggi di kisaran 94 dolar AS per barel.

Kondisi moneter global juga diperkirakan tetap relatif ketat dalam jangka pendek dengan imbal hasil obligasi dan premi risiko yang masih sensitif terhadap guncangan baru, sedangkan permintaan eksternal melemah sebelum pulih secara bertahap pada 2027-2028.

“Proyeksi ini juga mengasumsikan kredibilitas kebijakan domestik tetap terjaga, defisit fiskal tetap berada dalam batas yang ditetapkan undang-undang, ekspektasi inflasi tetap terkendali, serta program investasi yang sedang berjalan, termasuk proyek terkait Danantara, terus berlanjut,” tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat menjadi 5,2 persen pada 2027 dan 2028 seiring meredanya gangguan eksternal dan berjalannya reformasi domestik yang mendukung investasi.

Pemulihan diperkirakan ditopang oleh meredanya tekanan di pasar komoditas, pertumbuhan kredit swasta yang lebih kuat, percepatan investasi Danantara, serta agenda reformasi pemerintah melalui program debottlenecking.

Dorongan investasi dari tiga sumber tersebut diharapkan dapat mengimbangi kontribusi ekspor neto yang melemah akibat memburuknya terms of trade dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan global.

Dari sisi penawaran, manufaktur berbasis komoditas, agribisnis, konstruksi, sektor jasa, dan ekonomi digital diperkirakan tetap menjadi motor utama pertumbuhan.

“Namun, kekuatan pemulihan akan sangat bergantung pada kecepatan implementasi reformasi dan kemampuan menarik investasi swasta,” tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Sementara itu, Bank Dunia sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 2,5 persen pada 2026, turun dari 2,9 persen pada 2025, yang akan menjadi laju pertumbuhan terendah sejak pandemi Covid-19.

Perlambatan itu dipengaruhi oleh memburuknya prospek negara-negara yang bergantung pada impor energi hingga negara yang terdampak langsung oleh konflik.

Aktivitas ekonomi global diperkirakan kembali menguat pada 2027-2028 seiring dengan pulihnya pasokan energi, dimulainya kembali pelonggaran kebijakan moneter, dan menguatnya perdagangan internasional. *