‘Drakor’ Jelang Pilpres Bikin Suasana Politik Panas Dingin

Megawati dan Jokowi I Ist
Megawati dan Jokowi | Ist

FORUM KEADILAN – Drama Korea (drakor) dinilai cocok untuk menggambarkan situasi Pilpres 2024. Aktor-aktor dan sutradara membuat suasana politik jadi panas dingin.

Istilah drakor di pilpres ini awalnya muncul dari Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di HUT ke-59 Golkar, beberapa waktu lalu. Menurutnya, terlalu banyak drama yang mewarnai jalannya pilpres kali ini.

Bacaan Lainnya

Belakangan, calon presiden yang diusung oleh PDIP, Ganjar Pranowo menyahuti pernyataaan tersebut. Ganjar setuju, pilpres kali ini memang banyak diwarnai drama.

Jokowi dan Ganjar juga sepakat bahwa baiknya drama-drama itu tidak terjadi. Tetapi mereka tidak menyebut siapa saja aktor-aktor di dalam drama yang dimaksud.

Memandang hal ini, Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Firman Noor menjelaskan, drakor memang dapat menggambarkan betapa rumitnya saat ini kondisi politik di Tanah Air.

“Saya enggak tahu persis. Tetapi bagi saya, drama ini ada aktor-aktor di balik itu, dan ada sutradara yang berperan membuat situasi politik kita panas dingin. Seperti opera sabun, semakin digosok semakin ramai,” katanya kepada Forum Keadilan, Rabu 15/11/2023.

Ia melanjutkan, dalam pilpres kali ini banyak sekali manuver-manuver politik yang sudah terprediksi. Seperti mendekati ketua umum partai politik untuk bergabung ke koalisi, atau memutar dan melingkar dengan memanfaatkan situasi kekuasaan.

Soal siapa sutradara di drama yang dimaksud, Prof Firman menyebut Megawati Soekarnoputri dan Presiden Jokowi.

“Semua orang sudah tahu, pasti ada Mega dan presiden itu sendiri. Saya kira karena ada respon menarik. Karena pemicunya penuh dengan drama dan responnya penuh dengan drama,” jelasnya.

Sementara itu, Peneliti senior BRIN lainnya, Prof Lily Romli menegaskan, apa yang disampaikan Ganjar tentang rakyat yang disuguhi ‘drakor’ merupakan sebuah kritik sinisme terhadap pernyataan Presiden Jokowi yang sebelumnya.

“Ia ingin mengatakan bahwa yang bermain drakor sesungguhnya Presiden Jokowi. Presiden Jokowi sendiri mengatakan tentang drakor tersebut, seperti banyak orang komentar, tidak lain ditujukan pada PDIP. Oleh karena ditujukan pada PDIP, makanya Ganjar balik menyerang dan mengungkapkan kata-kata drakor. Dan itu jelas ditujukan, menurut saya, pada Presiden Jokowi,” katanya kepada Forum Keadilan, 15/11.

Katanya, sudah menjadi rahasia umum bahwa Presiden Jokowi seperti bermain drama jelang laga anak sulungnya Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2024. Ia menyebut, Jokowi seperti berada di dua sisi yaitu panggung depan dan belakang.

“Panggung depan terlihat indah, tapi panggung belakang tidak seperti yang terjadi pada panggung depan. Gambarannya bisa macam-macam. Kritik yang muncul dari publik, yang membuat para pendukungnya kecewa, sedih dan mungkin juga marah. Presiden Jokowi memainkan itu. Beda antara panggung depan dan panggung belakang. Beda apa yang diucapkan dalam pidato, beda pula dengan yang dilakukan di belakang secara diam-diam,” lanjutnya.

Prof Lily mencontohkan, seperti kasus pencalonan Gibran. Anak sulung Jokowi itu dikatakan tidak logis maju sebagai calon wakil presiden (cawapres). Sebab Gibran dianggap belum cukup umur, dan baru dua tahun menjabat sebagai Wali Kota Solo.

“Akan tetapi, yang terjadi tidak demikian. Gibran jadi cawapresnya Prabowo. Kemungkinan potensi (cawe-cawe) itu sangat besar, karena bukan saja anaknya yang maju sebagai cawapres, tapi terkait dengan pertaruhan kelangsungan programnya dan kedudukannya,” ungkapnya.

Ia berharap di Pilpres 2024, sebagai Kepala Negara yang baik, Jokowi bisa bersikap netral meskipun anak kandung sendiri ikut berlaga nantinya.

“Saya berharap, seperti juga banyak harapan dari tokoh-tokoh bangsa, Presiden Jokowi betul-betul netral. Pidato Muhaimin, yang meskipun disampaikan dengan santai dan tamsil, juga yang disampaikan Ganjar secara serius dan intonasi yang jelas, ada tanda-tanda bahwa Presiden Jokowi kemungkinan tidak akan tinggal diam. Dia akan cawe-cawe memenangkan pasangan Prabowo-Gibran,” tutupnya.*

Laporan Merinda Faradianti