Ditjen HAM Tunggu Klarifikasi Gubernur NTT soal Sekolah Jam 5 Pagi

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat
Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat | Ist

FORUM KEADILAN – Direktorat Jenderal HAM (Ditjen HAM) Kementerian Hukum HAM (Kemenhukham) menyatakan masih menunggu klarifikasi Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Laiskodat terkait kebijakannya yang mewajibkan siswa-siswi di NTT masuk sekolah pada pukul 05.00 Wita.

Koordinator Yankomas Ditjen HAM Zuliansyah mengatakan, pihaknya tengah melakukan tindakan terkait kebijakan tersebut. Termasuk, menelaah soal aspek hak anak di NTT.

Bacaan Lainnya

“Nah, terkait dengan sekolah pagi ini, pertama kita kan melihat dari aspek hak asasi manusia terkait dengan hak anak apakah ini bertentangan dng prinsip hak terbaik (the best right for child),” ujar Zuliansyah saat ditemui di kantor Ditjen HAM, Jakarta Selatan, Selasa, 21/3/2023.

Zuliansyah menambahkan, Ditjen HAM juga tengah menunggu klarifikasi dari Gubernur NTT Viktor Laiskodat. Bahkan, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan dinas pendidikan setempat.

“Kami sudah koordinasi kan dengan gubernur NTT, kami tinggal menunggu hasil klarifikasi. Tim kami, Kanwil pun sudah bergerak di sana,” ungkapnya.

“Sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan di sana memang ada beberapa pertimbangan yang disampaikan Dinas Pendidikan di sana, tentunya bahwa itu adalah niat baik dari gubernur ingin membentuk karakter anak biar lebih disiplin, cuma kan kita harus melihat dari berbagai aspek,” sambungnya.

Sebelumnya, meski banyak memunculkan pro-kontra di kalangan masyarakat, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat tetap bergeming dengan rencananya untuk agar siswa masuk sekolah mulai jam 5 pagi.

Menurut Victor, rencana itu tidak adakan diberlakukan di semua sekolah, melainkan hanya di sekolah-sekolah tertentu saja.

“Secara serius saya menanggapi pernyataan ketua Sinode tentang sekolah jam 5 pagi. Kita perlu tidak semua sekolahan. Kita perlu dua sekolah. Dua sekolah itu sekolah unggul,” kata Victor sebagaimana dikutip dari akun Instagramnya.

Victor menjelaskan bahwa kebijakan itu bertujuan menciptakan generasi penerus yang unggul. Pasalnya, menurut Victor, selama ini siswa di NTT sulit untuk masuk ke perguruan tinggi favorit di Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).*