Senin, 12 Oktober 2026
Menu

Kenapa Sekolah Tiongkok Malah Suruh Muridnya Pegang Wajan?

Redaksi
Kemal H. Simanjuntak Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK). | Dok Ist
Kemal H Simanjuntak Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK). | Dok Ist
Bagikan:

Kemal H. Simanjuntak Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)

FORUM KEADILAN – Zaman sekarang, anak kecil pegang gawai sebentar saja sudah bisa bikin prompt pintar, merangkum ensiklopedia, atau minta kecerdasan buatan menyusun makalah dalam hitungan detik. Bangga tentu saja, tetapi ada pemandangan getir yang kerap bikin elus dada ketika anak fasih menuntun algoritma di layar, giliran disuruh bikin ceplok telur atau menyapu remah biskuit di lantai sendiri langsung mati gaya. Kita mungkin sedang membesarkan generasi pemikir canggih yang kebingungan saat jempolnya harus berganti memegang sapu.

Melihat arah zaman yang semakin digital, Tiongkok justru mengambil langkah yang bikin banyak orang mengernyitkan dahi lalu mengangguk setuju. Lewat kurikulum wajib belajar dasar (Compulsory Education Curriculum Standard), Kementerian Pendidikan Tiongkok resmi mewajibkan pelajaran keterampilan kerja nyata alias labor education.

Di sana, siswa tidak cuma dikenalkan pada dunia Artificial Intelligence (AI), melainkan ditantang masuk dapur untuk memasak, mencangkul tanah buat tanam sayur, bebersih ruangan, sampai belajar mereparasi perkakas rumah yang rusak.

Alasannya sederhana tetapi menohok yakni agar tahu bahwa jawaban di layar sama sekali tidak sama dengan bisa mengeksekusinya di dunia nyata. Secanggih apa pun peranti lunak masa depan meramal solusi, belum ada aplikasi ponsel yang tiba-tiba melompat keluar buat mencuci piring kotor atau menambal mainan patah. Jika anak hanya dilatih memencet tombol tanpa pernah menyentuh obeng atau wajan, mereka akan jadi “raja teori” yang lumpuh saat listrik mati.

Kabar baiknya, kita tidak perlu menunggu menteri pendidikan mengetuk palu kurikulum baru untuk memulai langkah waras ini. Cukup pasang aturan main sederhana di rumah setiap minggu dengan rumus tiga tugas mandiri:

1. Bikin sesuatu: Biarkan anak meracik camilannya sendiri atau merakit prakarya fisik tanpa campur tangan orang tua.

2. Bereskan sesuatu: Melatih anak bertanggung jawab penuh atas barang kepunyaannya, mulai dari menyortir isi tas sekolah sampai menata lemari baju.

3. Betulkan sesuatu: Ajak anak membetulkan mainan yang copot atau perabot ringan di rumah alih-alih langsung membuang dan minta beli baru.

Masa depan memang butuh anak-anak yang melek teknologi, tetapi hidup nyata tetap butuh orang yang tahu cara merawat dirinya sendiri. Jangan sampai anak kita jago adu cerdas dengan robot, tetapi urusan bertahan hidup di rumah sendiri malah kalah telak. *