Jumat, 14 Agustus 2026
Menu

Komisi IX DPR Sebut Sejak Sudaryono Jabat Kepala BGN Keracunan Jadi Tiap Hari

Redaksi
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 14/8/2026 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 14/8/2026 | Novia Suhari/Forum Keadilan
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris mengatakan, sejak Sudaryono dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), kasus keracunan disebutnya hampir terjadi setiap hari di berbagai daerah di Indonesia. Ia mencontohkan kasus keracunan yang kembali terjadi di Sumatra Utara.

Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan sistem distribusi makanan yang menggunakan dapur terpusat. Berdasarkan diskusinya dengan ahli gizi dan ahli keamanan pangan, makanan yang dibiarkan pada suhu ruang lebih dari empat jam memiliki risiko kontaminasi yang semakin tinggi.

“Di sinilah permasalahan menggunakan dapur yang tersentralistis dengan apa ya, dengan metode yang kurang aman ya untuk bisa menyampaikan makanan kepada anak-anak,” katanya, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, 14/8/2026.

Charles menegaskan, perbaikan seluruh dapur MBG sekalipun telah memenuhi standar laik higiene sanitasi (SLHS) tidak akan otomatis menyelesaikan persoalan apabila pola distribusi, pengadaan, dan penyajian makanan masih menggunakan sistem yang sama.

“Karena kalaupun makanan diproduksi di dapur yang proper tetapi harus tetap menunggu lebih dari empat jam untuk sebelum dikonsumsi oleh anak-anak, maka ya tetap terjadi adanya risiko kasus keracunan,” ujarnya.

Karena itu, Charles mendorong agar konsep MBG diubah dengan mengurangi ketergantungan terhadap dapur terpusat dan mengembalikan pengelolaan makanan ke sekolah. Ia mengusulkan pemberdayaan kantin sekolah serta melibatkan orang tua murid dalam penyediaan makanan.

“Orang tua murid terlibat dan saya yakin tidak ada orang tua yang mau menyajikan makanan yang tidak baik untuk anak-anaknya,” ucapnya.

Charles bahkan meyakini keterlibatan orang tua dapat membuat kualitas makanan yang diberikan kepada siswa semakin baik. Menurutnya, orang tua murid berpotensi turut membantu menambah pembiayaan agar makanan yang disajikan memiliki gizi yang baik, berkualitas, serta dapat dinikmati oleh anak-anak.

“Bahkan saya punya keyakinan orang tua murid mungkin bisa akan urunan nambahin supaya yang diberikan kepada anak-anak dalam kondisi yang baik, gizinya bagus gitu kan dan makanannya juga lezat ya enak untuk bisa dikonsumsi anak-anak,” pungkasnya.*

Laporan oleh: Novia Suhari