Selasa, 28 Juli 2026
Menu

Kepuasan Publik terhadap Kinerja Prabowo Turun, Pengamat: Bisa Jadi Strategi Mengelola Ekspektasi Publik

Redaksi
Presiden RI Prabowo Subianto | Dok BPMI Setpres/Cahyo
Presiden RI Prabowo Subianto | Dok BPMI Setpres/Cahyo
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto menurun menjadi 51,1 persen pada Juli 2026.

Menanggapi hasil survei tersebut, Direktur Eksekutif NSL Political Consultant and Strategic Campaign Nasarudin Sili Luli menilai, penurunan kepuasan publik tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai melemahnya pengaruh politik Prabowo.

Menurut Nasarudin, dalam kajian politik terdapat konsep Social Construction of Reality atau konstruksi sosial atas realitas, yakni kondisi ketika persepsi publik dapat dibentuk melalui proses sosial dan pengelolaan informasi.

“Jika menggunakan perspektif tersebut, maka narasi mengenai merosotnya kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo bisa saja merupakan bagian dari konstruksi persepsi. Namun, ini tentu masih sebatas interpretasi, bukan fakta yang dapat dipastikan,” ujar Nasarudin kepada Forum Keadilan, Selasa, 28/7/2026.

Ia menjelaskan, dalam praktik politik modern, aktor-aktor politik kerap mengelola persepsi publik. Salah satu caranya, kata dia, adalah dengan membiarkan citra politik mereka tampak melemah untuk menurunkan ekspektasi masyarakat atau mengalihkan perhatian dari isu lain yang lebih besar.

Menurut Nasarudin, realitas sosial pada dasarnya dibentuk melalui interaksi sosial dan penyebaran informasi. Karena itu, dalam sistem politik yang alur informasinya berpotensi mengalami bias, selalu ada kemungkinan terbentuknya persepsi publik yang direkayasa.

“Pada saat tertentu, pihak yang memperoleh keuntungan dari kondisi tersebut dapat menunjukkan kekuatan politiknya sehingga mengejutkan publik dan memengaruhi opini masyarakat,” katanya.

Ia menilai, apabila skenario tersebut benar terjadi, narasi mengenai menurunnya kepuasan publik justru dapat menjadi instrumen politik untuk menciptakan efek kejutan ketika muncul peristiwa yang menunjukkan masih kuatnya pengaruh politik Prabowo.

Ia mengatakan, jika memang terdapat pihak-pihak yang berperan sebagai operator politik Prabowo, maka hal itu menjadi aspek yang menarik untuk ditelusuri lebih lanjut.

“Namun, tidak bisa diabaikan juga kemungkinan adanya aktor lain yang turut terlibat dalam pembentukan persepsi tersebut,” ujarnya.

Nasarudin menambahkan, politik modern sangat bergantung pada kemampuan aktor politik dalam mengelola persepsi publik. Karena itu, menurut dia, apabila strategi semacam itu benar dilakukan, bukan tidak mungkin melibatkan jaringan yang lebih luas, termasuk para loyalis Prabowo.

“Tidak menutup kemungkinan bahwa strategi ini melibatkan jaringan yang jauh lebih luas, termasuk para loyalis Prabowo,” tukasnya.

Kendati demikian, ia menekankan bahwa seluruh pandangan tersebut merupakan analisis berdasarkan interpretasi terhadap dinamika politik yang berkembang, bukan kesimpulan yang telah terbukti.

“Pada akhirnya, ini semua masih berupa asumsi berdasarkan interpretasi. Dinamika politik jarang berlangsung secara sederhana. Sering kali terdapat intrik politik yang tidak terlihat di permukaan,” tutupnya.*

Laporan oleh: Muhammad Reza