Selasa, 28 April 2026
Menu

Indonesia Alami Inflasi Hambalang Boys

Redaksi
Presiden Prabowo Subianto bersama dengan Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya | Ist
Presiden Prabowo Subianto bersama dengan Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya | Ist
Bagikan:

Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra MBA
Pemerhati Intelijen

FORUM KEADILAN – Kekuasaan runtuh tidak selalu karena adanya oposisi yang kuat dan kasat mata, kekuasaan rapuh dan tumbang karena retak dari dalam, akibat orang-orang di sekitar kekuasaan yang tidak profesional, alias gagal paham terhadap tuntutan publik.

Kekuasaan yang rapuh dari dalam menurut Lord Acton, disebabkan oleh “power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely” (kekuasaan cenderung korup, dan kekuasaan mutlak sudah pasti korup). Legitimasi publik juga hilang, meskipun didukung kekuatan militer atau polisi. Buruknya check and balance dalam konsep trias politica, membuat kekuasaan menjadi tidak stabil.  Kemudian, timbullah kesesatan berpikir penguasa.

Pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya yang dikenal mengemban tugas gatekeeper, kerap kali menggunakan narasi “sarkasme” yang merendahkan dan menyakitkan hati, tanpa disertai oleh fakta yang jelas dan transparan. Pernyataan Teddy memiliki nilai politis dan strategis karena dipandang sebagai representasi dari suara istana.

Baru-baru ini, Letkol Teddy memberi pernyataan tentang “inflasi pengamat” didasarkan oleh intuisinya sendiri yang menuding banyak pengamat mengomentari hal-hal yang tidak sesuai dengan background pendidikan atau keahliannya. Hal tersebut telah menuai kritik dan tanggapan berbagai kalangan yang mengatakan, sebelum membuat pernyataan, sebaiknya Teddy berkaca pada diri sendiri. Kekeliruan Teddy memilih diksi dalam pernyataannya, tidak saja telah membuka peluang untuk menguliti citra pemerintah dan kebijakan Presiden Prabowo Subianto, tetapi semakin menyingkap kadar kualitas Teddy sebagai sosok muda dengan jabatan mentereng.

Pada beberapa momen kegiatan pemerintah, Teddy kerap kali menunjukan sikap kekanak-kanakan. Seperti saat Teddy menjawab pertanyaan tentang anggaran pasar murah, dengan kalimat “pokoknya ada”. Belum lagi saat mengawal Prabowo di hadapan publik, Teddy terkesan over protective bahkan cenderung arogan, telah meciptakan pemandangan kurang elok bagi citra Presiden yang dipilih rakyat.

Fenomena Teddy sebagai tokoh muda yang oleh publik dikenal dengan sebutan “Hambalang Boys”, adalah produk uji coba Prabowo dalam rangka mendorong generasi muda untuk berkiprah di panggung politik nasional, menggantikan tongkat estafet generasi tua. Sebuah langkah strategis Prabowo yang patut mendapat apresiasi. Namun sangat disayangkan, upaya Prabowo tidak disertai oleh penguatan kapasitas kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual kader-kader Hambalang Boys. Mereka besar dan menduduki jabatan strategis di usia muda, semata-mata hanya karena ditopang fasilitas dan relasi kekuasaan.

Hambalang Boys sebagai produk instan Prabowo, nampaknya diadopsi dari sukses Prabowo di masa lalu, memperoleh kenaikan pangkat cepat dan berhasil menduduki posisi strategis di TNI di usia muda, karena adanya relasi kekuasaan orang tuanya dan mertuanya mantan Presiden Suharto. Namun, sukses Prabowo diikuti oleh berbagai kontroversi, di antaranya diberhentikan dari dinas aktif prajurit TNI.

Bercermin dari sukses Prabowo di usia muda dengan berbagai kontroversi, tampaknya sudah terlihat hambatan kapasitas yang dihadapi oleh Hambalang Boys. Terbentuknya jati diri pemimpin, tidak semata-mata karena jabatan, tetapi dibutuhkan peningkatan secara simultan, kapasitas kecerdasan intelektual dan kompetensi, hingga emosional dan spiritual.

Ki Hajar Dewantara mengatakan, figur pemimpin harus mengusung konsep keteladanan Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Apakah kehadiran Hambalang Boys dalam khazanah bernegara, telah mencerminkan generasi muda yang berperan sebagai problem solving atau justru sebagai bagian dari problem taking yang membuat bangsa ini semakin terpuruk. Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kriteria sosok pemimpin, sebagaimana Allah SWT menunjuk para nabi dan rasulnya. Kriteria yang paling hakiki adalah ujian kesabaran dalam menghadapi kesulitan hidup yang luar biasa. Sebab, Allah SWT tidak menunjuk para nabi dan rasulnya dari golongan orang-orang yang hidupnya penuh dengan kemewahan dan tanpa mengalami perjalanan hidup up and down. Maka bersyukurlah bagi mereka yang hari ini dimiskinkan atau diperlakukan secara tidak adil oleh penguasa negara, karena sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang memperoleh kesempatan untuk menjadi pemimpin sejati.*