Prabowo: Kita Harus Upaya Lakukan Penghematan
FORUM KEADILAN – Presiden Prabowo Subianto mendorong langkah penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) hingga mempertimbangkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) sebagai langkah antisipasi dampak krisis global.
“Tentunya kita juga sekarang harus melakukan langkah-langkah yang proaktif, dalam arti kita harus melakukan penghematan konsumsi BBM. Kita tidak bisa menganggap bahwa apapun terjadi kita aman, ya kita bersyukur kita aman, tapi kita tidak ada upaya untuk mengurangi konsumsi BBM kita,” ujar Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 14/3/2026.
Kepala Negara itu menjelaskan bahwa perkembangan situasi global di kawasan Eropa dan Timur Tengah berpotensi mempengaruhi harga BBM. Kenaikan harga energi itu dinilai dapat berdampak pada harga pangan sehingga pemerintah perlu menyiapkan langkah-langkah proaktif.
Menurutnya, Indonesia sudah mengamankan sejumlah kebutuhan pangan mendasar. Sementara itu, pemerintah juga mempunyai rencana terkait sektor energi yang akan dipercepat pelaksanaannya.
Walaupun demikian, Prabowo menilai penghematan konsumsi BBM tetap perlu dilakukan sebagai bagian dari upaya menghadapi ketidakpastian global.
Presiden pun mencontohkan sejumlah langkah penghematan yang dilakukan negara lain, seperti Pakistan yang menerapkan langkah yang dianggap sebagai langkah kritis, antara lain penerapan kerja dari rumah bagi pegawai pemerintah dan swasta hingga 50 persen hingga pengurangan hari kerja menjadi empat hari dalam sepekan.
Pemerintah negara juga melakukan penghematan dengan mengurangi gaji anggota kabinet dan DPR, memangkas penggunaan BBM pada kendaraan pemerintah, membatasi penggunaan kendaraan dinas, hingga menghentikan sejumlah belanja pemerintah seperti pengadaan kendaraan, pendingin ruangan, dan perabot kantor.
Kebijakan lain yang diterapkan adalah penghentian kunjungan luar negeri dengan dana pemerintah hingga pembatasan penggunaan anggaran untuk kegiatan seremonial.
Prabowo menyampaikan bahwa berbagai contoh langsung itu dapat menjadi bahan kajian bagi pemerintah untuk menentukan kebijakan penghematan yang diperlukan.
“Ini hanya contoh ya, ini contoh. Maksud saya ini ada berapa hari saya kira kita bisa mengkaji masalah ini ya kan. Saya kira kita juga harus mengupayakan bahwa kita melakukan penghematan. Saya percaya dua tiga tahun kita akan sangat kuat, tapi tetap kita harus hemat konsumsi,” jelasnya.
Prabowo menilai pengalaman Indonesia dalam menghadapi pandemi COVID-19 menunjukka bahwa penerapan kerja dari rumah dapat membantu efisiensi dan mengurangi konsumsi BBM.
Ia meminta agar hal itu segera dibicarakan dengan Menteri Koordinator terkait.
“Ini saya minta dibicarakan nanti ya mungkin oleh Menko-Menko nanti berapa hari ini kita lihat. Kita pikirkan. Dulu kita atasi COVID, berhasil kita. Dan kita mampu, banyak bekerja dari rumah, efisiensi, berarti kita menghemat BBM dalam jumlah yang sangat besar,” tegasnya.
“Umpamanya berapa ASN dan pejabat tidak usah ke kantor, mengurangi macet dan melaksanakan penghematan besar-besaran. Mengurangi hari kerja pun harus kita pertimbangkan dan langkah-langkah penghematan lainnya,” sambungnya.
Prabowo menjelaskan penghematan konsumsi energi diharapkan dapat membantu menjaga kondisi fiskal negara agar defisit anggaran tidak meningkat.
Pemerintah, lanjutnya, masih adanya potensi kebocoran dan ketidakefisienan dalam pengelolaan anggaran, termasuk Praktik administrasi yang tidak tepat.
Prabowo juga menyinggung masih adanya potensi kebocoran dan ketidakefisienan dalam pengelolaan anggaran, termasuk Praktik administrasi yang tidak tepat.
Ia mengatakan upaya sinkronisasi sistem pemerintahan melalui pengembangan GovTech yang dikoordinasikan oleh Dewan Ekonomi Nasional (DEN) diperkirakan dapat mengurangi kebocoran hingga 40 persen dari pengeluaran negara.
“Kita sudah lakukan langkah-langkah tadi oleh Ketua DEN masalah GovTech, sinkronisasi semua K/L menjadi satu jaringan GovTech. Ini diperkirakan bisa kurangi kebocoran sampai dengan 40 persen dari pengeluaran kita,” tuturnya.
Prabowo pun mengingatkan bahwa pemerintah perlu tetap waspada menghadapi berbagai kemungkinan terburuk di tengah ketidakpastian global, termasuk potensi konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
“Kita walaupun merasa aman, tidak panik tapi kita juga tidak boleh terlalu lengah. Kita tidak boleh tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling jelek. Kita berharap skenario yang terburuk tidak terjadi di Timur Tengah, tapi ramalan-ramalan juga banyak mengatakan ini bisa jadi perang yang sangat panjang, perang yang sangat panjang,” tandasnya. *
