BOI Desak Polisi Tangkap Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS dalam 3 Hari
FORUM KEADILAN – Pengamat dari Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti, menegaskan bahwa Barisan Oposisi Indonesia (BOI) mendesak aparat Kepolisian segera menangkap pelaku penyiraman air keras terhadap pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus. BOI meminta agar pelaku sudah dapat ditangkap paling lambat tiga hari sejak peristiwa tersebut terjadi.
Ray menilai, praktik kekerasan terhadap kelompok kritis menunjukkan bahwa perlindungan terhadap warga negara yang menyuarakan kritik justru semakin melemah. Menurutnya, situasi ini memperkuat pandangan bahwa penghargaan terhadap kebebasan berpendapat di Indonesia tidak mengalami kemajuan.
“Praktik ini makin menguatkan pandangan kita bahwa penghargaan dan perlindungan terhadap warga negara yang kritis bukan saja jalan di tempat, tapi makin melemah,” katanya dalam keterangan tertulis, Sabtu, 14/3/2026.
Ia juga menyinggung peristiwa penangkapan hampir 1.000 demonstran pada Agustus 2025 di berbagai kota. Menurutnya, jika dalam hitungan jam aparat Kepolisian dapat menahan banyak demonstran, maka seharusnya tidak sulit bagi polisi untuk menangkap pelaku penyiraman air keras tersebut.
“Oleh karena itu, sangat wajar bila kita meminta selambat-lambatnya tiga hari dari peristiwa ini pelaku sudah dapat ditangkap dan motif utamanya diungkap,” ujarnya.
Ray mengutuk keras aksi penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus yang menyebabkan luka serius di sejumlah bagian tubuh korban. Akibat serangan tersebut, badan, wajah hingga mata korban mengalami luka parah, bahkan sekitar 24 persen bagian tubuhnya dilaporkan mengalami luka bakar.
Ia juga meminta Kepolisian tidak hanya menangkap pelaku lapangan, tetapi juga mengungkap aktor intelektual di balik peristiwa tersebut. Menurutnya, penyelidikan seharusnya dapat dilakukan dengan cepat karena terdapat sejumlah rekaman kamera pengawas.
“Jika merujuk pada tayangan CCTV, seharusnya pihak Kepolisian akan cepat menangkap pelaku. Setidaknya ada empat sudut tayangan CCTV yang tersedia untuk menjadi pijakan mengungkap kejahatan ini,” jelasnya.
Selain itu, BOI juga meminta jajaran pemerintah, khususnya pejabat yang pernah menjadi pegiat HAM dan demokrasi, ikut mendorong pengungkapan kasus tersebut secara serius. Mereka juga diminta menjamin keamanan serta kebebasan bersuara bagi para aktivis dan kelompok kritis.
Ray menegaskan, para pejabat yang sebelumnya aktif dalam gerakan demokrasi tentu memahami risiko dan ancaman yang dihadapi kelompok kritis. Oleh karena itu ia berharap, setelah berada di dalam pemerintahan, mereka tidak justru membiarkan ruang kebebasan tersebut semakin tergerus.
Menurutnya, kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM ini juga berpotensi berdampak pada citra pemerintahan Prabowo Subianto. Ia menyebut, peristiwa tersebut dapat mengingatkan publik pada kasus-kasus pelanggaran HAM di masa lalu.
“Penyiraman ini dapat berimplikasi terhadap wajah pemerintahan. Kenangan peristiwa penculikan di era Orde Baru tentu akan cepat terbersit kembali,” tegasnya.
Ray menambahkan, di tengah upaya presiden mengundang berbagai kelompok masyarakat berdialog di Istana Negara, peristiwa kekerasan terhadap aktivis justru berpotensi merusak kepercayaan publik.
“”Peristiwa ini dapat mengurangi upaya dialog tersebut dan menambah kesan bahwa segala upaya dialog itu hanyalah sekadar basa-basi,” pungkasnya.*
Laporan oleh: Novia Suhari
