Jumat, 13 Maret 2026
Menu

Polisi Bantah Isu Sosok Misterius Tekan Istri Ermanto Usman, Sebut Bagian dari Proses Penyelidikan

Redaksi
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu, 11/3/2026 | Muhammad Reza/Forum Keadilan
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu, 11/3/2026 | Muhammad Reza/Forum Keadilan
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin merespons kabar yang beredar mengenai seorang pria yang mengaku sebagai penyidik dan memaksa ingin menemui Pasmilawati (60), istri mendiang pensiunan Jakarta International Container Terminal (JICT) Ermanto Usman (65), yang saat ini masih dalam kondisi kritis di rumah sakit.

Informasi tersebut sebelumnya disampaikan oleh anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka. Ia mengaku menerima laporan langsung dari anak korban mengenai kedatangan sosok misterius yang mengaku sebagai penyidik dan ingin menemui ibunya.

Menanggapi hal itu, Iman menegaskan bahwa kehadiran petugas yang melakukan penggalian informasi merupakan bagian dari proses penyelidikan yang dilakukan oleh tim Kepolisian.

“Prasangka yang disampaikan mungkin yang dibilang ada oknum dan lain-lain. Itu memang sudah kami bahas juga dengan pihak LPSK yang memberikan perlindungan kepada para saksi,” ujar Iman dalam jumpa pers di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu, 11/3/2026.

Ia menjelaskan bahwa petugas penyelidik memang melakukan pendalaman dan pencarian keterangan dari berbagai pihak untuk mengungkap peristiwa yang sebenarnya. Namun, proses tersebut dilakukan dengan sangat hati-hati, mengingat kondisi keluarga korban yang masih berduka.

“Karena memang kami juga harus berhati-hati menjaga stabilitas emosional dari keluarga korban saat kondisi mereka sedang berduka,” katanya.

Menurut dia, penggalian informasi dilakukan di berbagai tempat dan kepada berbagai pihak untuk mengumpulkan petunjuk yang diperlukan dalam proses penyidikan. Dari hasil pengumpulan data tersebut, penyidik kemudian menyusun konstruksi hukum untuk mengarah pada pelaku yang diduga bertanggung jawab.

Iman juga menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menemukan bukti yang mendukung dugaan bahwa pembunuhan terhadap Ermanto Usman berkaitan dengan pembongkaran kasus korupsi sebagaimana ramai diperbincangkan di media sosial.

“Kami sampaikan bahwa berdasarkan data dan fakta, bukan asumsi. Kalau di media sosial itu hanya berdasarkan asumsi saja,” ujarnya.

Ia menyatakan bahwa penyidik masih terus melakukan pendalaman agar kasus tersebut dapat terungkap secara terang benderang. Saat ini, fokus penanganan perkara masih pada dugaan tindak pidana pembunuhan yang disertai pencurian dengan kekerasan.

“Pidana atau perbuatan pokok yang saat ini sedang ditangani oleh penyidik kami adalah pembunuhan yang disertai atau diikuti oleh pencurian dengan kekerasan,” katanya.

Meski demikian, Iman memastikan penyidik tidak akan menutup kemungkinan untuk mengembangkan perkara apabila ditemukan fakta hukum baru di kemudian hari.

“Adapun nanti ada fakta-fakta hukum lain, tentunya kami juga tidak akan berhenti sampai di sini,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa penanganan kasus tersebut dilakukan secara ilmiah dan profesional oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

“Penanganan yang dilakukan secara scientific investigation, profesional, transparan, dan akuntabel, serta hasilnya dapat dipertanggungjawabkan,” pungkas Iman.

Diketahui, Ermanto Usman tewas di rumahnya di Jatibening, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat pada Senin, 2/3. Dalam peristiwa itu, istri Ermanto juga mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan medis di rumah sakit.

Sebelum peristiwa tersebut terjadi, Ermanto sempat mengungkap dugaan korupsi terkait pengelolaan pelabuhan dalam sebuah podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV pada 15 Desember 2025 berjudul “Pelindo Boneka PT Hutchinson (Hongkong), Ada Pemerintah di Atas Pemerintah”.

Dalam podcast tersebut, Ermanto membeberkan sejumlah bukti terkait dugaan praktik korupsi dalam pengelolaan pelabuhan. Ia juga menyebut sejumlah nama pejabat penting di Indonesia, di antaranya Erick Thohir dan Boy Thohir.*

Laporan oleh: Muhammad Reza