Kematian Ermanto Usman Dinilai Janggal, Masyarakat Desak Aparat Usut Sampai Tuntas
FORUM KEADILAN – Massa yang tergabung dalam Gerakan Utara Bersatu Peduli Ermanto Usman mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas kematian aktivis pelabuhan, Ermanto Usman, yang selama ini dikenal vokal mengungkap dugaan korupsi di lingkungan pelabuhan.
Koordinator aksi Juharto Harianja mengatakan, kegiatan itu merupakan bentuk kepedulian para aktivis terhadap kematian Ermanto yang selama ini dikenal vokal mengungkap dugaan praktik korupsi di lingkungan pelabuhan.
“Untuk kegiatan aksi hari ini tentunya menyikapi terbunuhnya teman kita, Ermanto Usman. Beliau adalah aktivis pelabuhan dan mantan karyawan di JICT yang selama ini konsisten membongkar berbagai persoalan di dalam tubuh pelabuhan,” kata Juharto, di Jakarta, Rabu, 11/3/2026.
Ia mengatakan, publik terakhir kali melihat aktivitas Ermanto ketika diwawancarai dalam podcast Madilog Forum Keadilan TV pada Desember 2025. Namun, dua bulan kemudian, ia ditemukan meninggal dunia.
“Terakhir kita dengar beliau diwawancarai di Madilog pada bulan Desember, lalu pada Maret beliau terbunuh. Ini betul-betul di luar pemikiran kami sebagai aktivis yang konsen pada persoalan korupsi,” ujarnya.
Juharto juga menanggapi pernyataan Kepolisian yang menyebut kematian Ermanto sebagai peristiwa perampokan murni dan tidak berkaitan dengan dugaan korupsi yang pernah diungkap korban. Menurut dia, masyarakat berhak mempertanyakan kesimpulan tersebut.
“Kalau Kepolisian menyatakan sampai saat ini itu hanya perampokan dan tidak ada hubungan dengan dugaan korupsi, silakan saja. Tapi rakyat Indonesia tidak bodoh,” kata dia.
Ia menilai, ada berbagai persoalan besar dalam pengelolaan pelabuhan yang sebelumnya sempat diungkap oleh Ermanto.
“Dengan peta persoalan yang ada, seharusnya negara bisa mendapatkan keuntungan puluhan miliar. Tapi yang terjadi justru ada pihak-pihak yang diduga menikmati keuntungan tersebut. Jadi wajar kalau publik mempertanyakan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Juharto mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut kasus kematian Ermanto secara menyeluruh dan tidak berhenti pada pelaku yang telah ditangkap.
“Harapan kami sebagai aktivis di Jakarta Utara, kasus ini benar-benar diusut sampai ke akar-akarnya. Jangan berhenti hanya pada siapa yang sudah ditangkap oleh Polda,” katanya.
Ia juga menyebut bahwa sebelumnya, Ermanto sempat melaporkan dugaan korupsi yang diketahuinya ke sejumlah lembaga negara, termasuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Beliau sudah melapor ke KPK, ke DPR, dan ke berbagai pihak lainnya. Tapi seolah-olah tidak ada respons. Yang terjadi justru beliau terbunuh,” ujarnya.
Menurut Juharto, peristiwa tersebut menimbulkan kecurigaan di kalangan aktivis bahwa ada kemungkinan motif lain di balik kematian Ermanto.
“Ini di luar nalar kami. Karena itu kami menduga ada desain besar untuk membungkam pengungkapan kasus tersebut,” kata dia.
Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa keluarga almarhum sempat merasa terancam setelah kejadian tersebut.
“Bahkan istrinya sempat didatangi orang yang mencurigakan. Keluarga sudah melapor ke lembaga perlindungan saksi. Ini tentu sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.
Juharto berharap, para aktivis dan masyarakat sipil tidak berhenti menyuarakan tuntutan keadilan dalam kasus tersebut.
“Harapan kami, para aktivis jangan lelah bersuara. Mungkin kami bukan orang yang sempurna, tetapi nurani harus tetap hidup. Pembunuhan ini menurut kami sudah di luar nalar,” katanya.
Sebelumnya, Polda Metro Jaya mengungkap perkembangan terbaru kasus pembunuhan terhadap Ermanto Usman (65), pensiunan karyawan PT Jakarta International Container Terminal (JICT). Polisi menyebut, motif pelaku melakukan aksi tersebut diduga murni karena faktor ekonomi.
“Motif tersangka murni ekonomi. Saat ini kami tidak menemukan motif lain dari kejadian tersebut selain motif pencurian ataupun pembunuhan yang dilakukan dalam rangkaian pencurian oleh tersangka tersebut,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin.
Meski demikian, penyidik masih terus mendalami berbagai kemungkinan lain, termasuk melalui pemeriksaan digital forensik terhadap ponsel milik korban yang sempat diambil pelaku.
“Kami akan tetap melakukan pendalaman agar kasus ini terang benderang,” ujarnya.*
Laporan oleh: Muhammad Reza
