Selasa, 10 Maret 2026
Menu

Misteri Kematian Aktivis Pelabuhan Ermanto Usman: Perampokan atau Terkait Dugaan Korupsi yang Dibongkar?

Redaksi
Pengurus Perkumpulan Pensiunan JICT Ermanto Usman | YouTube Forum Keadilan TV
Pengurus Perkumpulan Pensiunan JICT Ermanto Usman | YouTube Forum Keadilan TV
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Kematian aktivis buruh sekaligus Ketua Paguyuban Pensiunan Karyawan Jakarta International Container Terminal (JICT) Ermanto Usman, masih menyisakan tanda tanya. Hingga lebih dari sepekan setelah peristiwa itu terjadi, Kepolisian belum memastikan motif di balik kematian korban yang ditemukan tewas di kediamannya di Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, pada Senin, 2/3/2026.

Polisi menyatakan masih mendalami seluruh kemungkinan, termasuk dugaan perampokan maupun pembunuhan yang direncanakan.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Budi Hermanto mengatakan, penyelidik masih mengumpulkan berbagai informasi untuk mengungkap penyebab kematian korban.

“Masih didalami. Semua informasi segera diperlukan untuk membantu penyelidik,” kata Budi kepada wartawan, Senin, 9/3.

Ia meminta publik memberikan waktu kepada penyidik untuk mengungkap secara menyeluruh kasus tersebut.

“Mohon waktu ya,” ujarnya.

Dugaan Perampokan yang Janggal

Dari penyelidikan awal, polisi menemukan sejumlah barang milik korban yang hilang setelah peristiwa penyerangan tersebut. Di antaranya, gelang emas yang dikenakan korban serta dua kunci mobil.

Temuan ini memunculkan dugaan awal bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan tindak perampokan. Namun hingga kini, polisi belum menyimpulkan apakah hilangnya barang tersebut merupakan motif utama atau hanya bagian dari upaya mengaburkan kejahatan yang lebih besar.

Dalam banyak kasus perampokan rumah, pelaku biasanya mengambil berbagai barang berharga yang mudah dibawa seperti uang tunai, perhiasan, atau perangkat elektronik. Sementara dalam kasus ini, kehilangan yang dilaporkan relatif terbatas.

Fakta ini membuat sebagian kalangan mempertanyakan apakah peristiwa tersebut benar-benar bermotif perampokan atau justru ada motif lain di balik kematian korban.

Anggota DPR RI sekaligus Ketua Umum Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI) Rieke Diah Pitaloka juga menilai peristiwa tersebut sulit disebut sebagai perampokan biasa. Menurutnya, dari pengamatan di lokasi kejadian tidak banyak barang berharga milik korban yang hilang.

“Ini bukan perampokan karena tidak ada barang yang hilang kecuali kunci mobil, dompet, dan handphone. Jadi saya kira perlu ada kajian dan investigasi yang lebih luas dan lebih tajam dari pihak Kepolisian,” ujarnya saat berada di rumah duka di Bekasi.

DPR Dorong Pendalaman Kasus

Kasus kematian Ermanto juga mendapat perhatian dari parlemen. Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Safarudin mengatakan, pihaknya akan mengusulkan pendalaman kasus melalui Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU).

Menurutnya, Komisi III perlu mendengar langsung keterangan dari pihak keluarga, khususnya istri korban yang juga menjadi korban dalam peristiwa tersebut dan saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit.

“Nanti kita sarankan kepada Ketua Komisi III supaya ada RDPU. Tapi yang utama tentu keterangan dari pihak keluarga, karena dia juga salah satu saksi kunci agar kasus ini bisa terungkap,” kata Safarudin kepada Forum Keadilan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 9/3/2026.

Safarudin berharap Kepolisian dapat segera mengungkap motif di balik kematian aktivis tersebut.

“Inilah yang kita harapkan bisa segera diungkap oleh Polri. Memang salah satu kemungkinan bisa dilihat dari aktivitas beliau sebagai aktivis, termasuk dalam isu-isu yang berkaitan dengan dugaan korupsi. Tapi kita tidak boleh terpaku hanya di situ,” ujarnya.

Menurutnya, penyelidikan harus dilakukan secara menyeluruh agar tidak hanya terfokus pada satu kemungkinan.

“Nanti mudah-mudahan cepat terungkap sehingga motifnya bisa kita ketahui berasal dari mana,” katanya.

Ia juga menilai, pengungkapan kasus tersebut dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan penyelidikan, mulai dari hasil autopsi hingga penelusuran jejak digital korban, meskipun telepon genggam milik korban dilaporkan hilang.

“Bisa juga dilihat dari hasil autopsi, jejak digital walaupun handphone-nya hilang. Tapi Polri tentu bisa menelusuri jejak digital untuk membantu mengungkap kasus ini,” ujarnya.

Kejanggalan di Rumah Sakit

Di tengah penyelidikan yang masih berlangsung, keluarga korban mengungkap adanya kejadian mencurigakan di rumah sakit tempat istri korban dirawat.

Perwakilan keluarga, Dalsaf Usman mengatakan, sempat ada seseorang yang mengaku sebagai penyidik datang untuk mengambil sampel darah dari istri korban. Namun, permintaan tersebut ditolak keluarga karena pria tersebut tidak menunjukkan identitas resmi.

“Ya, ngakunya penyidik. Tapi kami dari pihak keluarga langsung menolak. Tidak masuk akal saja, kondisi pasien masih belum pulih kok mau mengambil sampel darah,” kata Dalsaf.

Ia menjelaskan, orang tersebut tidak mengenakan pakaian dinas Kepolisian maupun menunjukkan tanda pengenal resmi.

Keluarga kemudian melaporkan kejadian itu kepada anggota DPR RI Rieke Diah Pitaloka, untuk dikonfirmasi kepada pihak Kepolisian.

Menurut Dalsaf, setelah dikonfirmasi, pihak Kepolisian tidak memberikan komentar terkait keberadaan orang yang mengaku sebagai penyidik tersebut.

 

“Nah karena itu sudah dikonfirmasi sama Bu Rieke ke pihak Polresta, pihak Polrestanya nggak ada komentar apa-apa,” ujarnya.

Keluarga kini membatasi akses kunjungan di rumah sakit karena khawatir ada pihak yang menyusup dengan mengaku sebagai aparat penegak hukum.

“Dengan kondisi seperti ini kita khawatir ada penyusup,” katanya.

Aktivis yang Vokal Mengungkap Dugaan Korupsi

Sebelum meninggal dunia, Ermanto dikenal sebagai sosok yang aktif menyuarakan berbagai persoalan di sektor pelabuhan. Ia merupakan Ketua Paguyuban Pensiunan Karyawan JICT, perusahaan yang saham utamanya dimiliki oleh Pelindo.

Rieke Diah Pitaloka menyebut, Ermanto bukan sekadar pensiunan biasa. Menurutnya, almarhum merupakan salah satu sosok yang sejak lama aktif mendorong pengungkapan dugaan korupsi besar di sektor pelabuhan.

Belakangan, Ermanto juga dikenal sebagai pengamat pelabuhan yang kerap mengkritisi dugaan praktik korupsi dalam pengelolaan pelabuhan.

Beberapa waktu sebelum kematiannya, ia bahkan mengangkat isu tersebut dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV pada 15 Desember 2025 berjudul “Pelindo Boneka PT Hutchinson (Hongkong), Ada Pemerintah di Atas Pemerintah.”

Dalam podcast tersebut, Ermanto membeberkan sejumlah dugaan praktik korupsi dalam pengelolaan pelabuhan dan menyebut sejumlah nama pejabat penting, termasuk Erick Thohir, serta pengusaha Boy Thohir.

Selain itu, dugaan korupsi yang disuarakan Ermanto disebut-sebut juga pernah dibawanya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Motif Masih Menjadi Teka-Teki

Hingga kini, Kepolisian belum menetapkan tersangka maupun memastikan motif di balik kematian Ermanto Usman. Sejumlah fakta yang muncul dalam penyelidikan, mulai dari barang yang hilang, ponsel korban yang tidak ditemukan, hingga latar belakang aktivitas korban dalam mengungkap dugaan korupsi membuat publik bertanya-tanya, apakah peristiwa tersebut merupakan tindak kriminal biasa atau berkaitan dengan aktivitas advokasi yang selama ini dilakukan korban?*

Laporan oleh: Muhammad Reza