Organisasi Pelabuhan: Pembunuhan Ermanto Usman Upaya Sistematis Bungkam Pemberantasan Korupsi
FORUM KEADILAN – Perkumpulan Purnabakti Pelabuhan Bersatu (OPPI) Tingkat Wilayah I Medan mendesak sejumlah pihak untuk turut aktif dalam pengusutan kasus pembunuhan Pensiunan Pelabuhan Indonesia sekaligus aktivis pengungkap dugaan korupsi pelabuhan, Ermanto Usman.
Hal ini lantaran OPPI Medan I memandang bahwa kasus ini bukan hanya kriminalitas biasa, namun serangan langsung terhadap gerakan anti-korupsi yang selama ini aktif digaungkan oleh Ermanto Usman terkait penyimpangan pengelolaan Jakarta International Container Terminal (JICT) yang merupakan anak perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo).
Menurut OPPI Medan I, peristiwa ini juga menunjukan adanya upaya sistematis untuk membungkam partisipasi publik dalam pemberantasan korupsi Indonesia.
“Kami memandang peristiwa ini bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan serangan langsung terhadap gerakan anti-korupsi dan upaya sistematis untuk membungkam partisipasi publik dalam pemberantasan korupsi di Indonesia,” tulis OPPI Medan I dalam keterangan yang diterima Forum Keadilan, Sabtu, 7/3/2026.
Sejumlah pihak tersebut pertama, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) khususnya Kapolri, Kapolda Metro Jaya, dan Kapolres Bekasi untuk segera mengungkap pembunuhan, menangkap pelaku lapangan, dan mengungkap aktor intelektual (mastermind) di balik pembunuhan Ermanto Usman secara transparan dan akuntabel.
“Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), agar melakukan monitoring dan investigasi secara independen atas dugaan pelanggadan HAM dan penganiayaan berat yang menyebabkan kematian pembela HAM yang merupakan aktivis anti-korupsi ini,” ujar OPPI Medan I.
Ketiga, OPPI Medan I juga mendesak Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk dapat memberikan perlindungan saksi secara maksimal kepada keluarga korban dan saksi lain yang mengetahui peristiwa tersebut.
Terakhir, OPPI Medan I meminta Pemerintah Pusat untuk bisa menjamin keamanan kepada para aktivis/pembela HAM supaya terhindar dari intimidasi dan serangan secara fisik.
Selain itu, OPPI Medan I mengaku akan terus mengawal jalannya pengusutan kasus ini. OPPI Medan I juga menegaskan bahwa kasus kematian Ermanto Usman ini tidak menghentikan partisipasi mereka dalam memberantas korupsi.
“Kami akan terus mengawal kasus ini sampai aktor intelektualnya ditangkap dan diadili, terhadap kematian aktivis anti-korupsi tidak akan menghentikan semangat kami sebagai warga negara Republik Indonesia ikut berpartisipasi dalam memberantas korupsi,” tegas OPPI Medan I.
Diketahui, Bareskrim Polri telah mengungkapkan akan turun tangan membantu penyelidikan kasus penyerangan terhadap Ermanto Usman di Pondok Gede, Kota Bekasi.
Aksi penyerangan oleh orang yang tidak dikenal yang terjadi menjelang waktu sahur tersebut mengakibatkan Ermanto meninggal dunia dan istri korban P (60) kini dalam kondisi kritis akibat luka benda tumpul di kepala.
“Ya sementara tim gabungan dari Bareskrim, Polda, dan Polres, Polsek Pondok Gede, masih melakukan penyelidikan ya,” ujar Kasihumas Polres Metro Kota Bekasi, AKP Suparyono, kepada wartawan, Jumat, 6/3.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menjelaskan bahwa sampai saat ini, tim gabungan masih menyelidiki terkait jumlah pelaku yang terlibat melakukan penyerangan. Tim penyelidik pun juga tengah mendalami informasi dugaan ke arah tindak pidana pembunuhan di kasus tersebut.
“Masih dalam penyelidikan. Masih didalami (apakah ini pembunuhan), semua informasi segera diperlukan untuk membantu penyelidik,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, pihak keluarga juga telah mengungkap kejanggalan di balik kematian Ermanto Usman.
Hal itu diungkapkan oleh kakak kandung korban berinisial DS saat ditemui di rumah duka yang berlokasi di Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi.
Kata DS, pelaku mengambil dua kunci mobil milik Ermanto. Namun, mobilnya tidak ikut diambil. Hal ini pun membuatnya bertanya-tanya, mengapa pelaku hanya mengambil kunci mobil Ermanto.
“Nah kemudian selain itu tadi, kalau kita ini pelajari, di sini realita daripada tempat kejadian perkara. Ini kan ada dua mobil di sini, mobilnya tidak diambil. Tapi kunci mobil dibawa oleh mereka,” katanya kepada wartawan, Selasa, 3/3.
Kejanggalan lain yang diungkapkan adalah pelaku tidak mengambil harta benda korban, terutama brankas yang berada di kamar. Bahkan, lemari korban juga masih tersusun rapi.
“Nah justru berangkasnya juga tidak rusak, tidak disentuh. Kemudian juga lemari itu juga masih tersusun rapi,” tambahnya.
Selain menjarah kunci mobil korban, DS mengungkap bahwa pelaku justru menjarah kedua ponsel milik Ermanto dan istrinya.
“Kemudian juga selain kunci mobil yang hilang, memang ada handphone. Handphone almarhum dan handphone istrinya. Ya mungkin hilang atau dibawa oleh pelaku gitu ya, kita enggak tahu,” katanya.
“Ya kalau kita bicara aneh kok yang diambil itu cuma handphone sama kunci mobil,” ucapnya.
Dirinya lantas meminta kepada aparat Kepolisian untuk mengusut kematian Ermanto sampai tuntas. Meski Ermanto dikenal aktif sebagai aktivis, pihak keluarga belum ingin berspekulasi terkait penyebab kematiannya.
“Tentunya keluarga kami tidak dalam kapasitas untuk menyampaikan, menyatakan apakah ini perampokan, memang apakah pembunuhan berencana. Itu semuanya menjadi kewenangan daripada Kepolisian,” katanya.
Adapun Ermanto Usman diserang oleh orang tidak dikenal di kediamannya di Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi. Kejadian tersebut terjadi pada Senin, 2/3, dini hari.
Dirinya meninggal di Rumah Sakit Primaya, Bekasi Barat. Selain Ermanto, istrinya juga menjadi korban dalam tragedi tersebut dan kini masih dalam kondisi kritis.*
Laporan oleh: Puspita Candra Dewi
