Lingkaran Setan Tak Berujung Penyelewengan Solar Subsidi
FORUM KEADILAN – Surat pembaca Forum Keadilan kembali mendapatkan laporan terkait kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi yang terjadi di hampir seluruh wilayah Sumatra. Selain itu, terdapat juga laporan yang menyebut kelangkaan solar subsidi terjadi di Gorontalo, Sulawesi Selatan.
Laporan ini diperkuat dengan sebuah pemberitaan yang dilansir dari gopos.id, Senin, 19/8/2026 yang melaporkan bahwa terdapat 71 galon BBM jenis solar bersubsidi yang diamankan personel Intel Kodam XIII/Merdeka di wilayah Kabupaten Pohuwato, pada Kamis, 6/8 dini hari.
Menanggapi hal ini, Pengamat Energi Hadi Ismoyo menyebut bahwa dugaan kelangkaan solar subsidi akibat ditimbun hingga diarahkan untuk penggunaan pihak-pihak tertentu, termasuk untuk industri, bisa dikatakan benar. Sebab katanya, stok solar subsidi mencukupi bahkan faktor cuaca masih terkendali.
“Bisa jadi dugaaan tersebut benar. Karena sepanjang dari pemberitaan selama ini, stock cukup, cuaca masih terkendali, tidak ada banjir ekstrem,” ujar Hadi Ismoyo kepada Forum Keadilan, Senin, 10/8/2026.
Ismoyo juga memandang bahwa selama masih ada disparitas harga, hingga penegakan hukum terhadap oknum tidak bertanggung jawab masih lemah, maka hal-hal seperti ini masih akan terus terjadi.
Dewan Penasihat Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) 2025-2028 ini pun menyebut bahwa seharusnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga Pertamina sudah mengetahui jika terdapat indikasi solar subsidi tidak tepat sasaran. Sebab, mekanisme pendistribusian BBM ini telah berlangsung selama puluhan tahun. Menurutnya, diperlukan kerja sama lebih erat antara aparat penegak hukum (APH) agar bisa memberantas oknum yang melakukan penyimpangan seperti ini.
“Mekanisme distribusi BBM ini kan sudah berlangsung puluhan tahun, jika ada indikasi distribusi tidak tepat sasaran, seharusnya KESDM dan Pertamina sudah tahu,” ujarnya.
“Diperlukan kerja sama lebih erat lagi kepada APH, agar pemberantasan terhadap oknum yang tidak bertanggung jawab bisa diberantas sampai ke akar-akarnya,” lanjut Ismoyo.
Di sisi lain, Ismoyo menyarankan agar dapat dilakukan program lain untuk memberantas oknum-oknum yang melakukan penyelewengan, yakni dengan cara mencabut subsidi dan menggantinya dengan bantuan langsung tunai (BLT), hingga mengonversi BBM ke gas alam. Menurutnya, gas alam justru sulit untuk diselewengkan.
Selain itu, kata Ismoyo, APH juga perlu melakukan investigasi secara menyeluruh dan terus menerus untuk bisa memastikan indikasi penyelewengan tersebut benar terjadi. APH, termasuk di dalamnya TNI dan Polri, harus menjadi garda terdepan dalam melakukan pengawalan.
Namun Ismoyo menilai, hingga saat ini penegakan hukum terhadap oknum yang melakukan penyelewengan distribusi solar subsidi masih tebang pilih. Hukumannya pun masih terbilang ringan. Ia menekankan, APH perlu menindak tegas oknum yang melakukan penyelewengan tersebut.
“Dibawa ke meja hijau dan dihukum berat karena merampas hak rakyat kecil,” tuturnya.
Ismoyo juga meminta pemerintah untuk merancang sistem berbasis IT untuk mengawal distribusi BBM agar tepat sasaran. Data ini, katanya, juga harus bisa diakses oleh masyarakat awam secara terbuka sebagai wujud kesungguhan dalam melaksanakan amanah distribusi BBM dengan baik dan transparan.
Diketahui sebelumnya, dilansir dari gopos.id, 71 galon solar subsidi yang diamankan di Kabupaten Pohuwato pada Kamis lalu diduga kuat akan dikirim ke wilayah pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Desa Bulangita, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.
Menurut keterangan awal, pengemudi mobil pikap bernama Adrian Welen (22), warga Kelurahan Bolihuangga, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, yang membawa galon solar subsidi tersebut, solar subsidi yang diangkutnya diduga milik oknum polisi yang bertugas di satuan Polda Gorontalo berpangkat brigadier berinisial V atau R. Ia juga menyebut bahwa aksinya ini dikawal oleh seorang anggota TNI Angkatan Darat (AD) berinisial F.R yang bertugas di Yon TP 824/MOEA.
Rencanaya, BBM tersebut bakal dikirim kepada seseorang bernama Kade di Desa Bulangita, Kecamatan Marisa.
Walaupun begitu, semua pengakuan dari pengemudi tersebut masih perlu didalami dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Sebagai informasi, kelangkaan BBM bersubsidi terjadi di sejumlah wilayah Sumatra dan memicu antrean panjang kendaraan di berbagai SPBU.
Kondisi tersebut pun mengganggu aktivitas masyarakat hingga distribusi barang. Pemerintah dan Pertamina sebelumnya menyatakan terus melakukan langkah penanganan untuk memastikan distribusi BBM kembali normal.*
Laporan oleh: Puspita Candra Dewi
