Jumat, 03 Juli 2026
Menu

—Preview Cape Verde vs Argentina— Ketika Keajaiban Vozinha Bersobok Sihir Messiah

Redaksi
Pemandangan Negara Cape Verde | Ist
Pemandangan Negara Cape Verde | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILAN – CAPE VERDE adalah sebuah “titik” di Samudra Atlantik. Luasnya 4.033 km² cuma sedikit lebih gede dari Kabupaten Lampung Timur. Penduduknya tak sampai 600 ribu orang, masih kalah banyak dari penduduk Kabupaten Tanggamus dan di atas tipis Kabupaten Pesawaran di Provinsi Lampung.

Sebelum Juni 2026, jika Cape Verde disebut, rasanya banyak yang tak tahu negara ini ada di mana. Bahkan, jangan-jangan banyak pula yang tak tahu ia “makanan” apa, nama apa, tak tahu bahwa ia merupakan sebuah negara berdaulat dan merdeka.

Pada 13 Oktober 2025 ketika eks jajahan Portugis ini melibas Eswatini 3-0 sehingga resmi lolos ke piala dunia sepak bola 2026, mata dunia tak serta melirik. Padahal bagi mereka sejarah penting bangsa sedang ditulis: lolos ke piala dunia untuk kali pertama. Begitu istimewanya ikut ajang terbesar sepak bola sejagat, hari di mana Ryan Mendes dan kawan-kawan mengalahkan Eswatini dianggap sebagai hari terbesar sejak kemerdekaan mereka pada 1975.

Jika tak ada Curacau, Cape Verde mestinya menjadi negara dengan wilayah dan populasi terkecil yang lolos Piala Dunia 2026. Tim berjuluk Hiu Biru ini masuk via jalur kualifikasi CAF (Konfederasi Sepak Bola Afrika). Tergabung di Grup D bareng Kamerun, Angola, Libya, Eswatini, dan Mauritius, skuad asuhan Pedro “Bubista” Leitao Brito tampil gemilang sebagai kampiun dengan catatan joss gandos: 7 kali menang, 2 imbang, dan hanya sekali kalah. Lima kali laga kandang disapu bersih dengan kemenangan tanpa sebiji pun kebobolan.

***

Piala Dunia 2006 merupakan kali pertama gelaran dengan peserta 48. Jauh lebih banyak dari edisi sebelumnya 32 tim. Penambahan slot ini disinyalir sebagai salah satu sebab negara-negara gurem dalam belantika sepak bola dunia macam Cape Verde berkesempatan tampil di panggung utama sepak bola dunia.

Tak heran, layaknya nasib para gurem, Cape Verde disambut dengan sederet label: beruntung, nasib baik, pelengkap penderita, calon samsak tim-tim besar, dan aneka sebutan minor lain. Bahkan untuk sekadar disebut underdog pun, pasukan Tubarões Azuis dirasa belum pantas. Cap underdog biasanya disematkan kepada tim yang bukan tergolong kandidat juara, bukan negara papan atas atau elite sepak bola dunia, tapi punya potensi membuat kejutan atau bikin susah para jagoan. Cape Verde diyakini tidak mengantongi satu pun kualifikasi tersebut.

Hasil undian grup pun seolah tidak berpihak kepada mereka. Alih-alih masuk “grup hangat-hangat kuku” sehingga terbuka sedikit saja celah untuk berkiprah dengan lebih “nyaman”, negara di barat Afrika ini malah terjebak dalam “grup neraka” yang sangat potensial memvalidasi persepsi dan ramalan bahwa mereka bakal jadi samsak empuk para raksasa. Betapa tidak, di Grup H mereka harus bertemu langsung dengan dua giant dengan status mentereng juara piala dunia: Spanyol (2010) dan Uruguay (1930 dan 1950).

Satu peserta lainnya di Grup H, Arab Saudi, meski jauh dari label menakutkan, mereka kular kilir di piala dunia. Tim elite Asia berjuluk Elang Hijau ini bahkan pernah mengagetkan dunia saat menebas Argentina 2-1 pada laga pembuka Grup C Piala Dunia 2022.

Maka, lengkap sudah. Tinggal soal waktu, Cape Verde diramal bakal digilir takdir gelap: menjadi bulan-bulanan Spanyol, babak bingkas dikepruk Uruguay, dan dibuat bonyok Arab Saudi.

Tapi apa yang terjadi. Faktanya, sepak bola memang demen melahirkan kejutan. Menjungkirbalikkan semua prediksi, Cape Verde sukses menahan Spanyol pada laga perdana dengan skor kacamata.

Kok bisa? Apakah Spanyol bermain buruk? Tidak. Relatif tiada yang salah dengan permainan Tim Matador. Di atas kertas dan di atas lapangan, Lamine Yamal dan kawan-kawan unggul segalanya. Mereka tetap tampil sebagai Spanyol dengan tiki taka nan cantik dan menukik, bermain sepak bola indah dengan serangan membuncah-buncah.

Mestinya tiada yang keliru, kecuali satu: mereka bertemu tim dengan kiper yang super. Kiper yang kokoh seperti batu. Kiper yang kebal meski diberondong peluru. Kiper yang tak tumbang walau dihujani serangan menderu-deru.

Kita sedang membicarakan sosok Vozinha. Penjaga gawang Cape Verde berusia 40 tahun yang dengan gemilang mementahkan tujuh peluang bersih Spanyol ke gawangnya. Laksana tembok Cina yang kokoh, kinerjanya sukses bikin bintang-bintang La Furia Roja frustasi.

Vozinha seketika menjadi sorotan. Dia menjadi idola global baru. Followers Instragram kiper dengan nama lengkap Josimar José Évora Dias kini melejit hingga lebih 17 juta dari sebelumnya cuma 50 ribu!

Namun begitu, sampai sini masih banyak yang menyebut nasib baik bekerja lebih dominan ketimbang kualitas dan kerja keras skuad Cape Verde itu sendiri. Dugaan banyak orang, seperti halnya sial, nasib baik biasanya tak datang dua kali secara beruntun. Dugaan yang tak berlebihan juga sebenarnya. Panggung piala dunia sudah berkali-kali menjadi saksi betapa banyak tim yang bikin kejutan pada pertandingan pertama, langsung terjungkal pada laga berikutnya.

Maka mata pencinta sepak bola bola kemudian menunggu laga kedua, Cape Verde kontra Uruguay. Walaupun dengan skuad tidak segarang ketika dihuni sederet nama besar seperti Diego Forlan, Luis Suarez, Enzo Francescoli, Alvaro Recoba atau Edinson Cavani, Uruguay tetaplah Uruguay, tim besar Amerika Latin pemegang dua trofi juara dunia. Prediksinya tegas: Cape Verde bakal bertekuk lutut di kaki La Celeste.

Nyatanya, di Miami, 21 Juni 2026, sejarah kembali diukir. Bukan cuma sukses mencetak gol pertama di piala dunia melalui sepakan bebas spektakuler Kevin Pina, disusul gol Hélio Varela, Cape Verde mengakhiri duel dengan menahan imbang Uruguay 2-2.

Joss. Dua laga, dua kali berbagi skor dengan tim raksasa, Cape Verde telah mengubur apa yang disebut sekadar “keberuntungan”.

Kisah indah berlanjut lima hari kemudian. Cape Verde menutup perjalanan di fase grup kembali dengan skor kaca mata, kali ini kontra Arab Saudi. Di Houston, Vozinha lagi-lagi bersinar terang. Performa ciamiknya memastikan satu poin krusial yang mengunci tiket timnya melaju ke fase gugur, 32 besar.

Dengan mengoleksi 3 poin dari 3 hasil imbang, Tanjung Hijau finish sebagai runner-up Grup H mendampingi Spanyol, sekaligus mengirim pulang Uruguay dan Arab Saudi.

Pada titik ini mereka mencatat beberapa rekor sekaligus: tim debutan pertama yang lolos ke fase gugur sejak Slovakia pada Piala Dunia 2010; pendatang baru pertama yang tidak terkalahkan dalam tiga pertandingan fase grup sejak Senegal pada edisi 2002; dan satu-satunya tim yang masuk babak knock out Piala Dunia 2026 tanpa pernah menang.

Fixed, Cape Verde bukan sekadar pemanis, bukan pula pelengkap penderita.

“Kami sangat ingin menunjukkan jati diri kepada seluruh dunia. Kami bangga bisa mencapai tahap ini. Kami telah menunjukkan bahwa kami berjuang untuk meraih apa yang ingin kami capai,” ujar coach Bubista.

Vozinha pun menegaskan, keberhasilan Cape Verde bukanlah kebetulan.

“Kami memiliki banyak pemain berkualitas. Mungkin banyak orang menganggap pemain Cape Verde tidak cukup bagus. Tetapi kami datang ke sini untuk menunjukkan bahwa kami punya kualitas, kami datang untuk bersaing, dan para pemain kami mampu bermain di kompetisi serta liga-liga besar,” ujarnya.

“Kami memang negara kecil, tetapi kami memiliki kebesaran hati dan kami adalah para petarung,” katanya lagi.

***

Dari Cape Verde kita belajar banyak hal. Salah satunya, ukuran negara dan jumlah penduduk tidak menghalangi besarnya mimpi. Gedenya nyali tidak bergantung kepada populasi. Kalau negara cuma seluas 4 ribu km² bisa mendunia, tiada alasan negara dengan luas daratan 1,9 juta km² seperti Indonesia tak mampu sekadar tampil di piala dunia.

Kini Hiu Biru sudah berenang di lautan luas. Cape Verde menatap babak gugur dan menyambung mimpi untuk maju ke 16 besar. Tapi, tembok super-tebal membentang di depan mata. Lawan di babak 32 besar adalah tim raksasa lain: Argentina.

Ini raksasa bukan sembarang raksasa. Ini raksasanya para raksasa. Ini juara tiga edisi piala dunia (1978, 1986, dan 2022). Ini juara bertahan yang berambisi back to back dan sejauh ini masih berada di jalur yang benar. Dan, yang terutama dari yang utama, yang terpenting dari yang penting, Argentina punya Lionel Messi. Dia alien sepak bola modern yang sejak dua dekade lalu hingga sekarang posisinya di puncak pemain top dunia belum tergantikan. Setelah 20 tahun, hegemoninya sebagai best of the best belum tergoyahkan.

Pertanyaannya, apakah kisah sensasional Cape Verde akan berlanjut dengan menekuk favorit juara Argentina?

“Saya kira Cape Verde bisa mengalahkan Argentina 1-0. Kami bermain untuk menang. Kami punya 100 persen kesempatan untuk menang atas Argentina,” kata Presiden Cape Verde Jos Maria Neves penuh keyakinan dalam wawancara dengan BBC.

“Kami pergi ke Piala Dunia ini untuk menulis takdir kami sendiri. Jadi kami akan menghadapi Argentina dan Messi dengan determinasi yang sama, keinginan yang sama, dan dengan gairah untuk menang dan mencapai fase berikutnya,” sambungnya.

Sebuah optimisme yang patut dan penting digelorakan oleh seorang presiden untuk membakar semangat anak-anak bangsanya yang sedang berjuang di medan laga. Meski begitu, jawaban pasti tentu tersaji pada 5 Juli di Hard Rock Stadium, Miami Gardens, Florida, Amerika Serikat.

Preview ini tiba di ujung, dan kalaulah saya seorang penggemar dongeng-dongeng ala Cinderella, mungkin akan saya tutup dengan kata “semoga”. Kalimatnya kira-kira begini, “Setelah tiga kali seri beruntun, semoga saja kali ini kemenangan menjadi milik Cape Verde. Kemenangan fantastis sang kurcaci atas raksasa.”

Tapi tidak, itu tidak akan saya lakukan. Meskipun bola itu bundar dan selalu ada ruang untuk kejutan, saya akan menulis paragraf begini, “Sungguh jelas, Cape Verde tidak hanya bermodal Dewi Fortuna. Keberhasilan menahan Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi menjadi bukti sahih bahwa mereka memang punya kualitas. Tapi, kali ini lawan mereka Argentina, dan ada Messi di sana. Maka, semoga banyak hati yang jembar, asa Cape Verde ke 16 besar rasanya tak lantas jadi benar.”

Tanjung Verde boleh unjuk kualitas, tapi kualitas itu belum sepadan dengan Argentina. Mereka punya pemain-pemain bagus dus kiper hebat dalam diri Vozinha, tapi itu semua belum cukup untuk membendung The Greatest of All Time (GOAT), The One and Only Lionel Messi.

So, terima kasih Cape Verde atas penampilan luar biasa kalian yang sangat menghibur dan memberi warna tersendiri untuk piala dunia kali ini. Sayangnya kita harus berpisah karena ajaibmu musnah oleh hebatnya “sihir” Sang Messiah. Adeus, The Blue Shark.*

 

Juwendra Asdiansyah
Pengamat Sepak Bola, Tinggal di Bandar Lampung