INKAI Mengenang Ryamizard Ryacudu: Jejak Seorang Pemimpin Karate
FORUM KEADILAN – Suasana berbeda terasa di Honbu Dojo Institut Karate-do Indonesia (INKAI), Jalan Urip Sumoharjo Nomor 17, Bali Mester, Jatinegara, Jakarta Timur, Ahad, 7/6/2026. Ratusan karateka dari DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten berkumpul dalam sebuah latihan bersama yang bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan bentuk penghormatan dan penghargaan kepada almarhum Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, Ketua Umum Pengurus Pusat INKAI periode 2001-2014 yang baru saja berpulang pada 31 Mei 2026 lalu pada usia 76 tahun.
Sebelum latihan dimulai, seluruh peserta berdiri tegak dalam hening cipta. Di bawah pimpinan Ketua Umum PP INKAI Laksamana Muda TNI Sensei Dr. Ivan Yulivan, para karateka mengenang jasa dan pengabdian Ryamizard yang selama tiga periode memimpin organisasi karate terbesar di Indonesia tersebut.
Momen hening cipta itu bukan sekadar seremoni. Bagi keluarga besar INKAI, Ryamizard bukan hanya seorang mantan Kepala Staf Angkatan Darat dan Menteri Pertahanan, melainkan juga sosok yang memberikan perhatian besar terhadap pembinaan karakter, disiplin, dan semangat bela diri melalui karate.
Sebagai bentuk penghormatan yang lebih luas, PP INKAI menginstruksikan seluruh Pengurus Provinsi, Pengurus Afiliasi Pusat INKAI, Majelis Sabuk Hitam (MSH) INKAI, serta seluruh keluarga besar INKAI di Indonesia untuk melaksanakan hening cipta sebelum tradisi karate pada setiap sesi latihan selama 40 hari ke depan. Seruan tersebut tertuang dalam Surat PP INKAI Nomor 109/PP INKAI/SU/V/2026 tentang Hari Berkabung INKAI.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa penghormatan kepada Ryamizard tidak berhenti pada satu acara, tetapi menjadi bagian dari proses mengenang nilai-nilai yang diwariskannya kepada organisasi.
Dalam latihan bersama tersebut hadir sejumlah tokoh senior karate Indonesia, antara lain Majelis Dewan Guru Shihan dr. Nico Luminta, M.Kes, Ketua Dewan Guru INKAI Shuseiki Shihan Abdul Kadir, Sekretaris Dewan Guru Shihan Christine Taroreh, Wakil Sekretaris Shihan Abdullah Kadir, serta anggota Dewan Guru Shihan Syahrial Effendi, Shihan Denny Karundeng, Shihan Donald Kolopita, dan Shihan Syamsuddin.
Latihan yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari difokuskan pada penguatan kihon atau teknik dasar karate, serta aplikasi teknik perkelahian jalanan (street fighting). Pemilihan materi tersebut memiliki makna tersendiri. Ryamizard selama hidupnya dikenal sebagai sosok yang menekankan pentingnya penguasaan dasar-dasar yang kuat sebagai fondasi kemampuan seorang karateka.
Dalam berbagai kesempatan, ia sering mengingatkan bahwa karate bukan semata soal memenangkan pertandingan, tetapi membangun karakter, keberanian, pengendalian diri, serta kesiapan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Di bawah kepemimpinannya selama 13 tahun, INKAI berkembang menjadi organisasi yang tidak hanya fokus pada prestasi olahraga, tetapi juga pembinaan mental dan karakter generasi muda. Pengaruh kepemimpinannya masih terasa hingga kini melalui berbagai program pembinaan yang terus dijalankan oleh para penerusnya.
Bagi banyak karateka senior, Ryamizard adalah contoh bagaimana seorang pemimpin nasional tetap memiliki perhatian terhadap pembangunan sumber daya manusia melalui olahraga bela diri. Di tengah kesibukannya sebagai perwira tinggi TNI dan kemudian pejabat negara, ia tetap meluangkan waktu untuk membina dan mengembangkan INKAI.
Oleh karena itu, wafatnya Ryamizard bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan dunia militer Indonesia, tetapi juga kehilangan besar bagi keluarga karate nasional. Jejak pengabdiannya akan terus hidup dalam setiap latihan, setiap penghormatan di dojo, dan setiap karateka yang berusaha menjalankan nilai-nilai disiplin, keberanian, dan kehormatan yang selama ini diajarkannya.
Latihan bersama di Honbu Dojo Jatinegara menjadi bukti bahwa seorang pemimpin sejati tidak hanya dikenang karena jabatan yang pernah diembannya, tetapi juga karena nilai dan keteladanan yang ditinggalkannya. Bagi keluarga besar INKAI, Ryamizard Ryacudu telah meninggalkan warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar prestasi organisasi, yakni semangat untuk terus berlatih, mengabdi, dan menjaga kehormatan karate-do Indonesia.
Osu.*
Sensei Dr. Selamat Ginting
Yudansha Yondan INKAI
