Hari Kebangkitan Nasional: Sejarah Berdirinya Budi Utomo

Sejarah Berdirinya Budi Utomo | Ist
Sejarah Berdirinya Budi Utomo | Ist

FORUM KEADILAN – Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-116 yang diperingati setiap tanggal 20 Mei.

Momen bersejarah ini memperingati kebangkitan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme untuk memperjuangkan kemerdekaan. Berikut sejarah dan fakta menarik mengenai Hari kebangkitan nasional:

Bacaan Lainnya

Latar Belakang Pendirian

Politik etis yang diterapkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 membuka jalan bagi munculnya kaum bumiputra terpelajar. Kebijakan ini menumbuhkan kesadaran berbangsa dan bernegara di kalangan rakyat Indonesia.

Dalam era ini, berbagai organisasi pergerakan mulai bermunculan, baik yang bersifat kooperatif maupun radikal. Salah satu organisasi pergerakan awal yang berdiri adalah Budi Utomo (BU), yang tanggal berdirinya kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Gagasan Dr. Wahidin Soedirohoesodo

Budi Utomo lahir dari gagasan Dr. Wahidin Soedirohoesodo, yang ingin membentuk perkumpulan untuk membantu pembiayaan pendidikan pemuda bumiputra yang pandai namun tidak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan.

Pada tahun 1907, Dr. Wahidin berkeliling Jawa untuk mewujudkan gagasannya. Dalam perjalanannya, ia singgah di STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen) dan mendapatkan tanggapan positif dari para siswa.Gagasan Dr. Wahidin acap kali menjadi bahan diskusi di kalangan siswa STOVIA, terutama mengenai pendidikan bagi kaum bumiputera.

Pendirian Budi Utomo

Diskusi yang semakin intens mendorong para siswa STOVIA untuk mengadakan pertemuan guna mendirikan suatu perkumpulan. Pada 20 Mei 1908, dalam sebuah pertemuan, Soetomo mengemukakan gagasan dan cita-citanya terkait pendirian perkumpulan yang bergerak di bidang sosial, sebagai transpirasi dari gagasan Dr. Wahidin sebelumnya.

Hasil pertemuan tersebut adalah berdirinya Budi Utomo dengan Soetomo sebagai ketuanya. Berita pendirian BU menyebar ke seluruh pulau Jawa, menimbulkan antusiasme tinggi di kalangan pemuda sehingga diperlukan penyelenggaraan kongres.

Kongres pertama BU diselenggarakan di Yogyakarta pada 4-5 Oktober 1908, dihadiri oleh pemuda dari berbagai daerah, pejabat keraton, pejabat Belanda, serta bupati Temanggung, Blora, dan Magelang.

Penetapan Hari Kebangkitan Nasional

Pada tahun 1948, Indonesia yang baru saja merdeka menghadapi berbagai krisis. Belanda masih menganggap Indonesia sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak mau mengakui kemerdekaannya.

Selain itu, mantan Perdana Menteri Indonesia Amir Sjarifuddin, yang didukung oleh faksi-faksi sayap kiri, memimpin oposisi terhadap pemerintah.

Presiden Soekarno percaya bahwa Indonesia berisiko terpecah belah oleh berbagai kelompok dan ideologi, sehingga membutuhkan simbol pemersatu untuk mencegah perpecahan.

Atas saran dari Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara), Soekarno menetapkan berdirinya Budi Utomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1948, di Istana Kepresidenan di Yogyakarta, bertepatan dengan ulang tahun ke-40 BU.

Keputusan ini kemudian dikukuhkan oleh Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden No. 1 tahun 1985 tentang peringatan Hari Kebangkitan Nasional.

Namun, keputusan ini sempat menuai kritik. Budi Utomo dianggap berkolaborasi dengan pemerintah kolonial dan tidak terlibat dalam politik, serta dikritik karena terlalu Jawa-sentris dengan keanggotaannya yang terbatas. Meskipun demikian, BU tidak dapat disangkal telah mempelopori dan mempengaruhi gerakan-gerakan lain.

Sebagai contoh, Indische Partij didirikan oleh mantan anggota BU, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat, bersama dengan Ernest Douwes Dekker. Selain itu, Sarekat Islam terinspirasi oleh Tirto Adhi Soerjo.

Warisan Budi Utomo dan Hari Kebangkitan Nasional

Dari sejarah, kita belajar bahwa peringatan Hari Kebangkitan Nasional menjadi momen untuk bangkit dan bersatu dalam pembangunan bangsa. Semangat kebangkitan mengajarkan kita untuk menatap ke depan dan menghadapi tantangan serta masalah guna menjaga keutuhan dan ketahanan bangsa.

3 Fakta Menarik tentang Hari Kebangkitan Nasional

1. Budi Utomo adalah Ide Pelajar STOVIA

Pada 1908, beberapa pelajar cerdas dari School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen (STOVIA) mendirikan perkumpulan yang dinamai Budi Utomo.

Para pelajar yang ikut ambil peran antara lain Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Dr. Goenawan, dan Suryadi Suryadiningrat atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara.

2. Orang Pertama yang Setuju Hari Kebangkitan Nasional Jatuh Pada Tanggal 20 Mei

Ada setidaknya lima tokoh yang secara terang-terangan menyatakan bahwa 20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional. Salah satu yang paling menonjol adalah Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara yang saat itu sedang menjalani masa pembuangan di Belanda.

Ia menulis artikel di Nederlandsch-Indië Oud & Nieuw terbitan tahun ketiga, 1918-1919, menyatakan bahwa tanggal 20 Mei adalah Hari Indisch-nationaal (Indisch-nationale dag).

3. Dirayakan Besar-besaran Tahun 1958

Pada 20 Mei 1958, Hari Kebangkitan Nasional diperingati secara besar-besaran. Peringatannya bertepatan dengan ke-50 tahun alias setengah abadnya Budi Utomo. Perayaan besar diadakan dan dihadiri langsung oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya semangat persatuan dan kesatuan dalam membangun bangsa yang lebih baik.*

Laporan Naila Alatas