Anies Bubble, Kampanye Kekinian yang Sukses Tanam Suara di Medsos

Akun X Anies Bubble I Rahmad Fadjar Ghiffari/Forum Keadilan
Akun X Anies Bubble I Rahmad Fadjar Ghiffari/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Live atau siaran langsung TikTok Anies Baswedan jadi trend di media sosial (medsos). Gaya kampanye kekinian ini, jadi jurus ampuh menggaet hati kaula muda.

Anies mencuri hati warganet dengan live TikTok perdananya, Jumat 30/12/2023. Tercatat 300.000 lebih orang menonton siaran langsung dari calon presiden (capres) nomor urut 1 itu. Di sana, ia tak membicarakan politik, melainkan hanya mengajak para penonton berbincang santai.

Bacaan Lainnya

Potongan video siaran itu rupanya dibawa ke platform X dan menjadi trending topic di sana. Gaya Anies membawakan live disebut mirip dengan Idol Korea, dan direspons bagus oleh para K-popers.

Akun Anies Bubble pun muncul di X sebagai akun penggemarnya. Dalam waktu tiga hari, akun yang ditulis dengan huruf Hangul ini memiliki 65 ribu followers. Para K-popers itu juga membuatkan photobooth event di akun itu dan melabeli Anies dengan nama bergaya Korea, Park Ahn Nice.

Mahfud MD pun tak ketinggalan. Calon wakil presiden (cawapres) pendamping Ganjar Pranowo ini juga menggelar live TikTok bertema ‘Resolusi 2024’ di malam pergantian tahun 2023-2024. Sekalipun viewers-nya belum sebanyak Anies, namun Mahfud juga mendapat respons positif dari warganet.

Direktur Eksekutif Parameter Indonesia sekaligus Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Adi Prayitno mengatakan, interaksi dengan pegiat medsos sejatinya bisa digunakan sebagai upaya untuk menaikkan elektabilitas. Menurutnya, Anies sukses melakukan hal itu.

“Ini semacam cocok tanam demi elektabilitas. TikTok selama ini dikuasai Prabowo. Kini Anies dan Mahfud mengilfiltrasi juga,” katanya kepada Forum Keadilan, Selasa 2/1/2024.

Kata Adi, cara mendulang suara seperti ini tidak semata-mata memberikan dampak instan terhadap perolehan suara. Perlu kerja keras dan upaya lanjutan untuk memprosesnya.

Namun, Adi sendiri berpandangan baik terhadap langkah kampanye di medsos. Menurutnya, medsos merupakan tempat alternatif mencari dukungan, karena kampanye menggunakan baliho di tempat-tempat tertentu sudah kurang efektif.

“Jangan sekali sentuh. Ini butuh sentuhan lanjutan. Anak muda ini ababil (labil), tergantung siapa-siapa yang mengajak dan mengondisikan. Jadinya siapa yang kuat meyakinkan, mereka yang bakal panen elektabilitas,” lanjutnya.

Peneliti Senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Lili Romli juga sependapat. Di tengah kemajuan teknologi, kampanye di media sosial menjadi langkah yang mau tidak mau harus ditempuh.

Seperti diketahui, pemilih milenial dan generasi Z (Gen Z) sangat besar. Jumlahnya hampir 60 persen. Sehingga, dapat dikatakan mereka lah penentu kemenangan capres dan cawapres. Mereka juga mayoritas pengguna medsos, baik Instagram ataupun TikTok.

Oleh karena itu, dalam berkampanye untuk menarik perhatian dan minat politik, mau tidak mau para calon harus menggunakan medsos.

“Cara-cara konvensional seperti pasang baliho dan iklan besar-besar sudah ketinggalan zaman. Mereka tidak lagi berminat dengan model kampanye seperti itu, sudah usang. Nah, Anies mencoba menangkap fenomena itu dengan live di Tiktok dan menyasar Gen Z dan milenial, dan tampaknya berhasil. Itu terlihat dari trending topik yang tinggi di X,” kata Lili pada Forum Keadilan, Selasa 2/1/2024.

Soal bisa atau tidak live itu mendulang suara, menurut Lili, perlu survei untuk mengetahuinya. Tetapi dengan selalu jadi trending di medsos, lambat laun bisa mengubah preferensi politik para pemilih muda.

“Ini modal besar yang bisa dikapitilisasi menjadi suara oleh tim sukses atau capres. Tergantung kapasitas politik, mereka dapat mengubah dari suara di medsos menjadi memilih di kotak suara. From voice to choose,” terangnya.

Walaupun kondisi politik seperti ini banyak disuguhi gimmick, Lili meyakini bahwa pemilih muda sudah selektif dan kritis. Jika gimmick yang disuguhkan mengena dan disukai kalangan anak muda, maka akan berdampak positif untuk menjadi suara. Jika tidak, tentu akan menjadi blunder.

“Mestinya memang dalam kampanye yang utama itu penyampaian program-program, bukan sekedar gimmick. Sehingga ada pendewasaan politik, ada pendidikan politik bagi publik, termasuk kepada kaum milenial dan Gen Z,” pungkasnya.*

Laporan Merinda Faradianti