Didukung PA 212 hingga FPI, Anies-Cak Imin Terancam Kehilangan Suara NU?

Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin resmi mendaftar sebagai pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2024-2029 di gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta Pusat, Kamis, 19/10/2023 | Ari Kurniansyah/Forum Keadilan
Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin resmi mendaftar sebagai pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) 2024-2029 di gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta Pusat, Kamis, 19/10/2023 | Ari Kurniansyah/Forum Keadilan

FORUM KEADILAN – Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Ujang Komaruddin menilai, Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) yang mendukung Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) akan kehilangan suara Nahdlatul Ulama (NU) jika koalisi tersebut mendapat dukungan dari Persatuan Alumni 212 (PA 212), Front Persaudaraan Islam (FPI), dan Gerakan Nasional Pembela Fatwa Ulama (GNPF Ulama).

Menurut Ujang, bergesernya suara NU dari pasangan calon (paslon) Anies-Cak Imin (AMIN) karena alasan ideologi. Selain itu, juga memiliki kepentingan politik yang berbeda.

Bacaan Lainnya

Diketahui secara umum, PA 212, GNPF Ulama, dan FPI disebut memiliki aliran Islam Kanan atau garis keras, sementara NU beraliran moderat.

“Iya NU tidak ketemu dengan FPI dengan kelompok Islam di PKS juga, beda irisannya, beda kepentingan juga. Iya kalau di situ ada FPI iya NU bisa diambil oleh capres-cawapres (calon presiden dan wakil presiden) lain, bisa diambil oleh (paslon) Prabowo-Gibran ataupun Ganjar-Mahfud. Itu konsekuensi, itu risiko politik karena pilihan bagi AMIN mendapatkan dukungan dari PA 212 ataupun FPI, artinya bisa suara NU bergeser ke capres-cawapres lain,” kata Ujang kepada Forum Keadilan, Sabtu, 18/11/2023.

Ujang menilai, harapan dari pasangan Anies-Muhaimin (AMIN) untuk mendapatkan dukungan dari organisasi masyarakat (ormas) tersebut adalah agar bisa memperoleh dukungan suara dari kedua kelompok ormas. Namun, menurut Ujang, jika PA 212 mendukung AMIN, maka NU kemungkinan akan memilih paslon lain.

“Iya mungkin AMIN menganggapnya bahwa NU akan bergabung dengan Cak Imin di situ, 212 juga bergabung, harapannya kan seperti itu, maka diterima lah dukungan 212 itu yang diharapkan AMIN. NU dapat, 212 dapat. Padahal bisa jadi kalau 212 merapat NU bisa diambil oleh yang lain,” terangnya.

Harapan AMIN mendapat dukungan dari dua kelompok tersebut, menurut Ujang tidak sepenuhnya salah, karena dalam politik memang dituntut untuk mencari dukungan sebanyak-banyaknya.

Kendati begitu, lanjut Ujang, tidak semua masyarakat NU melabuhkan suaranya kepada AMIN, sekalipun terdapat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang notabenenya sebagai representasi NU.

Menurut Ujang, dengan bergabungnya PA 212, suara akar rumput NU akan bergeser dan menjadi rebutan paslon lain.

“Iya dalam politik sih mencari dukungan sebanyak-banyaknya, kalau kita bahas massa PKB iya banyak di Jawa Timur tapi kan (suara) NU PKB itu ke AMIN semua kan tidak juga, oleh sebab itu akar rumput NU di bawah pasti akan rebutan di antara tiga paslon,” pungkasnya.

Sebelumnya, PA 212, GNPF Ulama, dan FPI menggelar acara Ijtima Ulama untuk menentukan dukungan kepada salah satu paslon pada Pilpres 2024. Acara tersebut digelar di Bogor, Jawa Barat, pada hari ini, Sabtu, 18/11.

Acara ini disebut dilakukan untuk mendukung Paslon AMIN, karena hanya pasangan tersebut yang diundang untuk menghadirinya.

Ketua DPP FPI Muhammad bin Husein Alatas membenarkan bahwa hanya AMIN yang diundang dalam acara tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan hasil aspirasi tokoh-tokoh di daerah dan dorongan masyarakat.

Insyaallah nanti juga (AMIN) akan memaparkan visi dan misinya untuk kemudian dinilai. Apakah kemudian memang layak untuk didukung oleh para tokoh ulama dan para tokoh nasional,” katanya dalam konferensi pers ‘Persiapan Ijtima Ulama’ di Menara Hijau, Jakarta Selatan, Kamis, 16/11.

Laporan M. Hafid