WNI Dideportasi Bukti Gagalnya Revolusi Mental

CCTV yang memperlihatkan aksi 8 WNI menerobos stasiun Shinkansen
CCTV yang memperlihatkan aksi 8 WNI menerobos stasiun Shinkansen

FORUM KEADILAN – Baru-baru ini viral di media sosial 8 Warga Negara Indonesia (WNI) dideportasi kembali ke Indonesia lantaran kedapatan menembak tiket kereta api cepat atau Shinkansen.

Modusnya adalah dengan menyelinap dan menempel ke orang lain yang memiliki tiket daerah yang dituju.

Pengamat sosial Universitas Negeri Medan (UNM) DR. Bakhrul Khairil Amal menyebut kejadian seperti ini dapat dipotret dari dua sisi yang berbeda.

Pertama, dilihat dari sisi pelaku, dan kedua dari sistem negara. Dari sisi pelaku, harus dicari tahu motif yang melatarbelakangi perilaku tersebut.

“Ada WNI sebagai penduduk pendatang, nembak tiket atau bahasanya mencari gratis. Motifnya harus kita cari tahu. Apa maksudnya, tujuannya dan nilainya. Kenapa memunculkan aktivitas seperti itu. Berarti kan dia sudah tahu konsekuensinya apa. Apakah karena ketiadaan materi atau finansial,” ujar Bakhrul ketika dihubungi Forum Keadilan pada Kamis, 25/5/2023.

Kedua, sistem negara Jepang yang disiplin, tertib dan penindakan hukumnya jelas.

“Logikanya kan di saat kita berada di negara yang tertib, seperti misalnya Singapura, kita tidak akan merokok. Nah ini berbeda. Bisanya kan terjadi adaptasi. Ini kan tergantung lingkungan, berarti ada anomali yang berbeda antara pelaku dan lingkungan. Pelaku berani melakukan ini ya berarti berasal dari pelaku sendiri, bukan dari lingkungan yang salah. Berarti localism-nya tidak duduk di global. Tidak disiplin,” tambahnya.

Senada dengan Bakhrul, Sosiolog Universitas Indonesia Dr. Ida Ruwaida Noor juga menilai pelaku tidak disiplin.

“Kedisiplinan juga ketaatan masyarakat pada aturan dan norma memang sejak lama terindikasi rendah,” ujarnya.

Ida juga menyebut pada era Orde Baru ada gerakan Disiplin Nasional, namun gerakan tersebut gagal.

Bahkan juga sempat dicanangkan gerakan Revolusi Mental yang sudah digaungkan Presiden Jokowi sejak terpilih sebagai presiden 2014 lalu, juga dinilai masih belum berhasil oleh Ida.

“Gerakan revolusi mental juga belum berhasil. Berbagai gerakan tersebut prinsipnya bukan hanya bertujuan untuk mengubah perilaku, tapi mental. Namun, hingga saat ini justru kebiasaan melanggar aturan dan jalan pintas semakin meningkat” tutup Ida.

Seperti kita ketahui, aksi memalukan 8 WNI terekam CCTV tersebar di media sosial seperti Instagram, TikTok bahkan Twitter.

Dalam video terlihat 8 orang melewati palang pintu masuk stasiun tanpa membayar tiket.

Video ini diunggah oleh akun @e9_ash pada 23 Mei 2023.

Mereka tampak berlari dan tertawa tanpa menyadari ada sosok yang merekam.

Ash menulis caption, “Hmm lebih hati-hati pak, yang udah bosan di Jepang dan pingin cepat-cepat pulang ke Indonesia bisa ikuti cara seperti di video ini.”

Video mereka pun viral di kalangan warga Jepang dan kejadian ini sangat disayangkan oleh teman teman WNI lainnya, dimana dinilai sangat mencederai moral bangsa Indonesia.

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo angkat suara terkait hal tersebut.
KBRI mengingatkan agar WNI senantiasa mengikuti aturan yang diterapkan di negara mana pun.

“KBRI Tokyo senantiasa mengimbau WNI yang berada di Jepang untuk mematuhi peraturan dan tata tertib yang berlaku,” kata Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial, dan Budaya KBRI Tokyo Meinarti Fauzie Rabu, 24/5/2023.

Meinarti pun mengingatkan bahwa aparat setempat di Jepang memiliki hak untuk menindak dan memproses hukum jika ada warga negara asing yang melanggar aturan.

Namun sampai saat ini Meinarti belum menemukan pemberitaan di media arus utama di Jepang, serta belum mendapat informasi dari pihak-pihak terkait tentang kasus tersebut.*(Tim Forum Keadilan)