Sidang Vonis, Rambut Ferdy Sambo Tambah Gondrong

SIDANG vonis Ferdy Sambo dalam perkara pembunuhan Brigadir J di PN Jakarta Selatan, Senin, 13/2/2023 | tangkapan layar

FORUM KEADILAN –  Ferdy Sambo, terdakwa pembunuhan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, menjalani sidang vonis terhadap dirinya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Senin, 13/2/2023. Dalam sidang tersebut, rambut mantan kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri tampak semakin gondrong.

Ferdy Sambo dituntut oleh jaksa penuntut umum dengan hukuman penjara seumur hidup. Bersama empat terdakwa lainnya, pria kelahiran 1973 tersebut didakwa telah melakukan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. Mereka dijerat dengan Pasal 340 subsidair Pasal 338 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Bacaan Lainnya

Suami Putri Candrawathi itu tampil dalam sidang hari ini dengan mengenakan masker berwarna hitam, kemeja putih lengan panjang, dan celana hitam. Lengan kemeja digulung Ferdy beberapa centimeter sehingga tampak gelang berwarna hitam di lengan kiri mantan jenderal polisi dengan bintang dua tersebut.

Ferdy Sambo tiba di PN Jakarta Selatan sekitar pukul 08.30 WIB. Turun dari mobil, dia masih dengan tangan terborgol dan mengenakan rompi tahanan berwarna merah di atas kemeja putihnya. Ferdy dikawal ketat personel Brimob bersenjata lengkap.

Seperti beberapa sidang terdahulu, alumnus Akademi Kepolisian angkatan 1994 itu kembali mengenakan kaca mata. Rambutnya yang semakin gondrong disisir ke belakang dan tampak basah oleh minyak rambut.

Penampilan dengan rambut gondrong menjadi salah satu gaya khas Ferdy Sambo saat menjabat Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri dengan pangkat brigadir jenderal beberapa tahun lalu. Tidak hanya Ferdy, memanjangkan rambut memang menjadi tampilan yang lazim banyak polisi yang bertugas di bagian reserse kriminal sejak dulu.

Ketika promosi sebagai kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri dan bertambah satu bintang di pundaknya, Ferdy Sambo memilih memangkas rambutnya menjadi pendek seperti potongan rambut polisi pada umumnya. Akan tetapi, sejak menjalani persidangan sebagai terdakwa perkara pembunuhan Brigadir J, Ferdy kembali ke gaya rambut gondrongnya yang khas.

Ferdy Sambo ditangkap pada 11 Agustus 2022 karena dituding sebagai otak dalam pembunuhan berencana terhadap salah satu ajudannya, Nofriansyah Yosua Hutabarat. Melalui sidang etik yang digelar Komisi Kode Etik Polri (KKEP), pada 26 Agustus 2022, Ferdy diputuskan dipecat dari kepolisian atas tindakan yang dituduhkan kepadanya.

Pembunuhan Brigadir J terjadi pada 8 Juli 2022 di rumah dinas Ferdy Sambo saat menjabat kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri di kompleks perumahan Polri Duren TigaJakarta Selatan. Awalnya, kasus ini disebut sebagai tembak menembak antara Yosua dengan Bhayangkara Dua Richard Eliezer Pudihang Lumiu, ajudan Ferdy Sambo lainnya.

Disebutkan, insiden ini terjadi setelah Yosua melakukan pelecehan terhadap Putri Candrawathi, istri Ferdy Sambo. Belakangan terungkap tidak ada tembak menembak, melainkan penembakan sepihak terhadap Yosua.

Sebanyak lima orang kemudian ditetapkan oleh penyidik Bareskrim Polri sebagai tersangka dan berlanjut menjadi terdakwa yang menghadapi persidangan perkara pembunuhan berencana terhadap Yosua di PN Jakarta Selatan. Kelimanya ialah Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer atau Bharada E, Ricky Rizal atau Bripka RR, dan Kuat Ma’ruf.

Semuanya didakwa oleh jaksa penuntut umum telah melakukan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. Mereka didakwa dengan Pasal 340 subsidair Pasal 338 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Khusus Ferdy Sambo, dia dituntut JPU dengan hukuman penjara seumur hidup. Richard dituntut 12 tahun. Sementara Putri, Ricky dan Kuat, masing-masing dituntut dengan hukuman penjara 8 tahun.

Kasus ini menyedot perhatian publik secara luas karena baik pelaku, korban, dan banyak orang yang terlibat merupakan anggota polisi. Peristiwa yang berlangsung di rumah seorang pejabat utama Polri juga menjadi magnet tersendiri.

Selain itu, banyak pelintiran alur yang berakibat berubahnya berita acara pemeriksaan (BAP) sehingga kejadian sebenarnya tidak diketahui dengan pasti. Pengungkapan peristiwa ini ke masyarakat juga menunjukkan kejanggalan karena baru disampaikan tiga hari setelah terjadi, walaupun kemudian ada penjelasan bahwa hal itu karena peristiwanya berdekatan dengan Idul Adha.

Dalam kasus ini juga ditemukan berbagai pelanggaran kode etik oleh para penyidik berupa sikap tidak profesional meliputi pengrusakan, penghilangan barang bukti, pengaburan, dan rekayasa dalam kasus pembunuhan Brigadir J. Sejumlah polisi kemudian menjalani sidang etik, dan tujuh di antaranya, termasuk Ferdy Sambo, dihadapkan ke pengadilan dengan tuduhan melakukan perintangan penyidikan.

Rangkaian persidangan sejak tiga bulan lalu, juga menyedot perhatian publik. Persidangan selalu dipenuhi pengunjung. Media sosial juga riuh menyikapi kasus sarat drama ini. Uniknya, sejumlah terdakwa juga memiliki penggemar yang setia datang setiap persidangan digelar atau sekadar mengungkapkan simpati di media sosial.

Hingga berita ini diunggah, sidang vonis Ferdy Sambo masih berlangsung. Sidang dipimpin ketua majelis hakim Wahyu Iman Santoso dengan dua hakim  anggota yakni Morgan Simanjuntak dan Alimin Ribut Sujono.*