Jumat, 27 Maret 2026
Menu

Donald Trump Umumkan Jeda Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Turun US$107

Redaksi
Minyak Dunia | Ist
Minyak Dunia | Ist
Bagikan:

FORUM KEADILANHarga minyak dunia turun pada awal perdagangan Jumat, 27/3/2026, usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan jeda serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari.

Langkah tersebut adalah bagian dari proses negosiasi untuk mengakhiri perang yang tengah berjalan.

Dilansir Reuter, harga minyak Brent turun 90 sen atau 0,8 persen ke level US$107,11 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 83 sen atau 0,88 persen ke US$93,65 per barel, memangkas kenaikan pada sesi sebelumnya.

Penurunan tersebut terjadi usai sehari sebelumnya harga melonjak tajam, dengan Brent naik 5,7 persen dan WTI 4,6 persen akibat kekhawatiran eskalasi konflik.

Tetapi, secara mingguan, Brent diperkirakan mencatat penurunan pertama dalam enam pekan, sementara WTI melemah untuk pekan kedua berturut-turut.

Trump menjelaskan bahwa jeda serangan dilakukan sebagai bagian dari proses negosiasi dengan Iran. Ia mengungkapkan Teheran mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz sebagai bentuk iktikad baik dalam perundingan.

Walaupun demikian, situasi geopolitik masih berisiko tinggi. Pentagon dilaporkan tetap mengerahkan ribuan pasukan ke Timur Tengah dan mempertimbangkan opsi militer lanjutan, termasuk potensi penguasaan pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.

Perang Iran melawan agresi AS dan Israel yang masih berlangsung sudah mengganggu pasokan global secara signifikan. Sekitar 11 juta barel minyak per hari terdampak, sementara Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, hampir terhenti.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengatakan krisis ini lebih buruk dibanding gabungan krisis minyak era 1970-an dan dampak perang Rusia-Ukraina terhadap gas.

Walaupun demikian, pelaku pasar masih memperkirakan gangguan ini bersifat sementara. Sejumlah analisis menilai pasar saat ini mengasumsikan konflik akan segera mereda dan pasokan energi global kembali stabil dalam waktu relatif singkat.  *