Selamat Jalan Rismon
Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra MBA
Pemerhati Intelijen
FORUM KEADILAN – Hidup memang tidak pernah mengajarkan keabadian, karena itu hanya milik Tuhan semata. Datang dan pergi dalam kehidupan adalah fitrah dari semua yang hidup didunia ini. Kepergian dan kehilangan dalam konteks kehidupan, kerap kali menyisakan kesedihan tetapi juga kemarahan. Itulah hidup, selalu diselimuti oleh misteri. Dalam realitas kehidupan, bobot kualitas mental dan moral, nantinya akan menjadi tolok ukur, apakah kepergian atau kehilangan seseorang akan meninggalkan kesedihan atau kemarahan, bahkan sebagai sesuatu yang diharapkan.
Publik baru saja disajikan tontonan sinetron “Rismon Si Malin Kundang”. Tentunya semakin menambah panjang daftar pelaku pengkhianatan oleh anak bangsa atas perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran. Perilaku pengkhianatan tidak sekadar deretan angka-angka. Sejarah telah mencatat pengkhianatan dengan istilah “kuda troya” yang mengakibatkan perjuangan di awal mengisi kemerdekaan berlumuran darah anak bangsa. Bahkan, bangsa dan negara ini hampir punah akibat pengkhianatan. Tetapi, mengapa masih saja marak terjadi perilaku berkhianat di negeri ini?
Kemudian yang sangat miris, latar belakang seseorang berkhianat hanya karena takut miskin dan berharap sekali saja bisa merasakan jadi orang kaya. Betapa rapuhnya moral bangsa ini, karena platform keberhasilan selalu diukur dengan materi. Bahkan, suara kebenaran tergantung keluar dari mulut siapa, tentunya dari para pemilik modal dan oligarki. Tidaklah mengherankan jika kekuasaan negara dimonopoli oleh para oligarki, pemilik modal, keluarga pejabat negara. Meritokrasi hanya sekadar pelajaran di kampus-kampus, implementasinya tetap mengedepankan duitokrasi atau kronitokrasi. Pengkhianatan adalah bentuk kepergian yang menyisakan kemarahan dan tidak pernah diharapkan untuk kembali.
Fenomena kasus Rismon, sesungguhnya telah menjadi “budaya” di kalangan masyarakat Indonesia, akibat kompetisi hidup yang tidak sehat dan penghambaan terhadap materi. Kini, tidak sedikit orang yang mengambil jalan pintas untuk kaya. Pertama, dengan cara-cara pesugihan (berharap dari setan) dan modal nekat bersuara kritis melawan kekuasaan negara, dengan harapan akan dilamar oleh penguasa. Budi pekerti maha karya para leluhur yang mengajarkan tentang rasa malu, kini teronggok di gubuk-gubuk kumuh, tergantikan oleh tata nilai demokrasi, reformasi, dan hak asasi yang ternyata hanya sekadar kemasan untuk menutupi wajah bopeng para pemangku kebijakan yang penuh luka akibat korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Siapa pun yang masih setia terhadap akal sehat, tidak sulit untuk mengatakan “Jadi apa bedanya Rismon dengan Aidit atau Muso?”. Mereka adalah anak bangsa yang dikaruniai kecerdasan berpikir, tetapi nuraninya dikalahkan oleh syahwat duniawi. Mereka adalah orang-orang yang mengukir sejarahnya sendiri, dengan kenistaan yang akan diingat dalam memori koletif bangsa ini.
Jika saja malin kundang terlahir pada era reformasi, niscaya namanya akan tergantikan oleh Rismon, menghiasi legenda negeri sebagai anak durhaka kepada Ibu Pertiwi. Rismon adalah salah satu yang terhapus dalam proses reset kehidupan yang sedang berlangsung.
Selamat jalan Rismon, sesungguhnya hidup ini bukan pilihan, karena Allah SWT telah menunjukan jalan yang diridai. Ingat, kekecewaan akan menghampiri Anda ketika berani memalingkan wajah kepada selain Allah SWT.
Akhir kata untuk Rismon, sebesar apa pun kejahatan, tidak akan pernah bisa kuasa, tetapi sekecil apa pun kebaikan tidak akan pernah bisa binasa.*
