Jumat, 06 Maret 2026
Menu

ICMI Beri Saran Indonesia Tangguhkan Kewajiban Keanggotaan BoP Bersyarat

Redaksi
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Inaugural Meeting Board of Peace yang digelar di Donald Trump United States Institute of Peace, Washington, D.C., Amerika Serikat, Kamis, 19 Februari 2026. | Dok BPMI Setpres/Cahyo
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Inaugural Meeting Board of Peace yang digelar di Donald Trump United States Institute of Peace, Washington, D.C., Amerika Serikat, Kamis, 19 Februari 2026. | Dok BPMI Setpres/Cahyo
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Jimly Asshiddiqie, menyarankan agar pemerintah Indonesia menangguhkan kewajiban keanggotaan di Board of Peace (BoP) setelah serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran.

Jimly menyatakan bahwa penangguhan tersebut dilakukan secara bersyarat, yaitu ditangguhkan hingga dua syarat yang diminta RI terpenuhi.

Ia menegaskan penangguhan yang dirinya maksud bukanlah membawa Indonesia mundur dari sana.

“Misalnya yang BoP itu kita menyatakan menangguhkan kewajiban keanggotaan kita sampai dua hal. Satu, sampai perang Iran versus Amerika dan Israel ini reda. Yang kedua, sampai ada kepastian jadwal pengakuan Israel kepada kemerdekaan Palestina. Nah, kalau sudah ada kepastian, nah baru kita aktif lagi,” kata Jimly di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 5/3/2026.

Hubungan Indonesia, lanjutnya, dengan Amerika Serikat berjalan sangat baik selama ini. Jimly pun menyinggung telah ada dua langkah Indonesia yang membuat AS senang atas peranan Indonesia.

“Jadi saya rasa ada dua ini yang membuat Donald Trump sangat gembira dengan peranan Indonesia. Satu, BOP yang sudah lebih dulu, dan yang kedua tarif,” tuturnya.

Jimly menjelaskan dengan perkembangan eskalasi yang memanas di Kawasan Timur Tengah, tidak ada salahnya untuk mengurangi salah satu dari dua hal itu. Dikarenakan saat ini sudah ada banyak kritik yang dilayangkan kepada Board of Peace akibat serangan AS-Israel ke Iran.

“Jadi karena perubahan dan perkembangan baru ini, saya rasa dua hal yang membuat Donald Trump senang sekali sama Indonesia itu kan bisa kita kurangi separuh,” pungkasnya. *