Kamis, 05 Februari 2026
Menu

Kontra Narasi Gelar UKW: Tekankan Peran Pers sebagai Pilar Demokrasi dan Supremasi Sipil di Era Digital

Redaksi
Kontra Narasi Gelar kegiatan UKW dan Penguatan Kapasitas Jurnalis dalam Produk Digital dan Kreator Konten di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis, 5/2/2026 | Muhammad Reza/Forum Keadilan
Kontra Narasi Gelar kegiatan UKW dan Penguatan Kapasitas Jurnalis dalam Produk Digital dan Kreator Konten di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis, 5/2/2026 | Muhammad Reza/Forum Keadilan
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Komunitas Kontra Narasi menggelar kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan Penguatan Kapasitas Jurnalis dalam Produk Digital dan Kreator Konten yang berlangsung selama dua hari, Kamis sampai Jumat, 5–6 Februari 2026, di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta Selatan.

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 150 peserta dari berbagai latar belakang jurnalis dan pegiat media. Pada hari pertama, agenda diisi dengan seminar pra-acara, sementara hari kedua difokuskan pada pelatihan teknis peningkatan kapasitas jurnalis.

Founder Kontra Narasi Sandri Rumanama dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran pers sebagai salah satu pilar utama demokrasi. Menurut dia, kebebasan pers merupakan fondasi penting dalam menjaga ruang publik yang sehat dan terbuka.

“Pers adalah pilar demokrasi. Ketika pers dibungkam, itu menjadi tanda bahaya bagi demokrasi. Kita bisa melihat di berbagai negara, ketika kebebasan pers dipersempit, yang terancam bukan hanya media, tetapi juga hak publik untuk mendapatkan informasi,” ujar Sandri di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta, Kamis, 5/2/2026.

Ia menambahkan, keberadaan pers yang independen berperan sebagai pengawas kekuasaan sekaligus penyampai aspirasi masyarakat. Oleh karena itu, menjaga kebebasan pers berarti juga menjaga kualitas demokrasi itu sendiri.

Selain soal kebebasan pers, Sandri juga menyoroti pentingnya supremasi sipil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut dia, jurnalisme yang kuat dan profesional berkontribusi besar dalam memastikan bahwa prinsip-prinsip sipil tetap menjadi rujukan utama dalam tata kelola negara.

“Supremasi sipil tidak bisa dilepaskan dari peran pers. Media yang kritis, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik akan membantu memastikan bahwa kekuasaan berjalan dalam koridor hukum dan demokrasi,” kata Sandri.

Melalui kegiatan ini, Kontra Narasi berharap para jurnalis dapat terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, khususnya di era digital. Sandri menilai, jurnalis saat ini tidak cukup hanya menguasai kemampuan menulis, tetapi juga perlu memahami produksi konten digital lintas platform.

“Tren informasi sekarang bergerak kuat ke arah audio visual. Karena itu, jurnalis perlu memiliki kemampuan tambahan sebagai kreator konten, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik,” ujarnya.

Pada sesi pelatihan, para peserta dibekali keterampilan produksi konten digital, termasuk pengolahan audio visual dan strategi penyajian informasi di platform digital.

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas jurnalis agar mampu menjangkau audiens yang lebih luas dengan format yang relevan,” tandas Sandri.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah pemateri dari berbagai institusi, antara lain TVRI, Komisi Informasi Pusat, serta perwakilan dari Humas Polri. Para pemateri membagikan pengalaman dan perspektif terkait jurnalisme, keterbukaan informasi publik, serta tantangan komunikasi di era digital.

Kontra Narasi berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang penguatan kapasitas sekaligus refleksi bagi jurnalis dalam menghadapi tantangan kebebasan pers dan transformasi media di tengah dinamika demokrasi saat ini.*

Laporan oleh: Muhammad Reza