Jumat, 15 Mei 2026
Menu

Soal Jokowi Mati-matian Bela PSI, Pengamat Nilai Ibarat Botol Ketemu Tutup

Redaksi
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam Rakernas PSI, di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 31/1/2026 | YouTube Partai Solidaritas Indonesia
Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dalam Rakernas PSI, di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 31/1/2026 | YouTube Partai Solidaritas Indonesia
Bagikan:

FORUM KEADILAN – Pengamat Politik UPN Veteran Jakarta Ardli Johan Kusuma menilai, pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang siap bekerja mati-matian memenangkan PSI menunjukan upaya menjaga eksistensi dan pengaruh politiknya.

Menurut Ardli, sikap tersebut wajar mengingat Jokowi kini sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden dan tidak memiliki kendaraan politik formal setelah hubungannya dengan PDI Perjuangan berakhir.

“Pernyataan Jokowi mempertegas bahwa dia tetap ingin menjaga pengaruh politiknya pasca-kepresidenan. Ini juga tidak bisa dilepaskan dari kepentingan menyokong posisi dua anaknya, yakni Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden serta Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI,” ujar Ardli kepada Forum Keadilan, Senin, 2/2/2026.

Ia menilai, hubungan antara Jokowi dan PSI saat ini ibarat ‘botol ketemu tutup’. Di satu sisi, PSI selama ini dinilai belum mampu menunjukkan kinerja elektoral yang signifikan, salah satunya karena minimnya figur tokoh internal partai yang memiliki daya tarik luas di tingkat nasional.

Di sisi lain, Jokowi membutuhkan kendaraan politik baru setelah tidak lagi bernaung di PDI Perjuangan.

“PSI dan Jokowi ibarat botol ketemu tutup. PSI membutuhkan figur kuat untuk mendongkrak elektabilitas, sementara Jokowi membutuhkan partai sebagai sarana mempertahankan pengaruh politiknya,” jelasnya.

Meski demikian, Ardli menilai, dukungan terbuka Jokowi belum tentu secara otomatis mampu meningkatkan elektabilitas PSI.

Ia mengingatkan bahwa pada pemilu sebelumnya, PSI juga telah menjual figur Jokowi, namun hasil elektoral yang dicapai masih jauh dari harapan.

“Pertanyaan menariknya adalah apakah pernyataan Jokowi kali ini benar-benar akan berdampak signifikan terhadap elektabilitas PSI. Pada pemilu lalu, nama Jokowi sudah digunakan, tetapi PSI tetap gagal menembus ambang batas parlemen,” kata Ardli.

Oleh karena itu, menurutnya, publik akan menunggu pembuktian pada Pemilu 2029 mendatang, sekaligus menguji sejauh mana kekuatan pengaruh politik Jokowi di tengah masyarakat.

“Justru publik dibuat penasaran dan pembuktiannya nanti di 2029 apakah Jokowi masih seberpengaruh itu dalam masyarakat,” pungkasnya.

Sebelumnya, Jokowi menyampaikan hal tersebut saat memberikan arahan dalam Rakernas PSI, di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 31/1. Jokowi menyatakan siap datang jika diperlukan.

“Kalau diperlukan saya harus datang, saya masih sanggup. Saya masih sanggup datang ke provinsi-provinsi, semua provinsi. Saya masih sanggup datang ke kabupaten/kota, kalau perlu sampai ke kecamatan, saya masih sanggup,” tegas Jokowi.

Jokowi mengatakan, PSI memerlukan jajaran pengurus yang militan. Jokowi pun siap bekerja keras dan mati-matian untuk PSI.

“Saudara-saudara bekerja keras untuk PSI, saya pun akan bekerja keras untuk PSI. Saudara-saudara bekerja mati-matian untuk PSI, saya pun akan bekerja keras, bekerja mati-matian untuk PSI. Saudara-saudara bekerja habis-habisan untuk PSI, saya pun akan bekerja habis-habisan untuk PSI,” ucap Jokowi dengan suara lantang.*

Laporan oleh: Muhammad Reza